Kenapa Orang Menghina, Merusak, Membunuh …

9 September 2021 § Leave a comment


Dalam, “Kimiya’ al-Sa’adah”, Imam al-Ghazali menyebut ada tiga potensi dalam diri manusia: “quwwah al-ghadhab” (potensi marah), “quwwah al-syahwat” (potensi syahwat), “quwwah al-‘ilm” (potensi ilmu).

Ketiganya merupakan potensi alamiah manusia. Produk bawaan. Secara umum, manusia memiliki. Porsi masing-masing saja yang berbeda.

Secara ideal, potensi-potensi tersebut, terutama “quwwah al-ghadhab” dan “quwwah al-syahwat”, harus berada dalam porsi moderat. Tengah-tengah. Tidak lebih, tidak kurang. Pas.

« Read the rest of this entry »

Riyadin Kupat; Kupatan; Lebaran Ketupat

20 May 2021 § Leave a comment


Seminggu setelah Idul Fitri, sebagian masyarakat Jawa merayakan Riyadin Kupat. Kupatan. Lebaran Ketupat.

Perayaannya sederhana saja. Orang-orang datang ke masjid. Masing-masing bawa berkat isi ketupat dan lepet ditemani sayur lodeh–karena inilah penyebutan “Lebaran Ketupat”–dan dikumpulkan di tengah-tengah. Ceramah singkat, tahlil, dan pembagian berkat. Setiap orang tidak tahu, berkat ketupat yang dia dapat bikinan siapa.

« Read the rest of this entry »

Hari Raya dalam Islam

16 May 2021 § Leave a comment


ليس العيد لمن لبس الجديد إنما العيد لمن طاعاته تزيد

ليس العيد لمن تجمل باللباس والركوب إنما العيد لمن غفرت له الذنوب

Kurang-lebih, kutipan di atas bisa dipahami begini:

“Hari raya itu bukanlah saat seseorang mengenakan baju baru. Hari raya adalah saat ketaatan seseorang bertambah maju. Hari raya bukanlah saat seseorang bagus-bagusan pakaian dan kendaraan. Hari raya adalah saat seseorang diampuni kesalahan-kesalahan.”

« Read the rest of this entry »

Jangan Mencaci Orang yang Sudah Mati

9 February 2021 § Leave a comment


لا تسبوا الأموات فإنهم قد أفضوا إلى ما قدّموا

“Jangan mencaci orang-orang yang sudah mati. Sebab, mereka sudah sampai di fase untuk menerima ganjaran perilaku baik dan balasan perilaku buruk saat di dunia.”

« Read the rest of this entry »

Mengaku Melihat Nabi, Padahal Yang Dilihat Setan

17 December 2020 § Leave a comment


“Banyak orang melihat sosok yang mereka sangka sebagai Nabi atau orang saleh atau Khidir, padahal sosok tersebut setan.”

Demikian kata Ibnu Taimiyah dalam “Majmu al-Fatawa”.

« Read the rest of this entry »

Imam Besar Umat Islam Indonesia

5 November 2020 § Leave a comment


Setelah sekian lama tinggal di negeri orang,

ditentukan sudah tanggal kapan pulang.

Dekat dengan Nabi jiwa-raga di sana

tapi di sini adalah negeri tercinta.

Sebab, tak ada yang lebih dekat di hati

« Read the rest of this entry »

Hukum Memperingati Maulid Nabi

29 October 2020 § Leave a comment


Dalam sudut pandang kaidah fikih, ushul fikih, dan fikih

Dawuh Kanjeng Nabi,

ما أحل الله فهو حلال وما حرم الله فهو حرام وما سكت عنه فهو عفو فاقبلوا من الله عافيته فإن الله لم يكن لينسى شيئا

“Apa yang dihalakan oleh Allah maka halal. Apa yang diharamkan oleh Allah maka haram. Apa yang didiamkan oleh Allah, itu adalah ampunan (afwun). Terimalah pengampunan Allah. Sebab, Allah benar-benar tidak lupa sama sekali (Hadis hasan, riwayat al-Bazzar dan al-Thabrani).

« Read the rest of this entry »

Arti “Idul Fitri” Bukan “Kembali ke Fitrah”

21 May 2020 § Leave a comment


Cukup sering kita dengar orang mengatakan “Idul Fitri” artinya “kembali ke fitrah”, “kembali suci”, “kembali bersih”, atau makna lain yang serupa.

Tapi, tepatkah arti itu?

Memang, apa sebenarnya arti kata “idul fitri”?

« Read the rest of this entry »

Membela Mualaf

27 January 2020 § Leave a comment


Dalam Akhbar al-Dziraf wa al-Mutamajinin dan Akhbar al-Adzkiya’, Ibnu al-Jauzi (597 H) mengutip cerita seorang Yahudi bernama Harun yang pindah agama. Memeluk Islam. Jadi mualaf. Setelah memeluk Islam, Harun si mantan Yahudi yang sebelah matanya buta ini menghafal Al-Quran dan menguasai ilmu nahwu. Dia berislam dengan « Read the rest of this entry »

Hadis Tasyabbuh

31 December 2019 § Leave a comment


Di masyarakat kita, setidaknya ada dua nas agama—dalam konteks ini, hadis Nabi—yang popularitasnya meningkat pada momen-momen tertentu. Yang pertama, hadis إن الله وتر يحب الوتر . Kerap diterjemahkan “Allah itu ganjil. Dia menyukai ganjil”. “Ganjil” di situ bukan berarti “aneh”, melainkan “gasal”, lawan kata “genap”. Hadis ini biasa segera populer pada momen pilpres, terutama terkait nomor urut pasangan capres-cawapres. Sebagian oknum pendukung capres dan cawapres bernomor urut ganjil akan menjadikan hadis itu sebagai seolah-olah legitimasi keagamaan bahwa pasangan capres-cawapresnya adalah yang diridai Tuhan. (Anda bisa membaca penjelasan hadis itu di sini. Silakan klik).

Yang kedua, hadis yang dikenal dengan “hadis tasyabbuh”. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Nalar category at Warung Nalar.

%d bloggers like this: