“Waktu di Mana”, “Momen di Mana”


  • Waktu-waktu di Mana Wanita Paling Sering Palsukan Orgasme. (detik dot com)
  • Kami menentukan waktu di mana anak-anak tak boleh menatap layar gadget. (Kompas dot com)
  • Selain itu, jika si astronot memilih melaksanakan ibadah puasa di luar angkasa, ia harus menggunakan waktu di mana astronot tersebut diterbangkan ke luar angkasa.  (tirto dot id)
  • Musim panas 2017 menjadi waktu di mana hati-hati yang gelisah memilih untuk tidak berdiam lagi di tempat yang sama. (kumparan dot com)

Continue reading ““Waktu di Mana”, “Momen di Mana””

Advertisements

“Hukumullah” dan “Haur Uljanati”


hukumllah dan haur

Jika Anda belum tahu: “hukumullah” dan “haur uljanati” adalah dua kata bahasa Indonesia—sudah dimasukkan ke KBBI—yang merupakan serapan dari bahasa Arab. “Hukumullah” untuk arti “hukum Allah”, “hukum Tuhan”, dan “haur uljanati” untuk maksud “bidadari surga”. Continue reading ““Hukumullah” dan “Haur Uljanati””

Ibunda Aisyah Merayakan Lebaran Sambil Berdendang


Kenapa “hari raya” disebut “al-‘Id”? Saya sarikan beberapa poin dari lema عود  di kitab kamus Lisan al-‘Arab  karya Ibnu al-Mandzur.

  • Innama al-‘id ma ‘ada ilaika min al-syauq wa al-maradh wa nahwihi. Al-‘id adalah kembalinya rasa rindu, atau sakit, atau sebagainya.
  • Al-‘id ma ya’tadu min naubin wa syquqin wa hammin wa nahwihi. Al-‘id adalah musibah, atau rasa rindu, atau penderitaan, atau sebagainya yang telah biasa datang.
  • Al-‘id ‘inda al-‘arab al-waqt alladzi ya’udu fihi al-farahu wa al-hazanu. Bagi orang Arab, al-‘id adalah istilah untuk menyebut waktu saat kebahagiaan atau kesedihan datang lagi.
  • Al-‘Id kullu yaumin fihi jam’un. Wa istiqaquhu min ‘ada-ya’udu. Ka annahum ‘adu ilaihi. Wa qila isytiqaquhu min al-‘adah, liannahum i’taduhu.“Hari raya” (al-‘id) adalah tiap-tiap hari ketika ada kumpul-kumpul. Akar kata al-‘id adalah ‘ada-ya’udu, yang berarti “perihal kembali”. Seakan memberikan makna “orang-orang akan kembali ke hari itu untuk berkumpul”. Ada yang mengatakan, akar kata al-‘id adalah al-‘adah, yang berarti “tradisi”, “kebiasaan”. Sebab, “masyarakat menjadikan hari itu sebagai tradisi”.
  • Sumiya al-‘id ‘idan liannahu ya’udu kulla sanatin bifarahin mujaddadin. Hari raya disebut al-‘idsebab ia selalu kembali setiap tahun dengan membawa kebahagiaan baru.

Continue reading “Ibunda Aisyah Merayakan Lebaran Sambil Berdendang”

Dunia Ibarat Perempuan atau Ibarat Cermin?


Ada ungkapan Arab yang jika ditulis teks Arabnya begini:

الدنيا كالمراة: ابتسم لها، تبتسم لك

Kata kedua ungkapan itu bisa dibaca al-mar’ah (ka al-mar’ah), bisa juga al-mir’ah (ka al-mir’ah).

Jika dibaca al-mar’ah (artinya “perempuan”), alif di kata itu diberi tanda baca begini: المرأة. Maka, arti pepatah itu: Dunia ibarat perempuan; tersenyumlah kepadanya, ia akan tersenyum kepadamu.

Jika dibaca al-mir’ah (artinya “cermin”), alif di kata itu diberi tanda baca begini: المرآة. Hamzah di situ dibaca panjang (dalam ilmu tajwid disebut Continue reading “Dunia Ibarat Perempuan atau Ibarat Cermin?”

Kenapa Dinamai “Nahdlatul Ulama”, bukan “Nuhudlul Ulama”.


Kata “nahdlatul” (nahdlah) dalam “Nahdlatul Ulama” adalah isim masdar dari kata “nahadla” yang berarti “qiyam” atau “rising” atau “bangkit”. Ada isim masdar lain dari kata “nahadla“, yaitu “nuhudl“.

Lalu, kenapa para ulama pendiri Nahdlatul Ulama memilih diksi “nahdla” (“nadlatul“) untuk nama organisasinya itu? Kenapa Continue reading “Kenapa Dinamai “Nahdlatul Ulama”, bukan “Nuhudlul Ulama”.”