Daging Ulama Itu Beracun


Dalam “al-Tibyan“, Imam al-Nawawi (w. 676 H) menukil pernyataan Imam Ibn Asakir (w. 571 H):

اعلم يا أخي وفقنا الله وإياك لمرضاته، وجعلنا ممن يخشاه ويتقيه حق تقاته، أن لحوم العلماء مسمومة، وعادة الله في هتك أستار منتقصيهم معلومة، وأن من أطلق لسانه في العلماء بالثلب ابتلاه الله تعالى قبل موته بموت القلب. Continue reading “Daging Ulama Itu Beracun”

Malaikat Sebagai Anekdot


Dalam literatur klasik tasawuf, khususnya dalam fragmen cerita para nabi atau wali, kenapa malaikat-malaikat kadang digambarkan “sangat profan”, “biasa saja”, “sangat akrab”? Dalam hal ini, Munkar-Nakir dan Malakul Maut Izrail paling banyak menjadi bahan cerita.

Dalam Ihya Ulumiddin, Imam al-Ghazali mengutip kisah tentang Nabi Ibrahim didatangi Malakul Maut yang hendak mencabut nyawa sang Nabi. Tanggapan Nabi Ibrahim kepada malaikat pencabut nyawa itu? Continue reading “Malaikat Sebagai Anekdot”

Ketimbang di Dapur, Barangkali Risiko Bisa Lebih Kecil Jika Ia Dibicarakan di Kasur


Seorang suami mendekati istrinya yang sedang di dapur.

“Siapa yang paling kaucintai dari keempat anakmu?” tanya si suami.

“Semuanya,” jawab istri.

Suami bertanya lagi, “Bagaimana bisa hatimu menampung semuanya?”

Istri menjawab, Continue reading “Ketimbang di Dapur, Barangkali Risiko Bisa Lebih Kecil Jika Ia Dibicarakan di Kasur”

Menjadi Sufi di Media Sosial


Dalam kitab alRisalah al-Qusyairiyyah fi ‘Ilm al-Tashawwuf, sang penulis, Imam al-Qusyairi, menyitir kata-kata Junaid al-Baghdadi tentang makna sufi di “Bab al-Tashawwuf”.

الصوفي كالأرض: يطرح عليها كل قبيح ولا يخرج منها إلا كل مليح

إنه كالأرض: يطؤها البر والفاجر وكالسحاب يظل كل شيئ والقطر يسقى كل شيئ

Continue reading “Menjadi Sufi di Media Sosial”