Idul Adha; Takbiran dan Hukum Takbiran Berjamaah; Hari Tasyriq; Kurban; Bolehkah Seseorang Minta Bagian Daging Kurbannya?

6 July 2022 § Leave a comment


IDUL ADHA

Sebelum Nabi Muhammad datang ke Madinah, masyarakat Madinah sudah punya dua hari raya, bernama Nairuz dan Mihrajan. Agaknya, keduanya tradisi dari negeri Persia.

Hari raya Nairuz (dari bahasa Persia, “Nuruz”) diadakan pada awal tahun dalam kalender matahari. Di Persia pada masanya, hari raya ini diadakan bertepatan pada awal musim semi.

Sementara, hari raya Mihrajan (dari bahasa Persia, “mihr” dan “jan”. “Mihr” artinya “matahari”, “jan” artinya “hidup” atau “ruh) ini kebalikan Nairuz, diadakan pada musim gugur.

Musim semi dan musim gugur dipilih sebagai pelaksanaan hari raya sebab, pada masa-masa itu, cuaca cukup bersahabat. Tidak panas, juga tidak dingin.

Sampai kemudian Nabi Muhammad datang dan mengganti dua hari raya itu.

إن الله قد أبدلكم بهما خيرا منهما يوم الأضحى ويوم الفطر (رواه أبو داود وأحمد)

“Allah telah mengganti Nairuz dan Mihrajan dengan yang lebih baik: Hari Raya Kurban dan Hari Raya Fitri.”

Dua hari raya Nairuz dan Mihrajan yang diadakan sekadar untuk senang-senang yang hampa makna diganti dengan dua hari raya yang sarat makna. Idul Adha dan Idul Fitri. Hari raya yang bukan sekadar ekspresi kesenangan dan kegembiraan, melainkan juga ungkapan ketaatan.

Idul Adha dan Idul Fitri adalah penanda dari ketaatan yang telah khatam dan lengkap.

Idul Fitri penanda khatamnya rangkaian puasa Ramadan. Idul Adha penanda lengkapnya prosesi ibadah haji.

Idul Adha berada dalam musim haji. Pada musim ini, sebagian umat muslim melaksanakan ibadah haji. Yang tidak berhaji, mengisi hari-hari musim haji dengan ibadah-ibadah sunah, seperti puasa Arafah, takbiran, shalat id, dan berkurban.

Karena itu, meski Idul Adha penanda selesainya prosesi haji, namun ia hari raya semua umat Islam. Yang berhaji maupun tidak.

TAKBIRAN

Takbiran disunahkan pada momentum Idul Fitri dan Idul Adha.

Takbiran Idul Fitri dimulai setelah masuk waktu maghrib tanggal 1 Syawal dan berakhir saat imam memulai takbir shalat id. Pendek saja waktunya. Semalaman saja gitulah.  Tempatnya boleh di mana saja. Di rumah, masjid atau mushala, di jalan-jalan, di mana-mana ….

Sedangkan masa takbiran Idul Adha lebih panjang, yaitu sejak bakda shalat subuh tanggal sembilan Dzulhijjah (hari Arafah) sampai bakda shalat Asar di akhir hari Tasyriq (tanggal 13 Dzulhijjah).

Ada ketentuan untuk takbiran Idul Adha ini, yaitu yang disebut takbiran “mursal” dan takbiran “muqayyad”.

Takbiran “mursal” adalah takbiran yang dilakukan setelah masuk waktu maghrib sampai imam memulai shalat id—sama seperti takbiran Idul Fitri. Disebut “mursal” (harfiah: dibebaskan) sebab orang bebas takbiran di mana saja dan kapan saja di sepanjang waktu tersebut.

Sedangkan takbiran “muqayyad” adalah takbiran yang dilakukan setiap bakda shalat fardu, yaitu dimulai sejak bakda shalat subuh tanggal sembilan Dzulhijjah (hari Arafah) dan berakhir bakda shalat Asar di akhir hari tasyriq (tanggal 13 Dzulhijjah). Disebut “muqayyad” (harfiah: dibatasi) sebab takbiran dibatasi hanya setelah shalat fardu (sebagai wirid setelah shalat fardu).

Jadi, takbiran “mursal” disunahkan saat Idul Fitri dan Idul Adha. Sedangkan takbiran “muqayyad” disunahkan hanya pada masa-masa Idul Adha.

DALIL TAKBIRAN

Dalam Alquran, Allah berfirman,

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Hendaklah kalian cukupkan bilangan puasa Ramadan. Dan takbiranlah atas hidayah Allah yang diberikan kepada kalian. Semoga kalian bersyukur kepada Allah untuk hal tersebut.” (al-Baqarah: 185).

Ayat tersebut tentang takbiran (mursal) Idul Fitri. Dan takbiran Idul Adha di-qiyas-kan kepada takbiran Idul Fitri tersebut.

Sedangkan dalil spesifik untuk takbiran (muqayyad) Idul Adha adalah riwayat al-Hakim dalam “al-Mustadrak”,

عَنْ عَلِيٍّ وَعَمَّارٍأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَجْهَرُ فِي الْمَكْتُوبَاتِ بِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ وَكَانَ يَقْنُتُ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ وَكَانَ يُكَبِّرُ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ صَلَاةَ الْغَدَاةِ وَيَقْطَعُهَا صَلَاةَ الْعَصْرِ آخِرَ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ

“Nabi (shallallahu alaihi wasalam) mengeraskan bacaan basmallah dalam shalat fardu; membaca doa qunut dalam shalat Subuh; takbiran sejak shalat subuh hari Arafah dan berhenti bakda shalat Asar di akhir hari tasyriq.”

Takbiran bisa dilakukan sendiri-sendiri maupun bareng-bareng. Berjamaah. Hukumnya sunah. Seperti yang dilakukan Rasulullah bersama para sahabat sepanjang perjalanan menuju tempat shalat id. Dengan suara keras, Rasulullah membaca takbir-tahlil bersama Fadhl bin Abbas, Abdullah bin Abbas, al-Abbas, Ali, Ja’far, al-Hasan, al-Husein, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Aiman bin Ummi Aiman.

عَنْ نَافِعٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ فِي الْعِيدَيْنِ مَعَ الْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ، وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ، وَالْعَبَّاسِ، وَعَلِيٍّ، وَجَعْفَرٍ، وَالْحَسَنِ، وَالْحُسَيْنِ، وَأُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ، وَزِيدِ بْنِ حَارِثَةَ، وَأَيْمَنَ ابْنِ أُمِّ أَيْمَنَ، رَافِعًا صَوْتَهُ بِالتَّهْلِيلِ، وَالتَّكْبِيرِ، فَيَأْخُذُ طَرِيقَ الْحَدَّادِينَ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّ (صحيح ابن خزيمة).

Suatu saat, di Mina, Umar bin Khathab takbiran di dalam tendanya dan didengar oleh orang-orang yang sedang di masjid. Mereka pun ikut takbiran. Takbiran mereka terdengar oleh orang-orang di pasar. Orang-orang pasar pun ikut takbiran. Sampai-sampai Mina bergemuruh oleh takbiran.

وَكَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى، فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ الْمَسْجِدِ فَيُكَبِّرُونَ، ويكبر أهل الأسواق حتى ترتج مِنًى تَكْبِيرًا (رواه البخاري في صحيحه)

HARI TASYRIQ

“Hari Tasyriq” biasa diartikan tiga hari setelah Idul Adha. Tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

Kenapa disebut “tasyriq”? Dari mana kata itu diambil untuk kemudian dijadikan istilah khusus?

Dalam “Fath al-Bari”, Ibnu Hajar mengutip pendapat-pendapat tentang asal-usul nama “Hari Tasysriq”. Di antaranya,

Kata “tasyriq” artinya “memotong-motong daging dan menjemurnya”. Sebab, pada Hari Tasyriq, orang-orang mendapatkan daging kurban, memotong-motongnya, dan menjemurnya.

أَنَّهُمْ كَانُوا يُشَرِّقُونَ فِيهَا لُحُومَ الْأَضَاحِيِّ أَيْ يُقَدِّدُونَهَا وَيُبْرِزُونَهَا لِلشَّمْسِ

Anda, orang Indonesia, menyebutnya “dendeng”.

Kata “tasyriq” seakar kata dengan “syarq/syuruq” yang artinya “terbit”. Sebab, shalat Id [Adha] hanya bisa dilaksanakan setelah matahari terbit.

سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِأَنَّ صَلَاةَ الْعِيدِ إِنَّمَا تُصَلَّى بَعْدَ أَنْ تُشْرِقَ الشَّمْس

Dan, sebab hewan kurban hanya bisa disembelih setelah matahari terbit.

سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِأَنَّ الْهَدَايَا وَالضَّحَايَا لَا تُنْحَرُ حَتَّى تُشْرِقَ الشَّمْسُ

Menurut Ibnu Hajar, semua pendapat tentang asal mula hari Tasyriq tersebut menunjukkan bahwa Idul Adha juga bagian dari Hari Tasyriq.

Pada Hari Tasyriq itulah kurban dilakukan. Dan, pada hari-hari itu pula, seseorang haram berpuasa.

Jadi, ada lima hari yang mutlak haram untuk berpuasa: Idul Fitri, Idul Adha, dan tiga hari Tasyriq.

KURBAN

اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Sesungguhnya Kami telah memberimu (Nabi Muhammad) nikmat yang banyak. Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!” (al-Kautsar: 1-2).

Para ahli tafsir memaknai, “shalat” di situ adalah shalat id dan “kurban” adalah kurban dalam Idul Adha.

Sudah mafhum, kurban itu sunah. Dan, hanya bisa dengan unta atau sapi atau kambing. Sapi atau unta bisa untuk tujuh orang, kambing hanya untuk satu orang.

Nabi berkorban dua kambing kibas berwarna putih dan bertanduk. Beliau sembelih sendiri dengan membaca basmallah dan takbir.

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا (رواه مسلم)

Dan, pada tahun Hudaibiyyah, Nabi bersama sahabat menyembelih unta untuk tujuh orang dan menyembelih sapi juga untuk tujuh orang.

عَنْ ‌جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْحُدَيْبِيَةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ (رواه مسلم)

Sementara, Abu Bakar dan Umar tidak berkurban untuk menegaskan bahwa kurban bukan kewajiban. Mereka khawatir, jika mereka berkurban, nanti bakal ada anggapan kurban itu wajib.

KURBAN YANG PALING BAIK

Kurban unta lebih baik daripada kurban sapi, sebab ukuran unta lebih besar.

Kurban sapi lebih baik ketimbang kurban kambing.

Kurban kambing kibas lebih baik daripada kurban kambing kajang (Fyi: Kambing kibas berbulu ikal kayak Shaun the Sheep itu lho—domba, biri-biri. Kambing kajang berbulu lurus).

Kurban kambing lebih baik ketimbang kurban sapi bareng tujuh orang.

Demikian, dinyatakan oleh Imam al-Syairazi.

Perbandingan itu jika Anda memiliki kemampuan untuk memilih. Maka, pilih kurban terbaik sesuai kemampuan.

Dan, jelas, Indonesia bukan habitat unta. Jadi, Anda hampir mustahil kurban unta di sini.

BOLEHKAH SESEORANG MINTA BAGIAN DAGING KURBANNYA?

Jika kurban nadzar maka Anda tidak boleh mendapatkan bagian sedikit pun. Harus disedekahkan semuanya. Jika, misal, Anda mendapatkannya kemudian habis Anda manfaatkan maka Anda mesti menggantinya dengan nilai yang sepadan.

Anda boleh mendapatkan daging kurban Anda jika itu kurban sunah.

Berapa bagiannya?

Boleh sepertiga, boleh setengah. Semakin sedikit bagian Anda sebagai orang yang kurban, semakin baik. Sebab, akan lebih banyak daging yang Anda sedekahkan kepada orang yang lebih butuh.

Yang jelas, daging kurban wajib disedekahkan. Tapi, Anda boleh minta bagian daging urban Anda.

Yang paling baik adalah Anda meminta sedikit saja. Sepotong kecil saja. Sekadar sebagai formalitas ngalap berkah dari kurban Anda. Selebihnya, sedekahkan.

Demikian, lebih-kurang, menurut Imam al-Nawawi.

Wallahu a’lam.

***

Referensi

  • Al-Umm (al-Syafii)
  • Al-Muhadzab (al-Syairazi)
  • Lathaif al-Ma’arif (Ibnu Rajab al-Hanbali)
  • Al-Minhaj (al-Nawawi)
  • Aunul Ma’bud (Abu Thayyib Abadi)
  • Fathul Wahab (Zakaria al-Anshari)
  • Fath al-Bari (Ibnu Hajar al-Ashqalani)
  • Fathul Muin (al-Malibari)
  • Qut al-Habib al-Gharib/Tausyikh (Nawawi al-Jawi/Syekh Nawawi)
  • Al-Tadzhib fi Adillah Matn al-Ghayah wa al-Taqrib (Musthafa Dib al-Bigha)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Idul Adha; Takbiran dan Hukum Takbiran Berjamaah; Hari Tasyriq; Kurban; Bolehkah Seseorang Minta Bagian Daging Kurbannya? at Warung Nalar.

meta

%d bloggers like this: