Istidraj

15 April 2022 § Leave a comment


Bahas ini tu rawan penghakiman. Rawan jadi angkuh. Rawan merendahkan orang.

Tapi, banyak poin.

▪︎ RAHMAT TUHAN

Allah itu rahman dan rahim. Seperti yang sering Anda baca dalam basmallah. Bismillahir rahmanir rahim.

Di pesantren, “rahman” biasanya dimaknani “kang moho welas ingdalem dunyo”.

Apa artinya?

Semua makhluk Tuhan: manusia, hewan, tumbuhan, semuanya … Manusia diperinci lagi: manusia yang percaya Tuhan maupun pengabdi setan … Manusia percaya Tuhan diperinci lagi: misal, kaum muslim maupun nonmuslim … Kaum muslim diperinci lagi: muslim rajin puasa-shalat maupun muslim rajin maksiat … Orang taat maupun orang bejat … Semuanya ….

Pokoknya, selama masih hidup di dunia ini, semua makhluk itu dirahmati Tuhan. Dikasihi Tuhan.

Apa contohnya?

Ya hidup ini dan segala penunjangnya.

Kehidupan Anda, manusia, dari golongan manapun seperti di atas itu, bagi kaum beriman, itu bagian dari rahmat Tuhan.

Jadi, itu bisa jadi jawaban kenapa “yang kerjaannya mabok, sex bebas, dan gak nutup aurat rejekinya selalu ada”. Ya, sebab, bisa jadi mereka menjemput rahmat-Tuhan dengan cara mereka.

Sementara, Anda yang “di rumah terus, nutup aurat, dan selalu sholat, bahkan zikir, rejekinya susah banget” bisa jadi Anda gak menjemput rahmat Tuhan. Jika Anda pengin dapat rezeki kayak mereka, ya lakukan cara-cara mendapat rezeki, mau dengan cara mereka atau cara Anda sendiri.

Atau, mungkin, Anda yang nutup aurat dst tapi merasa rezeki Anda susah itu bisa jadi karena Anda gak bisa aja melihat rezeki dan rahmat Tuhan yang sebenarnya melimpah dalam diri Anda.

(Nanti ada poin beda antara “rizqun”/rezeki dan “fadhlun”).

Selama masih dunia, semua makhuk dikasih hidup dan dikasih makan oleh Tuhan. Sama. Porsinya aja yang mungkin beda. Tinggal jalankan sunnatullahnya saja untuk mendapatkannya.

Itulah kira-kira makna “rahman”. Maha Pengasih di dunia ini.

Sementara, “rahim” biasa dimaknani “kang moho welas ingdalem akhirat”. Maha Pengasih di akhirat nanti.

Apa artinya?

Dunia adalah tempat rahmat. Di antara bentuk rahmat, terutama manusia, diberi kesempatan yang sama berbuat baik dengan ragam level kebaikan yang bisa dilakukan sesuai kemampuan.

Sementara, akhirat adalah tempat akibat: rahmat di akhirat nanti hanya untuk orang yang menjalankan kebaikan-kebaikan ajaran Tuhan selama di dunia ini.

Di dunia, Tuhan merahmati dan mengasihi semua orang, bahkan semua makhluk.

Di akhirat, Tuhan merahmati dan mengasihi hanya orang baik ketika di dunia.

Begitu kira-kira makna “rahman” dan “rahim”.

▪︎ REZEKI

Saya terkesan sekali dengan penjelasan Gus Qoyum Lasem tentang perbedaan “rizqun” dan “fahdlun”.

“Rizqun” adalah rezeki yang didapatkan dengan cara halal maupun haram.

“Fadhlun” adalah rezeki yang didapatkan hanya dengan cara halal.

Koruptor kaya dari korupsi, itu rezeki dia.

Netizen dapat duit dari hasil open BO, misal, ya itu rezeki dia.

Anda punya mobil dari hasil kejahatan, itu rezeki Anda. Tapi jangan sampai kaca belakang mobil Anda dikasih kaligrafi هذا من فضل ربي.

Sebab, kata “fadhl” hanya untuk rezeki yang halal.

▪︎ SUNNATULLAH

Rezeki didapatkan melalui mekanisme sunnatullah. Sebagaimana pahala juga didapatkan melalui mekanisme sunnatullah.

Sunnatullah mendapatkan rezeki adalah, misal, kerja, usaha.

Sunnatullah menghilangkan lapar ya makan.

Sunnatullah menuntaskan rindu ya ketemu.

Sunnatullah mendapatkan pahala dan spiritulitas yang jernih ya shalat, zikir, dan berbuat baik kepada sesama makhluk Tuhan, dan lain-lain.

Jadi, jika Anda yang “di rumah terus, nutup aurat, dan selalu sholat, bahkan zikir, rejekinya susah banget” ya bisa jadi Anda gak menjalankan sunnatullah mendapatkan rezeki.

▪︎ ISTIDRAJ

Ini yang segera terlintas di sebagian pikiran orang Islam ketika melihat fenomena kayak di gambar.

Apa itu istidraj?

Yaitu,

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ

“Jika Anda melihat Allah memberi hamba urusan dunia yang ia senangi sementara ia tetap bermaksiat kepada Allah, itulah istidraj.” (HR. Ahmad).

Setelah bersabda demikian, Nabi kemudian membaca ayat ini:

فَلَمَّا نَسُوا۟ مَا ذُكِّرُوا۟ بِهِ فَتَحۡنَا عَلَیۡهِمۡ أَبۡوَ ٰ⁠بَ كُلِّ شَیۡءٍ حَتَّىٰۤ إِذَا فَرِحُوا۟ بِمَاۤ أُوتُوۤا۟ أَخَذۡنَـٰهُم بَغۡتَةࣰ فَإِذَا هُم مُّبۡلِسُونَ

“Ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun buka semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba. Maka, ketika itu mereka terdiam putus asa.” (Al-An’am: 44).

Apa yang dapat dipelajari dari kaitan sabda Nabi dan dawuh Allah tersebut?

“Istidraj” secara harfiah artinya “ngangsur”, “nyicil”, “sedikit demi sedikit, gak langsung”.

Ketika Tuhan meng-istidraj seseorang, yaitu orang yang bermaksiat, membangkang Tuhan, tapi pada saat yang sama dia yang bergelimang rezeki, sesungguhnya ada rahmat di sana: Tuhan tidak langsung menghukum orang tersebut; Tuhan masih memberinya kesempatan. Memberinya peringatan agar sadar.

Ketika kesempatan dilewatkan dan peringatan diabaikan, saat itulah ia perlu diingatkan dengan cara yang lebih keras dan menyakitkan. Tiba-tiba keadaan berbalik.

Jadi, jangan mudah menghakimi orang lain sedang di-istidraj Tuhan. Sebab, bisa jadi, seseorang bisa saja tersadar dengan cara yang lembut.

Maunya Anda, kalau orang “yang kerjaannya mabok, sex bebas, dan gak nutup aurat rejekinya selalu ada” itu dibejek dan digeprek sambel pedes sekalian aja kan.

Pun andai seseorang tersadar melalui mekanisme peringatan yang keras dan menyakitkan kayak gitu, itu tetap ada nilai baiknnya kan? Untung sadar saat masih di dunia.

Jadi rahmat juga juga kan akhirnya.

Iya. Istidraj juga bisa jadi rahmat.

▪︎ KEADILAN ALLAH

Sedikit aja yang ini.

Jangan “berharap” keadilan Allah. Berharaplah rahmat Allah.

Anda bisa kekal di surga itu bukan “keadilan” Allah. Itu karena rahmat Allah.

Anda jadi orang baik di dunia kan paling cuma puluhan tahun. Gak adil kalau kemudian Anda dapat surga selama-lamanya. Mestinya, kalau mau adil, masa tinggal Anda di surga ya sesuai masa berbuat baik Anda ketika di dunia.

Jadi, ketika Anda kelak kekal di surga, itu karena rahmat Allah.

Begitu kira-kira gambaran adil dan rahmat Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Istidraj at Warung Nalar.

meta

%d bloggers like this: