Hukum Membunuh Begal

15 April 2022 § Leave a comment


Dalam fikih Mazhab Syafii, ada tema dengan judul “al-shiyal”.

Secara harfiah, “al-shiyal” artinya “serangan”.

Tema “al-shiyal” membahas tentang upaya membela diri atau orang lain dari tindak kejahatan terkait harta, semacam perampokan, penjambretan, pembegalan, dll, atau terkait nyawa, seperti pembunuhan, pengeroyokan, model-klithih, dll, atau terkait kehormatan, seperti pemerkosaan, pencabulan …

Pokoknya, tindak kejahatan terkait harta, nyawa, dan kehormatan: hal-hal yang “ma’shum” atau “yang semestinya dilindungi” dalam pandangan agama–dan bahkan dalam pandangan logika manusia sekalipun yang gak beragama.

Upaya membela diri atau orang lain dari tindak kejajatan menyangkut nyawa dan kehormatan bahkan dianggap “harus”, wajib.

Jika dalam upaya membela diri terhadap tindakan kejahatan itu si korban berhasil melumpuhkan atau melukai si pelaku atau bahkan membunuhnya maka si korban ini terbebas dari tuntutan apa pun.

Hanya saja, ada aturannya. Upaya pembelaan diri atau pencegahan kejahatan ini ada “prosedurnya”.

Jika, misal, nih ya … Si pelaku kejahatan ini “berhati lembut” yang tiba-tiba mengurungkan niat jahatnya cukup dengan permohonan–misal, kayak di film-film: “Plis, jangan sakiti aku! Jangan bunuh aku.”–maka si korban gak boleh mengelabui. Misal, si korban segera menyerang balik dengan melukai atau membunuh pelaku saat si pelaku lengah. Jika si pelaku ini sampai cacat atau terbunuh maka si korban ini bisa dikenai tuntutan atas upaya pembelaan diri yang gak proporsional itu.

Jika si pelaku pergi, biarin pergi. Gak boleh diserang balik.

Atau, misal, si korban sudah memohon tapi si pelaku tetap nekat, kemudian si korban melawan dan berhasil melumpuhkan pelaku, misal, dengan menghajarnya sampai klenger gak berdaya, maka cukupkan sampai situ. Jangan dilanjutkan dengan level penghajaran yang lebih berat.

Lawan. Lumpuhkan. Cukup.

Atau, misal, terjadi pekelahian seru dan menyebabkan si pelaku-penjahat terbunuh, ya, berarti hebat tuh si korban.

Si korban gak terkena tuntutan apa pun dalam upaya bela diri atau orang lain itu meski menyebabkan si pelaku kejahatan itu luka, cacat, atau bahkan mati.

Melukai atau bahkan membunuh penjahat sebagai akibat yang tidak terhindarkan–garis bawahi ya: akibat yang tidak terhindarkan–dalam upaya membela diri adalah “konstitusional” secara fikih.

Ya, masuk akal aja sih.

Nah, itu dalam konteks si korban ini sosok tangguh. Berani melawan.

Jika si korban merasa gak punya kemampuan melawan tapi punya peluang menyelamatkan diri maka kabur adalah jalan ninja terbaik.

Tema “al-shiyal” dalam fikih ini didasarkan pada dalil dari hadis,

مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ

“Orang yang terbunuh dalam upaya menjaga hartanya, dia syahid. Orang yang terbunuh dalam upaya membela agamanya, di syahid. Orang yang terbunuh dalam upaya menyelamatkan nyawanya, dia syahid. Orang yang terbunuh dalam upaya melindungi keluarganya, dia syahid.” (Hadis Hasan-Shahih, riwayat Imam al-Tirmizi).

Sebab, harta, agama, nyawa, dan keluarga seorang beriman itu terhormat. Seseorang berhak membela diri atau orang lain dari tindak kejahatan menyangkut empat hal tersebut. Jika dalam upaya mempertahankan empat hal itu seseorang terbunuh, dia syahid.

Itu prinsip dalam fikih, dalam Islam.

Tapi, saya pikir, penghormatan atas harta, agama, nyawa, dan keluarga bukanlah nilai eksklusif dalam Islam. Itu nilai universal, saya kira. Sesuatu yang “dharuriy”. Niscaya. Naluri kemanusiaan. Islam menegaskan.

Maka, menjaga sesuatu yang niscaya dan membela diri untuk mempertahankan sesuatu yang niscaya tersebut adalah sebuah keniscayaan.

***

Saya gak tahu bagaimana hukum positif kita mengatur pembunuhan karena membela diri. Membunuh penjahat dalam upaya membela diri atas tindakan pembegalan, perampokan, pemerkosaan, upaya pembunuhan …

Apakah pembunuhan dalam konteks itu tetap saja pembunuhan atau ada perincian hukumnya?

Tapi, semestinya yang masuk akal aja ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Hukum Membunuh Begal at Warung Nalar.

meta

%d bloggers like this: