Ismu Ruh, Nama Ruh

28 March 2022 § Leave a comment


Orang-orang Quraisy kumpul. Ngomongin Nabi Muhammad.

“Muhammad ngaku jadi Nabi,” kata mereka. “Kita gak bisa menuduhnya berbohong. Dia ini dikenal amanah dan jujur.”

“Bagaimana kalau kita tanyakan kepada orang-orang Yahudi?” kata salah satu mereka. “Yahudi ini kan Ahlul Kitab.”

Akhirnya, mereka menemui kaum Yahudi untuk kroscek. Minta konfirmasi kebenaran klaim kenabian oleh sosok yang dikenal amanah dan jujur tersebut.

“Coba kalian tanyakan tiga hal kepada Muhammad,” kata Yahudi. “Jika dia menjawab semuanya, dia pembohong. Jika dia tidak bisa menjawab semuanya, dia juga pembohong.”

“Dia benar-benar seorang nabi hanya jika bisa menjawab dua hal saja,” kata Yahudi, melanjutkan.

Salah satu dari tiga hal tersebut adalah soal ruh.

Anda bisa membaca Tafsir al-Baghawi di bagian surah al-Isra ayat ke-85 untuk ungkapan yang lebih akurat dan kisah yang lebih lengkap. Yang Anda baca ini parafrasa.

Singkat cerita, orang-orang Quraisy menemui Nabi Muhammad untuk meminta tanggapan atas tiga hal tersebut.

“Besok saya jawab pertanyaan kalian,” kata Nabi.

Oke. Orang-orang Quraisy menerima.

Keesokan harinya, mereka menemui Nabi. Menagih jawaban.

Ternyata, Nabi tidak memberikan jawaban. Tapi, juga Nabi tidak mengatakan “tidak bisa”.

Ketiga pertanyaan dari Yahudi itu bukan soal logika atau duniawi, tapi tentang kisah masa lampau dan hal gaib yang akses untuk menjawabnya hanya bisa lewat wahyu. Ketika Nabi bilang “Besok saya jawab pertanyaan kalian”, itu karena beliau merasa Allah akan menurunkan wahyu menjawab tiga hal di atas.

Ah, mungkin tidak hari ini. Bisa jadi besok.

Besoknya, besoknya lagi, besoknya besok lagi … sepuluh hari, lima belas hari, bahkan sampai empat puluh hari … wahyu yang ditunggu tidak turun juga.

“Muhammad ini … besak-besok, besak-besok … Gak ngasih jawaban juga.”

Orang-orang Quraisy mungkin mulai sinis.

Sementara, Nabi Muhammad mulai sedih. Kepikiran. Kok wahyu gak turun-turun. Juga mulai terbebani oleh omongan orang-orang Makkah.

Sampai akhirnya, wahyu pun turun. Tapi, bukan soal jawaban atas tiga pertanyaan itu: justru soal teguran untuk Nabi.

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

“Jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, ‘Pasti besok aku lakukan’, kecuali sambil mengatakan, ‘Insyaallah’.” (Al-Kahf: 23-24).

(Ingat tagar #2019GantiPresiden? Kurang “insyallah” aja itu. Coba ditambahi “insyaallah”. Ya belum tentu ganti presiden juga sih).

Setelah ditegur, baru, Nabi diberi wahyu yang menjawab tiga pertanyaan orang-orang Quraisy atas titipan orang-orang Yahudi.

Dua pertanyaan, dijawab oleh wahyu. Satu pertanyaan, tidak dijawab.

Satu pertanyaan yang tidak dijawab, cuma digantungkan, itu soal ruh.

وَیَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنۡ أَمۡرِ رَبِّی وَمَاۤ أُوتِیتُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ إِلَّا قَلِیلࣰا

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Jawab saja, ‘Ruh itu urusan Tuhanku’. Sementara, kalian hanya diberi sedikit pengetahuan.” (Al-Isra’: 85).

Tentu saja, itu tidak menjelaskan apa-apa tentang ruh.

Karena itu, menurut Imam al-Ghazali, dalam agama, pembahasan tentang hakikat ruh hanya sebatas yang ada dalam ayat populer di atas. Hanya sebatas itu kita bisa bicara hakikat ruh. “Ruh itu urusan Tuhanku”. Tidak lebih.

Kenapa?

Sebab, menurut Imam al-Ghazali, dalam “Kimiya al-Sa’adah”, selain sangat sulit mengetahui hakikat ruh, juga karena–andai pun tidak sulit–memang tidak ada kebutuhan untuk mengetahuinya.

Tidak ada kebutuhan dalam agama dan tidak ada tuntutan dari agama untuk mengetahui hakikat ruh.

Tapi, Imam al-Ghazali sendiri banyak bicara soal ruh dalam “Kimiya’ al-Sa’adah”?

Betul.

Tapi, Imam al-Ghazali tidak bicara soal haikat ruh.

Di “Kimiya al-Sa’adah”, Imam al-Ghazali hanya bicara soal kaitan ruh dengan entitas-entitas lain dalam “struktur organisasi diri manusia” (akal, indra, tubuh, potensi syahwat, potensi emosi) dalam konteks upaya makrifat kepada Allah. Mengenal Allah.

Anda bisa baca kitab itu.


Terkait keislaman, ada tiga kategori pertanyaan menurut Imam al-Nawawi. Anda bisa baca di “Syarah al-Arbain al-Nawawiyyah” dalam penjelasan hadis nomor ke-9 untuk mendapatkan kalimat yang lebih akurat dan lebih lengkap.

Satu, pertanyaan bersifat fardu ain. Orang mesti tanya agar tahu. Sebab, pengetahuan ini harus dimiliki oleh setiap muslim. Seperti pengetahuan tentang taharah (wudu, mandi junub), shalat, tentang puasa, puasa, haji … Semua itu bersifat fardu ain. Kewajiban individual. Karena wajib dilakukan, sebelum melaksanakannya, setiap orang harus tahu persoalannya. Kalau tidak tahu, wajib tanya.

Kedua, pertanyaan bersifat fardu kifayah. Kewajiban kolektif. Cukup sebagian orang saja yang ambil bagian, maka kewajiban telah tertunaikan. Pertanyaan atau bertanya di sini artinya tidak sesempit sekadar bertanya, tapi semisal “bertanya” untuk mendalami agama. Secara teknis, contohnya, ya kayak NU dengan lembaga bahtsul masailnya, misal. Di sanalah kumpul para ulama atau minimal ustad yang saling tanya, saling mempertanyakan, berdebat untuk menjawab persoalan keumatan. Atau kayak MUI dengan komisi fatwanya. Harus ada sekelompok orang seperti itu. Tapi tidak semua orang harus seperti itu. Toh gak semuanya mampu.

Ketiga, pertanyaan yang bukan-bukan: bukan fardu ain, juga bukan fardu kifayah. Bukan kewajiban, bukan tuntutan.

Apak kriterianya?

Yaitu, pertanyaan yang kalau dijawab, jawabannya malah bikin repot. Atau, minimal tidak penting: merepotkan enggak, bermanfaat juga enggak. B aja.

Nah, pertanyaan orang-orang Quraisy atas titipan kaum Yahudi soal ruh bisa jadi masuk dalam kategori ketiga.

Sebab, andai pengetahuan soal hakikat ruh itu penting karenanya jadi keharusan, fardu ain atau fardu kifayah, tentu Allah akan memberikan wahyu kepada Nabi Muhammad untuk menjawab pertanyaan soal hakikat ruh itu segera tanpa menunda sampai puluhan hari. (Bahkan, setelah ditunda hingga empat puluh hari, sampai kemudian turun wahyu, itu juga bukan wahyu yang menjawab pertanyaan hakikat ruh).

Jika pengetahuan tentang hakikat ruh, diri ruh, saja bukan kebutuhan dalam agama, ya tentu saja, apalagi, min babi aula, “nama ruh”.

Wallahu a’lam.

🔆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Ismu Ruh, Nama Ruh at Warung Nalar.

meta

%d bloggers like this: