Rasulullah Mengatur Suara

4 March 2022 § Leave a comment


-1-

Suatu saat pada sepuluh hari terakhir Ramadan, Rasulullah beriktikaf di sebuah tempat khusus.

Suatu ketika, beliau keluar karena orang-orang mengerjakan shalat sunah dengan mengeraskan bacaan surat.

Beliau lalu mengingatkan,

إِنَّ الْمُصَلِّيَ يُنَاجِي رَبَّهُ فَلْيَنْظُرْ بِمَا يُنَاجِيهِ بِهِ وَلَا يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ بِالْقُرْآنِ

“Orang shalat itu bermunajat kepada Tuhan. Sebaiknya perhatikan apa yang dimunajatkan kepada-Nya. Jangan saling mengencangkan bacaan Alquran.” (HR. Imam Malik dan Imam Ahmad).

Apa makna pengingat Rasulullah tersebut?

“Orang shalat itu bermunajat kepada Tuhan”

Artinya, Rasulullah mengingatkan orang-orang perihal yang maknawi dalam shalat, yaitu munajat, dan kepada siapa munajat itu, yaitu Rabb. Munajat kepada Tuhan.

Karenanya, mestinya orang-orang menghindari hal-hal makruh–dalam hal ini mengencangkan suara yang menimbulkan gangguan–yang dapat mengurangi nilai shalat. Seraya memperhatikan hal-hal yang dapat menyempurnakan nilai shalat.

“Perhatikan apa yang dimunajatkan kepada-Nya”

Yaitu, surah Alquran. Membaca Alquran adalah sebuah ketaatan dan ibadah.

Karena itu,

“Jangan saling mengencangkan bacaan Alquran”

Artinya, jangan bermunajat kepada Tuhan dengan cara yang makruh, cara yang dibenci, cara yang mestinya dihindari, yaitu bermunajat dengan suara keras, sebab dapat mengganggu orang lain, merusak kekhusyukan ibadah orang lain.

Jika cara baca Alquran saja bisa dilarang–andai menimbulkan gangguan–maka apalagi selain Alquran.*


*Kurang-lebih, begitu ringkasan penjelasan dalam “al-Muntaqa Syarh al-Muwatha”

-2-

Malam-malam, Rasulullah keluar. Beliau melewati Abu Bakar yang sedang shalat. Bacaanya lirih. Pelan.

Dalam kesempatan lain, Rasulullah melewati Umar bin Khathab yang juga sedang shalat. Bacaannya keras. Kencang.

Sampai kemudian, ketiganya, Rasulullah beserta kedua sahabat yang sekaligus mertua itu, kumpul.

Rasulullah bilang ke Abu Bakar, “Saya pernah lewat, mendengengar Anda sedang shalat. Suara Anda pelan.”

“Saya memperdengarkan suara saya kepada Zat yang kuajak munajat,” jawab Abu Bakar.

Maksud Abu Bakar, suara shalatnya tidak untuk orang lain.

“Ya, kencengin dikit lah,” kata Rasulullah.

Berikutnya, Rasulullah bilang ke Umar. Cerita, beliau lewat dan mendengar Umar shalat. Berbeda dengan Abu Bakar, Umar mengencangkan bacaan shalatnya.

“Saya pengin membangunkan orang tidur sekaligus mengusir setan,” jawab Umar, beralasan.

“Ya, pelanin dikit lah,” kata Rasulullah.*

Yang terbaik memang yang sedang-sedang saja. Proporsional. Moderat.

Wallahu a’lam.


*dari hadis riwayat Abu Dawud dan Tirmizi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Rasulullah Mengatur Suara at Warung Nalar.

meta

%d bloggers like this: