Dalil Peringatan Maulid Nabi

6 November 2021 § Leave a comment


Kenapa Anda berpuasa Senin (dan Kamis)?

Mungkin Anda punya motivasi personal, seperti tawasul nirakati anak, keluarga, atau lainnya.

Tapi, alasan yang syar’i tentu karena nyunnah: Anda meneladani Nabi yang juga berpuasa hari Senin.

Kenapa Nabi berpuasa hari Senin?

Nabi sendiri juga pernah ditanya begitu.

Beliau menjawab,

فيه ولدت

“Aku lahir hari Senin.”

Senin hari lahir beliau.

Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki mengatakan, dalam “Haul  al-Ihtifal bi Dzikra al-Maulid al-Nabawi al-Syarif”, Nabi Muhammad berpuasa hari Senin sebagai ungkapan takzim dan syukur atas kelahiran dirinya.

Nabi berpuasa hari Senin karena muasani wetonnya.

(Dalam tradisi Jawa ada “puasa weton” [dari kata “metu” atau “keluar”: keluar ke dunia; lahir] atau puasa saat hari kelahiran. Biasanya dibarengi dengan penanggalan Jawa. Misal, Anda lahir Sabtu Legi. Maka, puasa weton Anda hanya di setiap hari Sabtu Legi, bukan semua Sabtu. Bisa jadi tradisi puasa weton itu turunan dari ajaran puasa Nabi Muhammad pada hari Senin, hari kelahirannya. Maka, puasa weton dalam tradisi Jawa bukan bidah, sebab berada dalam naungan dalil syariat, dalam hal ini: hadis. “Li indirajiha tahta al-adillah al-syar’iyyah wa al-qawaid al-kulliyyah”. Kalau pun bidah, itu bidah hasanah).

Jadi, jika Anda, baik pro-maulid maupun anti-maulid, rajin berpuasa sunah hari Senin karena meneladani sunah Nabi, pada dasarnya Anda juga rajin memperingati Maulid Nabi.

Sebab, Nabi berpuasa hari Senin dalam rangka hari lahirnya, muludan, wetonan, sebagaimana beliau nyatakan sendiri dalam sabdanya di atas.

Maka, menurut Sayyid Alawi, hadis Nabi puasa hari Senin riwayat Imam Muslim di atas adalah nas paling sahih dan paling jelas tentang “masyru’iyyah al-ihtifal bi al-maulid al-nabawi al-syarif”.

Bahwa peringatan maulid Nabi bukan hanya boleh, melainkan juga sesuai dengan syariat. Dibenarkan oleh syariat.

Singkat kata, kitab kecil “Haul al-Ihtifal” karya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki ini karya bagus jadi pegangan kaum pro-maulid untuk memperkuat keyakinan dan argumentasi tentang peringatan Maulid Nabi.

Penjelasannya singkat, padat, dan sangat mencukupi dari sisi argumentasi naqli, aqli, dan filosofi.

Anda bisa beli secara online. Murah.

Versi terjemahan juga ada.

Sedangkan untuk soal Maulid Nabi dari sisi sejarah: kapan ia bermula menjadi tradisi sosial-keagamaan yang diperingati secara massal, siapa yang memulai, seperti apa bentuk peringatannya dari masa ke masa, dari dinasti ke dinasti, negara-negara mana saja di era modern ini yang memperingati Maulid Nabi, dan lain-lain … Anda bisa membaca di antaranya “Tarikh al-Ikhtifal bi Maulid al-Nabi shallahu alaihi wasallam wa Madzahiruh Haul al-‘Alam” karya Muhammad Khalid Tsabit dan “Tarikh al-Ihtifal bi al-Mulid al-Nabawi min ‘Ashr al-Islam al-Awwal ila ‘Ashr Faruq al-Awwal” karya Hasan al-Sandubi.

Keduanya tersedia di internet.

🎉🎉🎉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Dalil Peringatan Maulid Nabi at Warung Nalar.

meta

%d bloggers like this: