Adab di Atas Ilmu; Kisah Imam Syafii dan Imam Abu Hanifah

23 September 2021 § 1 Comment


Imam Syafii lahir pada tahun yang sama ketika Imam Abu Hanifah wafat. 150 H.

Sehingga, ada ungkapan, “Mata al-Imam wa wulida al-imam.”

“Seorang imam telah wafat dan seorang imam telah lahir.”

Yang wafat adalah Imam Abu Hanifah, yang lahir adalah Imam Syafii.

Dalam “al-Tibyan”, salah satu risalah dalam “Irsyad al-Sari”, Mbah Hasyim Asy’ari menukil kisah Imam Syafii berziarah ke makam Imam Abu Hanifah.

Tujuh hari Imam Syafii di sana. Membaca Alquran. Setiap kali khatam, Imam Syafii menghadiahkan pahala bacaan Alquran itu untuk Imam Abu Hanifah.

Selama tujuh hari itu juga, di sana, Imam Syafii tidak pernah baca qunut setiap shalat subuh.

Sekembali dari sana, Imam Syafii ditanya oleh para murid kenapa ia tidak qunut subuh.

“Imam Abu Hanifah berpendapat qunut subuh bukan sunah,” kata Imam Syafii.

“Saya tidak qunut sebagai adab, bentuk tata krama, kepada beliau.”

Kisah di atas salah satu contoh paling pas untuk ungkapan yang mungkin pernah atau malah sering Anda dengar: “adab di atas ilmu”, “adab sebelum ilmu”, atau yang mirip begitu.

👣

§ One Response to Adab di Atas Ilmu; Kisah Imam Syafii dan Imam Abu Hanifah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Adab di Atas Ilmu; Kisah Imam Syafii dan Imam Abu Hanifah at Warung Nalar.

meta

%d bloggers like this: