Kenapa Orang Menghina, Merusak, Membunuh …

9 September 2021 § Leave a comment


Dalam, “Kimiya’ al-Sa’adah”, Imam al-Ghazali menyebut ada tiga potensi dalam diri manusia: “quwwah al-ghadhab” (potensi marah), “quwwah al-syahwat” (potensi syahwat), “quwwah al-‘ilm” (potensi ilmu).

Ketiganya merupakan potensi alamiah manusia. Produk bawaan. Secara umum, manusia memiliki. Porsi masing-masing saja yang berbeda.

Secara ideal, potensi-potensi tersebut, terutama “quwwah al-ghadhab” dan “quwwah al-syahwat”, harus berada dalam porsi moderat. Tengah-tengah. Tidak lebih, tidak kurang. Pas.

Dengan begitu, potensi-potensi itu akan menjadi bekal manusia dalam membangun kebahagiaan sempurna dalam kehidupan hari ini dan Hari Nanti.

Jika tidak begitu, jika porsi potensi-potensi itu (terutama “quwwah al-ghadhab” dan “quwwah al-syahwat”) kebanyakan atau kesedikitan maka potensi-potensi itu akan berubah menjadi kekuatan perusak.

“Quwwah al-Syahwah”

Porsi “quwwah al-syahwah” (potensi syahwat) yang berlebihan akan menjatuhkan seseorang dalam kehinaan: pelanggaran dan kejahatan yang bersifat syahwat.

Jangan berpikir bahwa syahwat itu cuma soal seks.

Dalam bahasa Arab, “syahwat” secara bahasa berarti “demen” (suka, cinta) dan “keinginan”.

Kata itu biasanya digunakan terkait urusan seks dan harta (dan yang terkait dengan harta: perut alias urusan panganan, jabatan, dll).

Nah, jika potensi syahwat melebihi porsi, seseorang akan terjatuh dalam pelanggaran dan kejahatan terkait seks dan harta.

Anda bisa sebut macam-macam pelanggaran dan kejahatan (baik dari sudut pandang norma agama, hukum, dan sosial) dalam lingkaran seks dan harta: kekerasan seksual, pencabulan, perselingkuhan, permalingan, pungli, korupsi, dll.

Jika potensi syahwat berlebihan, dalam soal seks, Anda jadi liar; dalam soal harta, Anda jadi serakah.

Semuanya akan menghancurkan Anda pada waktunya.

Sebaliknya, jika potensi syahwat di bawah porsi, seseorang akan lemah menjalani kehidupan. Tidak bergairah dalam urusan seks, tidak semangat dalam urusan duit. Singkatnya, loyo dalam urusan duniawi.

Maka, agar potensi syahwat atau “quwwah al-syahwah” ini memberi manfaat dan tidak membawa madarat, kendalikan ia, atur porsinya secara pas. Sedang-sedang saja. Tidak kelebihan, tidak kekurangan.

Potensi syahwat yang terkendali akan menjadikan Anda orang yang “iffah”: menjaga diri dari seks terlarang, dan “qana’ah”: menerima yang ada, menjaga diri dari harta haram, tidak serakah.

Jadi, syahwat, keinginan duniawi, itu tidak untuk dimatikan, tapi juga tidak untuk dibiarkan hidup secara liar.

Syahwat ada untuk dikendalikan.

“Quwwah al-Ghadhab”

Seperti “quwwah al-syahwah”, “quwwah al-ghadhab” (potensi marah) juga ada untuk dikendalikan. Jangan dibiarkan mati, jangan pula dibiarkan hidup liar.

Biarkan ia ada dalam diri Anda dalam porsi yang pas.

Porsi “quwwah al-ghadhab” yang terlalu rendah akan menyebabkan seseorang acuh tak acuh, meneng-meneng bae, terhadap keadaan yang tak semestinya. Tidak punya kepedulian untuk amar makruf, tidak punya semangat untuk nahi munkar.

Sebaliknya, porsi “quwwah al-ghadhab” yang berlebihan akan menjatuhkan seseorang dalam kedunguan (al-humq) yang merusak: pelanggaran dan kejahatan yang lahir dari kehilangan akal sehat.

Anda bisa sebutkan macam-macam pelanggaran dan kejahatan itu: pembunuhan, perusakan, pembakaran, kekerasan, penghinaan, dll.

Dari sisi itu, dapat dipahami kenapa ada sikap-sikap intoleransi beragama yang berujung pada penghinaan, perusakan, kekerasan, bahkan pembantaian, atau, dulu, suwiping dan/atau perusakan warung-warung oleh ormas keagamaan, atau terorisme bermotif agama … Para pelaku adalah orang-orang yang memiliki porsi “quwwah al-ghadhab” yang turah-turah.

Mereka orang-orang yang sebenarnya peduli dengan agama, hanya saja, “quwwah al-ghadhab” dalam diri mereka terlalu besar. Akibatnya, mereka mengekspresikan kepedulian itu dengan kedunguan (al-humq) yang merusak.

Maka, mestinya kita paham, kedunguan yang merusak semacam di atas itu bukan watak agama: itu watak kaum beragama yang kelebihan porsi “quwwah al-ghadhab” dalam beragama.

“Quwwah al-ghadhab” ini dapat bermanfaat , tidak menimbulkan madarat, tidak merusak, hanya jika diatur dalam porsi yang pas. Terkendali.

Anda yang memiliki “quwwah al-ghadhab” dalam porsi yang pas akan menjadi orang yang sabar (al-shabr), berani (al-syaja’ah), dan bijaksana (al-hikmah) dalam bertindak dan menyikapi keadaan yang menurut Anda tidak pantas.

Orang-orang seperti Anda ini memiliki keberanian untuk amar makruf nahi munkar yang dilakukan dengan bijaksana dan tidak merusak.

“Quwwah al-‘Ilm”

Orang-orang yang kelebihan porsi “quwwah al-syahwah”, seperti sudah disebutkan di atas, akan melakukan macam-macam pelanggaran dan kejahatan dalam lingkaran seks dan harta: kekerasan seksual, pencabulan, perselingkuhan, permalingan, pungli, korupsi, dll.

Singkatnya, pelanggaran terkait seks dan perut.

Imam al-Ghazali menyebut perkara seks dan perut dengan “akhlak al-baha’im” atau “perilaku binatang”.

(“Baha’im”, bentuk jamak dari “bahimah”, adalah sebutan untuk hewan selain predator/pemangsa).

Orang yang melakukan kejahatan terkait seks dan perut, melakukan “akhlak al-baha’im”, dia lebih rendah daripada “baha’im” sendiri. Turun derajat di bawah binatang-binatang itu.

Orang-orang yang kelebihan porsi “quwwah al-ghadhab”, juga seperti sudah disebutkan di atas, akan terjatuh dalam kedunguan (al-humq) yang merusak: pelanggaran dan kejahatan yang lahir dari kehilangan akal sehat. Pembunuhan, perusakan, pembakaran, kekerasan, penghinaan, dll.

Imam al-Ghazali menyebut tindakan-tindakan semacam itu dengan “akhlak al-siba'” atau “perilaku binatang buas”.

Orang-orang yang membunuh, merusak, membakar, melakukan kekerasan, menghina, melakukan “akhlak al-siba'”, dia lebih rendah daripada “al-siba'” itu sendiri. Turun derajat di bawah binatang-binatang buas itu.

Maka, agar seseorang tidak kelebihan atau kekurangan “quwwah al-syahwah” dan “quwwah al-ghadhab”, agar potensi syahwat dan potensi marah itu berada dalam porsi yang moderat, ia mesti menguatkan “quwwah al-ilm” atau “potensi ilmu”. Potensi keilmuan, potensi nalar, potensi kewarasan.

“Quwwah al-‘ilm” inilah yang menjadikan manusia unik.

Yang membedakan manusia dengan “baha’im” dan “siba'”.

Yang mencegah manusia berperilaku binatang.

Yang menyadarkan manusia bahwa membunuh, merusak, melakukan kekerasan, menghina, bukanlah perilaku manusiawi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kenapa Orang Menghina, Merusak, Membunuh … at Warung Nalar.

meta

%d bloggers like this: