Makna Hijrah

12 August 2021 § Leave a comment


Asbabul wurud hadis “innamal a’malu binniyyat” yang masyhur itu terkait hijrah Rasulullah dan umat Islam dari Makkah ke Madinah.

Jadi, singkat cerita, seorang lelaki melamar perempuan bernama Ummu al-Qais (begitu, si perempuan disebut). Tapi, si perempuan menolak. Dia mau menerima lamaran hanya jika si lelaki mau ikut hijrah ke Madinah.

Akhirnya, demi menikah, si lelaki pun hijrah.

(Karena niat hijrah yang seperti itu, si lelaki dijuluki “Muhajir Ummi Qais” atau “orang yang berhijrah karena ingin menikahi Ummu Qais”).

Sampailah cerita ini ke Rasulullah.

Dan, tahulah kita sabda-Rasulullah yang populer itu,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بالنِّيَّاتِ وإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ ما نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَو امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ. (رواه إماما المحدِّثينَ)

“Amalan itu [sah/sempurna/diterima] hanya dengan niat. Seseorang hanya mendapatkan apa yang ia niatkan.”

“Orang yang berhijrah untuk Allah dan Rasulullah (maksudnya, ikhlas) maka hijrahnya untuk Allah dan Rasulullah (maksudnya, mendapatkan pahala dan kebaikan).”

“Orang yang berhijrah karena ingin mendapatkan dunia atau menikahi wanita maka ia tidak akan mendapatkan pahala dan kebaikan ukhrawi.”

Ada dua tema utama dalam hadis di atas: niat dan hijrah.

Soal niat, hadis di atas adalah dalil utama “fikih niat”. Soal “fikih niat”, Anda bisa membaca kitab kaidah fikhiyah “al-Asybah wa al-Nadzair”. Berdasarkan sabda singkat Nabi “innamal a’malu binniyyat” itu, kitab ini menjelaskan secara detail dan berlapis perihal niat dalam ibadah. Kaitannya dengan kaidah fikhiyah induk “al-umuru bi maqashidiha” beserta kaidah-kaidah turunannya.

Sedangkan soal hijrah dalam hadis di atas, Anda bisa membaca syarah Imam al-Nawawi sendiri dalam karyanya, “al-Arba’in al-Nawawiyyah”.

Penjelasan ulama yang wafat muda dan melajang sepanjang usia terkait hijrah dalam kitab kecil itu begitu detail, melebar, dan berlapis, melebihi penjelasannya untuk hadis yang sama dalam karyanya yang lain, “Syarah Shahih Muslim”.

Tapi, untuk meringkas, saya nukilkan saja penjelasan Ibnu ‘Allan dalam “Dalil al-Falihin”, kitab syarah karya lain Imam al-Nawawi, “Riyadl al-Shalihin”. Penjelasan yang sebenarnya sudah terangkum dalam penjelasan Imam al-Nawawi dalam “Syarah al-Arba’in”.

Hijrah, secara bahasa, berarti الترك atau “meninggalkan”.

Sedangkan secara istilah syariat, hijrah adalah

مفارقة دار الكفر إلى دار الإسلام خوف الفتنة

“Pergi dari negara kufur menuju negara Islam karena khawatir dengan fitnah (gangguan, kekacauan).”

Kuncinya adalah خوف الفتنة, khawatir dengan fitnah (gangguan, kekacauan), seperti penindasan, yang mengakibatkan kesulitan, terutama dalam menjalankan ibadah dan keyakinan.

Seperti pada masa awal-awal Islam saat para sahabat hijrah dari Makkah ke Habasyah atau dari Makkah ke Madinah. Saat itu, Habasyah dan Madinah tentu saja bukan negara Islam. Keduanya hanya wilayah yang memungkinkan umat Islam merasa aman dengan keyakinan mereka.

Hijrah dalam pengertian demikian pada era sekarang mungkin seperti ketika orang-orang mengungsi dari wilayah kekuasaan ISIS. Dulu. Meninggalkan “negara Islam” karena justru tidak aman untuk menjalankan ajaran Islam (juga kehidupan normal pada umumnya).

Tujuan mereka: malah negara-negara Eropa.

Jika pengertian hijrah ditekankan pada “meninggalkan negara kufur dan negara Islam”–dalam konteks “negara Islam” ISIS, ya–maka jadi dilema dan rancu: ingin tinggal di negara Islam, tapi negara itu justru dalam kekacauan yang mengakibatkan kehidupan duniawi dan ukhrawi jadi sulit.

Bagaimana bisa beribadah dengan tenang dan menjalani hidup dengan senang bila negara dalam keadaan kacau karena perang?!

Maka, penekanan yang pas dalam pengertian hijrah secara istilah syariat adalah soal keamanan suatu wilayah untuk menjalankan keyakinan, bukan pada status wilayah atau negara.

Demikian.

Selain secara bahasa dan secara istilah syariat, ada juga arti hijrah secara hakikat, yaitu hijrah sebagaimana dalam sabda Rasulullah,

 إِنَّ الْمُهَاجِرَ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ (رواه أحمد)

“Orang yang hijrah adalah orang yang meninggalkan larangan Allah.”

Hijrah adalah meninggalkan apa saja yang dilarang agama.

Hijrah esensial.

Kuncinya adalah “meninggalkan yang terlarang dalam agama”.

Yang haram, begitulah.

Anda bisa sebutkan hal-hal haram dalam Islam.

Apakah musik haram?

Haram, menurut satu pendapat. Tidak haram, menurut pendapat lain.

Anda mengatakan musik itu haram. Itu valid dalam Islam. Orang lain mengatakan musik itu tidak haram. Itu juga valid dalam Islam.

Sama-sama valid. Kita menyebutnya khilafiyah. Musik itu persoalan khilafiyah.

Jadi, jika Anda meninggalkan musik, tidak lagi mau main musik atau sekadar mendengarkan musik, Anda tidak sedang berhijrah secara hakikat, apalagi secara syariat.

Anda hanya berhijrah secara bahasa: Anda meninggalkan pendapat yang membolehkan musik dan memilih pendapat yang mengharamkan musik. Begitu juga sebaliknya.

Itu saja.

Atau, soal cadar.

Anda mengatakan bercadar itu wajib. Itu valid. Orang lain mengatakan bercadar tidak wajib. Itu juga valid.

Jadi, ketika Anda, kaum wanita, memilih bercadar karena alasan kewajiban–dan itu sah–Anda telah berhijrah secara bahasa: Anda memilih beralih ke pendapat yang mewajibkan cadar. Begitu juga sebaliknya.

Itu saja.

Apakah hijrah secara bahasa semacam meninggalkan musik atau mengenakan cadar itu bisa bernilai ukhrawi alias berpahala?

Oh, tentu saja. Jika semua itu diniati karena Allah.

Jangankan soal itu. Dalam “Syarah al-Arba’in” , Imam al-Nawawi mencontohkan, sekadar mengunci pintu dan mematikan lampu sebelum tidur, jika diniati karena Allah, itu bisa berpahala. Begitu juga dengan hal-hal mubah lainnya. Semuanya tergantung niat. “Innamal a’mal binniyyat”.

A̶t̶a̶u̶,̶ ̶s̶o̶a̶l̶ ̶M̶e̶s̶s̶i̶ ̶m̶e̶n̶i̶n̶g̶g̶a̶l̶k̶a̶n̶ ̶B̶a̶r̶c̶a̶ ̶m̶e̶n̶u̶j̶u̶ ̶P̶S̶G̶.̶ ̶I̶t̶u̶ ̶j̶u̶g̶a̶ ̶a̶r̶t̶i̶ ̶h̶i̶j̶r̶a̶h̶ ̶s̶e̶c̶a̶r̶a̶ ̶b̶a̶h̶a̶s̶a̶.̶ Dan lain-lain.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Makna Hijrah at Warung Nalar.

meta

%d bloggers like this: