Wali Ini Ditanya “Man Rabbuka” oleh Munkar-Nakir. Jawabannya Mengejutkan.

4 August 2021 § Leave a comment


Nabi Ibrahim didatangi Malakul Maut yang hendak mencabut nyawa sang Nabi. Tanggapan Nabi Ibrahim kepada malaikat pencabut nyawa itu?

“Memang kau pernah melihat seseorang yang tega membuat kekasihnya mati?!”

Mendengar reaksi Nabi Ibrahim, Tuhan segera turun tangan, menyampaikan wahyu kepada Nabi Ibrahim.

“Ibrahim, memang kau penah melihat seseorang yang tak senang bila bertemu kekasihnya?”

Seketika, Nabi Ibrahim berkata kepada sang malaikat, “Baiklah, Malakul Maut! Silakan cabut nyawaku sekarang juga.”

//

Beberapa waktu setelah Rabiah wafat, seseorang bermimpi bertemu dengannya. Dalam mimpi tersebut Rabiah ditanya bagaimana ia melewati fase pertanyaan kubur Munkar-Nakir: Man Rabbuka. Siapa Tuhanmu.

Rabiah bilang kepada Munkar-Nakir, “Tuhan tidak pernah melupakanku semasa hidupku meski banyak orang sepertiku. Aku tidak punya siapa-siapa selain Tuhan. Tidak ada kekasih yang kumiliki selain Tuhan. Jadi, mungkinkah aku melupakan Tuhan sehingga kau perlu bertanya kepadaku siapa Tuhanku’?! Kalian kembali saja kepada Tuhan. Sampaikan pesanku untuk-Nya.”

//

Seorang murid bermimpi bertemu syekhnya yang telah meninggal.

“Bagaimana kau melewati pertanyaan Munkar-Nakir?” kata si murid.

Syekh menjawab bahwa Munkar-Nakir mendatanginya dan bertanya “Man Rabbuka”.

“Kembalilah kepada Tuhan,” jawab si syekh. “Tanyakan kepada-Nya apakah aku diterima di sisi-Nya atau tidak. Jika aku tidak diterima, percuma saja aku menjawab pertanyaanmu itu, meskipun aku mengulanginya seribu kali.”

//

Malakul maut mendatangi seorang wali bernama Khair al-Nassaj menjelang waktu maghrib. Khair al-Nassaj yang sedang sakit mendongak.

“Malakul Maut, semoga Allah menjagamu,” kata sang wali. “Jangan buru-buru. Tunggulah sebentar. Aku tahu, kau ditugaskan untuk mencabut nyawaku, sementara aku ditugaskan untuk melaksanakan shalat maghrib ini. Jika kaucabut nyawaku sekarang, kau melaksanakan tugasmu, sementara aku melewatkan tugasku.”

“Tunda sebentar,” kata Khair, menawar.

Khair kemudian berwudu, melaksanakan shalat magrib.

Setelah itu Malakul Maut menjalankan tugasnya.

//

Abu Bakar al-Syibli berkata, “Jika Malakul Maut datang hendak mencabut nyawaku, aku akan menolak. Aku akan mengadu kepada Tuhan, ‘Ilahi, sebagaimana Engkau memberiku ruh tanpa diwakili siapa pun, cabutlah ruhku tanpa perantara siapa-siapa.’”

//

Suatu saat, Malakul Maut menemui seorang saleh.

“Ada yang ingin kusampaikan,” kata Malakul Maut dalam rupa manusia biasa kepada si orang saleh setelah keduanya saling berucap salam.

“Silakan,” kata orang saleh.

“Aku Malakul Maut.”

“Selamat datang! Ahlan wasahlan! Demi Tuhan, di dunia ini tak ada yang ingin kutemui selain dirimu.”

“Sampaikan keinginan terakhirmu.”

“Tak ada keinginan yang lebih besar dan yang lebih kucintai selain bertemu Allah.”

“Baik. Silakan pilih kondisi yang kaumau saat kucabut nyawamu.”

“Kau bisa melakukannya?”

“Itu sudah tugasku.”

“Baik. Aku berwudu dulu. Dan cabut nyawaku saat aku melaksanakan shalat.”

Malakul maut kemudian mencabut nyawa orang saleh itu saat si orang saleh sedang bersujud.

* **

Sumber:

  • “Ihya Ulumiddin” Imam al-Ghazali
  • “Tadzkirah al-Auliya” Fariduddin Attar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Wali Ini Ditanya “Man Rabbuka” oleh Munkar-Nakir. Jawabannya Mengejutkan. at Warung Nalar.

meta

%d bloggers like this: