Hari Raya dalam Islam

16 May 2021 § Leave a comment


ليس العيد لمن لبس الجديد إنما العيد لمن طاعاته تزيد

ليس العيد لمن تجمل باللباس والركوب إنما العيد لمن غفرت له الذنوب

Kurang-lebih, kutipan di atas bisa dipahami begini:

“Hari raya itu bukanlah saat seseorang mengenakan baju baru. Hari raya adalah saat ketaatan seseorang bertambah maju. Hari raya bukanlah saat seseorang bagus-bagusan pakaian dan kendaraan. Hari raya adalah saat seseorang diampuni kesalahan-kesalahan.”

Tentang substansi hari raya sekaligus kritik atas keumuman yang terjadi pada hari raya.

Kutipan yang kerap wira-wiri saat momen Idul Fitri. Mungkin Anda sudah lama tahu dan telah membacanya berkali-kali. Termasuk Lebaran tahun ini.

Maka, tulisan ini sekadar informasi. JFYI.

Pemilik kutipan adalah Ibnu Rajab al-Hanbali (795 H) dalam karyanya, “Lathaif al-Ma’arif fi Ma li Mausim al-‘Am min al-Wadzaif”. Ini kitab unik dan menarik. Pembabannya berdasarkan urutan bulan Hijriah. Inti kitab ini memang membahas hal-hal terkait bulan-bulan Islam tersebut—kecuali Rabi’ul Akhir, Jumadil Awal, dan Jumadil Akhir: keutamaan-keutamaan bulan tersebut, peristiwa-peristiwa yang terjadi pada bulan tersebut, ragam ibadah pada bulan tersebut, dan lain-lain.

Jadi, jika Anda misal mendapatkan jadwal mengisi pengajian/ khutbah bertepatan pada bulan-bulan Hijriah tertentu selain tiga bulan di atas dan ingin menyampaikan materi yang sesuai momentum maka kitab ini bisa jadi referensi.

Kembali ke kutipan di atas. Nah, kutipan tersebut disisipkan oleh Ibnu Rajab dalam bab bulan Dzul Hijjah dalam konteks macam-macam hari raya umat Islam.

Saat Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, masyarakat Madinah memiliki dua hari yang mereka rayakan untuk sekadar bersenang-senang dan hura-hura. Nabi kemudian menerima wahyu untuk mengganti dua hari itu dengan dua hari lain yang juga untuk dirayakan, namun dengan cara berbeda.

Dua hari yang awalnya dirayakan dengan sekadar senang-senang diganti dengan dua hari raya penuh zikir, syukur, ampunan, dan permaafan.

Dua hari yang dirayakan dengan hura-hura tanpa arti apa-apa diganti dengan dua hari yang dirayakan dengan kegembiraan yang bermakna.

Itulah Idul Fitri dan Idul Adha.

Selain dua hari besar yang dirayakan tiap tahun itu, ada satu hari yang juga menjadi hari raya, yaitu hari Jumat.

Jadi, ada tiga hari raya umat Islam: Hari Raya Fitri, Hari Raya Adha, dan hari Jumat.

Ketiganya menjadi penanda dari ketaatan yang telah lengkap dan paripurna.

Jumat menjadi hari raya sebagai penanda lengkapnya shalat lima waktu dalam sepekan.

Kenapa Jumat?

Sebab, Jumat memiliki catatan yang dianggap sebagai keutamaan. Nabi Adam diciptakan pada hari ini. Dimasukkan ke surga dan dikeluarkan dari surga juga pada hari ini. Kiamat terjadi pada hari ini. Jumatan dilaksanakan pada hari ini. Dan lain-lain.

Begitulah Jumat menjadi hari raya.

Karena itu, haram hukumnya berpuasa pada hari Jumat jika hanya dilakukan sehari itu saja. Maksudnya, jika bukan bagian dari rangkaian puasa hari-hari sebelumnya atau bukan bagian dari rangkaian dari puasa hari-hari berikutnya.

Keharaman puasa pada hari Jumat sama seperti keharaman puasa saat Idul Fitri dan Idul Adha (serta hari Tasyrik). Sebab, sama-sama menjadi hari raya.

Sementara, Idul Fitri menjadi hari raya sebagai penanda lengkapnya puasa Ramadan dan umat mendapatkan pengampunan dosa-dosa berkat puasa mereka.

Dan, terakhir, Idul Adha menjadi hari raya sebagai penanda lengkapnya prosesi ibadah haji. Ibadah haji menjadi paripurna setelah wukuf di Arafah tanggal sembilan Dzul Hijjah. Sehari berikutnya, tanggal 10 Dzul Hijjah, itulah Idul Adha, pelengkap paripurna haji. Walaupun menjadi pelengkap paripurna ibadah haji, namun Idul Adha juga menjadi hari raya untuk semua umat Islam, termasuk yang tidak berhaji.

Jadi, begitulah. Ketiga hari raya tersebut adalah penanda dari ketaatan yang telah lengkap dalam satu periode.

(Di sebagian masyarakat Jawa, ada tradisi hari raya ketupat. Riyaya kupat. Kupatan. Dirayakan seminggu setelah Idul Fitri sebagai penanda paripurnanya puasa sunah enam hari Syawal. Riyaya Kupat ini basisnya tradisi, bukan agama. Jadi, tidak ada implikasi yang bersifat agamawi, seperti larangan berpuasa pada hari raya ini. Tidak seperti Idul Fitri dan Idul adha serta hari Jumat, saat-saat haram berpuasa).

Karena itulah umat bergembira dan berbahagia pada hari raya sebab telah berhasil menyempurnakan ketaatan dan berhak mendapatkan apa yang dijanjikan atas ibadah dan ketaatan tersebut, yaitu pahala dan ampunan, untuk kemudian melangkah melanjutkan hari-hari berikutnya dengan ketaatan-ketataan yang sama namun dengan kualitas dan kuantitas yang meningkat, untuk kemudian dilengkapi dengan hari raya yang dirayakan dengan gembira dan bahagia sebab telah berhasil menyempurnakan … (lanjutkan dan ulangi).

Dalam konteks itulah masuk kutipan yang populer tiap Idul Fitri, seperti sudah disebut dalam paragraf pertama di atas:

ليس العيد لمن لبس الجديد إنما العيد لمن طاعاته تزيد

ليس العيد لمن تجمل باللباس والركوب إنما العيد لمن غفرت له الذنوب

“Hari raya itu bukanlah saat seseorang mengenakan baju baru. Hari raya adalah saat ketaatan seseorang bertambah maju. Hari raya bukanlah saat seseorang bagus-bagusan pakaian dan kendaraan. Hari raya adalah saat seseorang diampuni kesalahan-kesalahan.”

Jadi, kecenderungan untuk mengenakan baju baru dalam hari raya, terutama Idul Fitri, memang tradisi lama.

Tentu, kutipan Ibnu Rajab itu bukan tentang kritik soal mengenakan baju baru, melainkan jika ketaatan kita tidak maju, mandeg, apalagi mundur, setelah hari raya usai.

Punya/ganti kendaraan baru—jika mampu—dan mengenakan baju baru sambil meningkatkan ketaatan adalah pilihan yang ideal. Betul? Betul.

Ibnu Rajab menyebut Hari Raya Fitri, Hari Raya Adha, dan hari Jumat sebagai “hari raya di dunia”.

Memang ada “hari raya di akhirat”?

Ada.

“Hari raya di surga”.

Apa itu?

Yaitu, saat ahli surga—seperti Anda—kelak berkunjung ke hadirat Tuhan dan memandang Tuhan.

Tidak ada yang paling diharapkan dan disukai oleh penghuni surga selain hal itu.

Berdekat dengan Tuhan adalah satu-satunya hari raya. Tidak ada yang lain.

ليس للمحب عيد سوى قرب محبوبه

“Bagi seorang pecinta, tidak ada hari raya selain saat sedang berdekatan dengan yang dicinta.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Hari Raya dalam Islam at Warung Nalar.

meta

%d bloggers like this: