Ibnu Abbas dan Gus Mus

4 March 2021 § Leave a comment


Sayyidina Abbas, Paman Nabi, pernah ditanya,

أنت أكبر أم رسول الله ﷺ ؟

“Panjenengan atau Rasulullah yang lebih besar?”

Sayyidina Abbas paham maksudnya: Siapa yang lebih tua.

Tapi ia merasa diksinya agak kurang pas, sebab terkait Rasulullah.

Maka, ia menjawab,

هو أكبر مني وأنا ولدت قبله

“Rasulullah lebih besar daripada saya, dan saya lahir sebelum Rasulullah.”

Sambil mengatakan bahwa ia lebih tua ketimbang Rasulullah sebagai jawaban bagi si penanya, ia ingin mengatakan bahwa diksi “besar” lebih layak disandang Rasulullah.

Rasulullah sosok yang kebesaran dirinya tidak dapat dibandingkan dan disandingkan dengan manusia mana pun, bahkan sekadar dalam soal diksi dan tata kata terkait dirinya.

Jawaban di atas dinilai sebagai kecerdasan Sayyidina Abbas.

Putra Abbas, yaitu Ibnu Abbas, juga luar biasa. Dijuluki “Turjuman al-Quran” atau “Sang Penerjemah Alquran” karena pemahamannya terhadap isi Alquran; “al-Bahr” atau “Sang Laut” karena luas dan dalamnya keilmuan Ibnu Abbas; “Hibr al-Ummah” atau “Sang Tinta Umat”: julukan yang menyimbolkan keilmuan.

Semua julukan tersebut terkait ilmu.

Sebab itu, jika sebuah hadis diriwayatkan oleh Ibnu Abbas maka kata setelahnya bukan “radliyallahu ‘anhu”, tetapi “radliyallahu ‘anhuma”.

Maksudnya, meski hadis tersebut diriwayatkan oleh seorang Ibnu Abbas, tetapi doa keridaan bukan hanya untuk Ibnu Abbas, tetapi juga untuk bapaknya, yaitu Abbas. Saking mulia posisi bapak-anak itu dalam pandangan Rasulullah dan dalam Islam.

Trivia:

Nama asli Ibnu Abbas adalah Abdullah. Dinamai “Ibnu Abbas”, “Anaknya Abbas”, sebab ia putra dari bapak yang bernama Abbas, Sayyidina Abbas di atas.

Selain populer dengan sebutan “Ibnu Abbas”, ia juga mendapatkan sebutan (kunyah) “Abu Abbas”, artinya “Bapaknya Abbas. Menunjukkan ia punya anak yang dinamai seperti nama kakeknya.

Menjadi Anaknya Abbas sekaligus menjadi Bapaknya Abbas. Menjadi Ibnu Abbas sekaligus menjadi Abu Abbas.

Saya jadi teringat kiai kita yang sama-sama kita hormati: Gus Mus.

Nama beliau adalah “Mustofa Bisri” (A. Mustofa Bisri). Itu adalah nama walik dari ayahanda: Bisri Mustofa.

(Dari internet, saya tahu, ternyata nama ayahanda “Bisri Mustofa” adalah nama walik dari sang kakek: “Mustofa Bisri”–Nama Gus Mus adalah juga nama sang kakek).

Nah, Gus Mus ini punya anak laki-laki satu-satunya yang namanya adalah walikan dari nama lengkap Gus Mus: Bisri Mustofa (M. Bisri Mustofa).

Jadi, dalam bahasa Arab, Gus Mus bisa dinamai dengan sebutan “Ibnu Bisri” alias anak dari bapak bernama Bisri (Bisri Mustofa), sekaligus “Abu Bisri” alias bapak dari anak bernama Bisri (M. Bisri Mustofa).

Menjadi Ibnu Bisri sekaligus menjadi Abu Bisri.

Just like Ibnu Abbas yang menjadi Ibnu Abbas sekaligus menjadi Abu Abbas.

Jadi, nama walikan dari orang tua atau untuk anak pada mulanya dilakukan oleh salafus saleh.

Jika Anda ingin mengikuti pemberian nama seperti itu, ada contohnya dari orang saleh, baik orang saleh dari kaum salaf Arabia maupun orang salah dari kaum khalaf Nusantara.

NB: Mohon maaf kepada Gus Mus (dan keluarga) kalau ada salah fakta atau salah tulis nama.

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Ibnu Abbas dan Gus Mus at Warung Nalar.

meta

<span>%d</span> bloggers like this: