Nasab

13 November 2020 § Leave a comment


Di bab ke-74 buku ini, Syekh al-Muhasibi membahas tentang nasab dengan mengutip dawuh Nabi bahwa Nabi beliau sama sekali tidak dapat membantu atau menolong anak dan kerabat di hadapan Allah.

Karena tentang nasab maka itu juga tentang kita.

“Keluhuran nasab sama sekali tidak mendatangkan pahala, tidak pula menghalau siksa; manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa; Rasulullah mengatakan kepada putrinya, Siti Fatimah, dan bibinya, Siti Shafiyyah, ‘Aku sama sekali tidak bisa menolong kalian dari Allah.”

Syekh al-Muhasibi menyatakan demikian sebagai tips pengingat andai Anda terpikir membanggakan apalagi menyombongkan nasab.

Lanjutnya, “Allah tidak memberikan syafaat kepada orang yang memiliki nasab mulia, tidak pula kepada lainnya (nasab mulia atau tidak mulia bukan faktor syafaat di akhirat). Allah hanya memberi syafaat kepada orang yang Ia ridai. Baik orang yang memiliki nasab mulia atau tidak memiliki nasab mulia, dalam hal ini sama saja.”

Sementara, di lain riwayat yang populer itu, Nabi menyebut Siti Fatimah, putri beliau, sebagai contoh bahwa hukum tidak pandang bulu: di hadapan hukum, orang mulia dan orang biasa, sama saja.

Menarik.

Kenapa Nabi menyebut kerabat dan anak-turun sendiri sebagai contoh bahwa, di hadapan Allah (dan di hadapan hukum), setiap orang adalah sama?

Sebab, Nabi adalah sosok ultimate alias mentok jika kita bicara kemuliaan.

Jika Nabi Muhammad yang sudah pasti mulia saja tidak menjadikan Siti Fatimah otomatis mulia dan aman di hadapan Allah karena kemuliaan ayahandanya, ya apalagi orang yang orangtuanya atau leluhurnya bukan sosok mulia.

(Tentu saja kita percaya Siti Fatimah pasti mulia dan aman di sisi Allah, tapi kemuliaan itu ia bangun sendiri, bukan otomatis sebab keturunan sosok Nabi yang mulia).

Maksudnya, di hadapan Allah, kita semua sama: sama-sama berpeluang menjadi orang mulia, dan ukurannya adalah takwa, bukan nasab; atau, sama-sama bisa blangsak, dan ukurannya adalah keblangsakan, bukan nasab.

Punya leluhur mulia adalah anugerah. Tapi itu tidak berarti apa-apa untuk A̶n̶d̶a̶ kita jika kita tidak membangun kemulian sendiri.

Punya leluhur biasa-biasa saja atau bahkan leluhur yang gak jelas bukanlah musibah. Itu tidak berarti apa-apa karena kemuliaan bisa kita bangun sendiri.

Membanggakan leluhur yang jelas atau minder karena leluhur yang gak jelas sudah jelas gak ada gunanya di hadapan Tuhan.

(Tapi kalau mau bangga atau minder, secukupnya saja. Manusiawi belaka).

Itu jika Anda melihat nasab dari sisi tasawuf. Terutama jika Anda mau merenung lewat kitab Syekh al-Muhasibi yang sudah diringkas oleh Syekh Izzudin Abdussalam ini. (Beli dan baca sana, mulai halaman 351, paragraf ketiga. Konteksnya mulai halaman 347).

Tapi, lain tasawuf, lain politik yang $%&*#&()@€£=¥₩×/~◇°♡●♡. Yang nasabnya jelas saja dibikin gak jelas untuk diolok-olok, apalagi andai ada yang jelas-jelas nasabnya gak jelas, pastilah citranya dibikin bonyok.

***

Anak-anak muda bangsawan suku Quraisy bermain lempar sasaran.

Jika lemparan mengenai sasaran, mereka akan meneriakkan nama leluhur mereka dengan bangga.

“Aku keturunan Abu Bakar!”

“Aku keturunan Utsman!”

Lalu, giliran anak keturunan budak. Lemparannya mengenai sasaran, lalu berteriak, “Aku adalah keturunan orang yang disujudi oleh para malaikat!”

Anak-anak lain kaget dan penasaran. “Siapa maksudnya?”

“Adam,” kata si anak.

(Kalau ini dari buku “Mati Ketawa Cara Salafi”. Anda juga bisa beli buku ini. Online. Googling aja).

Tagged: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Nasab at Warung Nalar.

meta

%d bloggers like this: