Membela Mualaf

27 January 2020 § Leave a comment


Dalam Akhbar al-Dziraf wa al-Mutamajinin dan Akhbar al-Adzkiya’, Ibnu al-Jauzi (597 H) mengutip cerita seorang Yahudi bernama Harun yang pindah agama. Memeluk Islam. Jadi mualaf. Setelah memeluk Islam, Harun si mantan Yahudi yang sebelah matanya buta ini menghafal Al-Quran dan menguasai ilmu nahwu. Dia berislam dengan baik.

Suatu hari, Harun didebat oleh orang yang menjadi muslim sudah sejak dalam kandungan. Singkat cerita, si muslim-sejak-dalam-kandungan ini kalah debat. Tidak mampu melawan balik dengan argumentasi, akhirnya dia memojokkan Harun dengan argumentum ad hominem.

“Iyhelah! Kamu kan cuma mantan Yahudi yang masuk Islam!” katanya.

Serangan personal itu justru membuat Harun berhasil memorak-porandakan nalar si orang itu untuk kali kedua.

Kata si Harun, “Memangnya masuk Islam itu buruk?!”

Mendapat pertanyaan retorik itu, si orang tersebut tidak bisa berkata-kata lagi.

Coba Anda pikir letak kecerdikan pertanyaan retorik si Harun itu.

Memangnya masuk Islam, menjadi mualaf, itu buruk sehingga seseorang wajar dikata-katai “Anda kan cuma mualaf”?

Ada dua jawaban, “Ya” dan “Tidak”, yang sama-sama bikin nalar si orang itu tersungkur. Menjawab “ya”, dia kalah. Menjawab “tidak”, dia salah.

Pertama: jika memeluk Islam itu—ya!—memang buruk, terus ngapain Anda jadi orang Islam?! Buat apa saya masuk Islam?!

Kedua, jika memeluk Islam tidak buruk, terus ngapain Anda ngatain saya “cuma mantan Yahudi yang masuk Islam”?! Apa vaedah Anda bicara seperti itu?!

Jadi, dari sudut pandang mana pun, melawan argumentasi seorang mualaf dalam sebuah perdebatan dengan menyerang status mualafnya, itu tidak sehat. Bukan serangan yang kukuh. Justru bisa menjadi bumerang.

Tidak ada relevansi antara status mualaf seseorang dengan kadar keilmuannya, dan bahkan keimanannya. Begitu juga dengan status muslim-sejak-dalam-kandungan.

Sebab, ilmu berhak dimiliki oleh orang yang mau belajar. Siapa pun itu.

Ilmu keislaman, misal, bisa dikuasai oleh siapa pun yang mau mempelajarinya, termasuk oleh mualaf, bahkan oleh nonmuslim. Pokoknya, siapa pun mau belajar Islam, dia berhak mendapatkan ilmu keislaman. Semakin banyak seseorang belajar, semakin banyak pengetahuan yang mestinya dia dapatkan. Semakin tekun belajar, semakin jeru pengetahuan. Semakin beragam bacaan, semakin luas pengetahuan.

Maka, jangan heran jika ada orientalis yang bahkan lebih paham tentang satu ilmu keislaman ketimbang orang Islam sendiri. Juga, jangan heran jika ada mualaf yang lebih alim ketimbang orang yang sudah muslim sejak dalam kandungan (Ya tho. Saat baru empat bulan dalam kandungan, orang tuanya mengadakan pengajian empat bulanan. Begitu juga saat tujuh bulan. Begitu lahir, diazani dan diikomati).

Sebab, ya itu tadi, ilmu berhak dimiliki oleh siapa pun yang mau belajar.

Begitu banyak orang Islam, jenjang pengetahuan mereka tentang Islam juga begitu beragam. Mulai dari yang ilmunya sundul langit sampai yang ilmunya sedalam dan sekuat akar tanaman toge. Begitu juga mualaf. Ada yang keilmuannya kemudian menjadi rujukan, ada pula yang pengetahuannya tetap dangkal. Yang membedakan mereka semua adalah faktor proses belajar mereka—juga faktor kecerdasan.

Maka, tidak ada yang lebih baik daripada menjadi pembelajar seumur hidup. Dengan terus belajar, Anda akan mampu berpikir dan berargumentasi secara benar.

*

Versi YouTube:

Tagged: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Membela Mualaf at Warung Nalar.

meta

%d bloggers like this: