Mengenang Rasulullah sebagai Sosok yang Ramah dan Lucu

19 November 2019 § Leave a comment


“Tidak ada orang yang marah pada humor, kecuali orang yang kaku. Tidak ada orang yang menghindari komedi, kecuali orang yang berpikiran sempit.” Al-Jahiz (w. 255/868)

Tulisan ini dibuat pada Rabiul Awal. Bulan Maulid saat banyak kaum muslim mengenang kelahiran Nabi Muhammad. Mengungkapkan cinta dengan ekspresi masing-masing yang barangkali menggambarkan kesan yang bersangkutan tentang Sang Rasul. Termasuk artikel ini; melihat Nabi dari sisi yang sangat manusiawi. Dan memang dibuat untuk merayakan hari kelahiran Sang Nabi.

Aisyah pernah ditanya apakah Rasulullah juga bercanda.

“Ya,” kata Aisyah.

Aisyah bercerita, suatu saat ia bersama seorang perempuan tua di rumah. Lalu, Rasulullah datang. Si nenek ini meminta didoakan agar masuk surga.

“Surga tidak dimasuki nenek-nenek renta,” jawab Rasulullah. Rasulullah segera keluar karena ada panggilan. Saat kembali, Rasulullah melihat nenek-nenek ini menangis.

“Kenapa?” tanya Rasulullah. Rasulullah kemudian tahu bahwa nenek-nenek tadi menangis karena ucapannya bahwa surga tidak dimasuki nenek-nenek renta.

“Sebab,” kata Rasulullah, “kelak Allah mengubah nenek-nenek tua menjadi perawan, penuh cinta, dan sebaya umurnya.”

Kisah di atas dinukil oleh Ibnu al-Jauzi (w. 597/1201) dalam Akhbar al-Adzkiya’ (Dengan rangkaian rawi berbeda, al-Tirmidzi [w. 279/892] meriwayatkan kisah tersebut dalam al-Syama’il al-Muhammadiyyah).

Kisah berikut juga dinukil oleh Ibnu al-Jauzi dalam Akhbar al-Adzkiya’.

Suatu ketika Rasulullah menanyakan nama suami seorang perempuan. Si perempuan lalu menyebutkan nama.

“Yang di matanya ada putih-putihnya itu?” kata Rasulullah.

Si perempuan lalu pulang dan langsung memeriksa mata suaminya.

“Kamu kenapa?”

“Rasulullah bilang ada putih-putih di matamu.”

“Memang kamu tidak tahu ada putih-putih di mataku?”

Sementara, fragmen berikut diriwayatkan oleh al-Tirmidzi dalam al-Syama’il al-Muhammadiyyah.

Suatu saat, seorang laki-laki meminta unta (tunggangan) kepada Rasulullah.

“Kamu bisa naik anak unta,” jawab Rasulullah.

“Aku bisa melakukan apa dengan anak unta?!” kata laki-laki itu. Anak unta tentu saja masih kecil. Tidak layak dijadikan tunggangan. Begitu, dia pikir.

“Bukankah setiap unta juga anak dari unta?!” jawab Nabi.

Nabi Muhammad dan para sahabat bercanda dan membuat lelucon untuk menciptakan suasana menyenangkan. Nabi sendiri memang pribadi yang menyenangkan.

Dalam al-Syama’il al-Muhammadiyyah, al-Tirmidzi membuat bab khusus berjudul Bab Ma Ja’a fi Shifah Muzah Rasulillah Ṣallallahu a’alaihi wa Sallam atau “Bab Tentang Guyonan Rasulullah”. Al-Syama’il al-Muhammadiyyah adalah kitab kumpulan hadis tematik yang mengupas sisi lahiriah dan batiniah Nabi Muhammad; al-khalq dan al-khuluq; gambaran penampilan fisik dan akhlak (perilaku) sang Nabi.

Dalam al-Syama’il, “Bab Tentang Guyonan Rasulullah” memuat enam riwayat tentang bagaimana Nabi bercanda dengan para sahabat. Dan tentu saja, riwayat tentang canda Nabi atau riwayat yang memuat unsur humor lebih banyak daripada yang dicatat oleh al-Tirmidzi.

Kepribadian menyenangkan dan sikap apresiatif Nabi terhadap humor membuat para sahabat menyenangi Nabi. Sebagian mereka bahkan tidak sungkan membuat lelucon yang melibatkan Nabi. Menjadikan Nabi sebagai objek candaan.

Jika contoh-contoh di atas menggambarkan Nabi bercanda, membuat “prank”, “ngerjain”, berikut ini adalah contoh ketika Nabi “dikerjain”. Dinukil oleh Ibnu al-Jauzi (w. 597/1201) dalam Akhbar al-Dziraf wa al-Mutamajinin.

Di Madinah ada seseorang bernama Nuaiman. Jika ada sesuatu yang baru dan menarik, Nuaiman akan membelinya. Suatu hari, dia membeli makanan dan memberikannya kepada Rasulullah.

“Sebagai hadiah untukmu,” kata Nu’aiman.

Beberapa waktu kemudian, si penjual datang, meminta Nuaiman membayar makanan. Nuaiman lalu membawa si penjual kepada Rasulullah.

“Rasulullah, tolong bayarkan makanan tadi.”

“Bukankah tadi kamu memberikannya sebagai hadiah?!”

“Aku tidak punya uang. Tapi aku ingin Rasul makan makanan itu.”

Rasulullah tertawa. Lalu meminta sahabat membayarkannya.

Sepeninggal Nabi, umat Islam tetap menjaga selera humor mereka seakan mewarisi kesukaan Nabi terhadap humor. Pada abad-abad berikutnya, mereka, terutama para ulama, menyusun karya humor. Humor mulai dikembangkan dalam bentuk tulisan.

Adalah al-Jahiz (w. 255/868), seorang pembaru sastra Arab, yang memperkenalkan humor dalam literatur adab atau sastra Arab. Menjadikan humor sebagai bagian dari tema adab. Ia penulis karya humor pertama dalam literatur sastra Arab melalui karyanya, al-Bukhala, sebuah karya humor tematis tentang orang-orang kikir—kikir kepada diri sendiri dan apalagi kepada orang lain.

Setelah al-Bukhala, al-Jahiz menulis karya lain berjudul al-Bayan wa al-Tabyin; bukan karya humor—karya adab—namun sangat kaya akan humor. Dalam karya ini al-Jahiz menyisipkan anekdot-anekdot lucu untuk membantu menghidupkan kembali perhatian pembaca saat mempelajari karya empat jilid tersebut.

Lelucon dalam al-Bayan berisi tentang cerita, tingkah, dan pernyataan sosok-sosok dungu (al-nauka wa al-hamqa) yang “receh” namun cukup menghibur. Berikut ini beberapa lelucon darinya.

 Seseorang berkata kepada Asy’ab, “Kamu tidak bersyukur atas kebaikanku.” Asy’ab menjawab, “Sebab, kebaikan tersebut datang dari orang yang tidak mengharap pahala dari Allah; karena itulah kebaikan tersebut jatuh kepada orang yang tidak bersyukur.”

 Waki’ ibn Abi Sud menyampaikan khotbah di Khurasan: “Sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi selama enam bulan.” Seketika khotbahnya diinterupsi, “Yang benar enam hari.” Waki’ ibn Abi Sud menimpali, “Demi bapakmu! Aku juga mau mengatakan seperti itu, tapi aku lihat itu terlalu sedikit.”

 Suatu saat, Asy’ab mempercepat shalatnya. Sebagian jamaah masjid berkomentar, “Shalatmu cepat sekali!” Asy’ab menjawab, “Sebab shalatku tidak bercampur riya.”

 Pasca-al-Jahiz, humor tetap bertahan dan bahkan berkembang dalam khazanah adab. Sebagian penulis menjadikan humor sebagai sisipan dalam karya adab mereka, sebagaimana al-Jahiz melakukannya al-Bayan wa al-Tabyin karya al-Jahiz. Sebagian yang lain menulis humor secara tematis dalam satu buku khusus humor, sebagaimana al-Jahiz melakukannya dalam al-Bukhala’. Jadi, al-Jahiz adalah sang pionir sekaligus sang inspirator karya humor dalam khazanah sastra Arab, bahkan dalam Islam.

Di antara penulis yang terinspirasi al-Jahiz adalah Ibnu Qutaibah (w. 276/889) yang humor-humornya dalam ʿUyun al-Akhbar terdengar absurd.

Al-Sya’bi berkata kepada tukang jahit yang lewat, “Cintaku putus dan robek. Apakah kamu bisa menjahitnya?” Tukang jahit menjawab, “Bisa … Kalau kamu punya benang dari angin.”

 Seseorang memanggul tong berisi cuka lewat di depan al-Sya’bi. Begitu melihat al-Sya’bi, ia menurunkan barang bawaannya dan bertanya kepada al-Sya’bi, “Siapa nama istri iblis?” Al-Sya’bi menjawab, “Aku tidak menghadiri pernikahan mereka.”

 Ma’n ibn Zaidah seorang yang keagamaannya diragukan. Ia mengirim surat kepada Ibnu ‘Ayyasy disertai lampiran uang seribu Dinar. Isi suratnya: “Aku kirim kepadamu uang seribu Dinar untuk membeli agamamu. Terimalah uangnya dan tulislah bukti penyerahan agamamu kepadaku.” Ibnu ‘Ayyasy lalu mengirim surat berisi serah-terima: “Sudah kuterima uangmu dan kini kuserahkan agamaku kepadamu, kecuali tauhidku; tidak aku serahkan kepadamu. Aku tahu, kamu tidak membutuhkannya.”

Untuk menyebut karya humor lain dalam khazanah adab, ada Ibnu al-Jauzi (w. 597/1201) yang menulis tetralogi humor al-Akhbar: Akhbar al-Hamqa wa al-Mughaffalin, tentang lelucon yang subjek utamanya adalah kedunguan dan orang-orang dungu; Akhbar al-Dziraf wa al-Mutamajinin, tentang lelucon orang-orang yang cerdas memainkan kata-kata; Akhbar al-Azkiya’, tentang lelucon orang-orang cerdas secara umum dari berbagai kalangan, termasuk hewan (fabel); Akhbar al-Nisa’, tentang beragam lelucon terkait perempuan.

Karya lain yang pantas disebut adalah buku tipis milik Abu al-Barakat (w. 984/1577) berjudul al-Murah fi al-Muzah yang sepenuhnya dikhususkan untuk humor. Karya ini dapat disebut sebagai kitab pembelaan atas canda dan tawa. Atas humor.

Akan terlalu banyak jika kitab-kitab humor dalam khazanah Islam dibuatkan daftarnya di sini. Apalagi jika contoh-contoh humornya juga dipaparkan.

Yang ingin disampaikan adalah sebuah fakta bahwa pada abad-abad setelah masa Nabi Muhammad, umat Islam tetap menjaga kesukaan alamiah mereka terhadap lelucon dan prank. Mereka membuat manifesto yang mendukung humor. Mereka melegitimasi tawa dalam karya-karya mereka menggunakan argumentasi dari Alquran, hadis Nabi, dan pernyataan para sahabat Nabi.

Semua itu akan tampak wajar jika mengingat Nabi Muhammad sendiri merupakan pribadi yang menyenangkan. Kita tahu, Nabi Muhammad sendiri dikenal sangat senang bercanda dengan para sahabat. Sosok humoris yang dalam beberapa momen tertawa lebar hingga tampak gigi gerahamnya. Ada karakter mulia di balik seorang humoris dan senang bercanda: ramah, luwes, dan menyenangkan.

Jadi, humor dalam Islam tidak hanya diterima sebagai sesuatu yang alamiah dan manusiawi, tetapi juga mendapatkan legitimasi nabawi.

Dalam al-Murah fi al-Muzah, Abu al-Barakat mengutip dialog Sufyan al-Tsauri (w. 161/778), tokoh generasi tabi’ al-tabi‘in yang dijuluki sebagai amir al-mu’minin fī al-hadis atau “pemimpin kaum mukmin dalam hadis”.

Sufyan al-Tsauri ditanya, “Apakah bercanda itu buruk?”

“Malah sunnah,” jawab Sufyan al-Tsauri. Sebab, Nabi sendiri mengatakan ia juga tak sungkan bercanda.

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad.

Tagged: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Mengenang Rasulullah sebagai Sosok yang Ramah dan Lucu at Warung Nalar.

meta

%d bloggers like this: