Adab Jimak dalam Kitab Klasik

29 September 2019 § Leave a comment


“Kalau hasrat sudah mau … ya mesti. Si istri tidur (telentang) aja. Enggak sakit kok.”

 “Masa seks itu harus mood suami-istri?!”

 “Tidak ada dalam Islam … Sama-sama mood itu dalam agama tidak ada.”

Demikian kutipan seseorang, Maret lalu.

Beberapa orang memang tidak perlu lagi mendapatkan pendidikan seks, tetapi masih perlu mendapatkan adab berhubungan seks.

Jadi, seperti apa adab hubungan seks dalam Islam?

Dr. Wahbah Zuhaili (w. 2015 M), dalam karya besarnya, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, menulis bagian kecil berjudul “adab al-jima’”. Sebagaimana judulnya, bagian itu berisi pandangan Islam tentang adab jimak, tata krama bersanggama, sopan-santun bercinta: yang sebaiknya, yang boleh, dan yang terlarang. Syekh Wahbab menulis bagian itu dari hasil rangkuman tujuh kitab yang isinya saling melengkapi:

  1. Ihya Ulumiddin karya Imam al-Ghazali (w. 505 H),
  2. Al-Mughni karya Ibnu Qudamah (w. 620 H),
  3. Al-Adzkar karya Imam al-Nawawi (w. 676 H),
  4. Mukhtashar Minhaj al-Qashidin karya Khathib al-Jabal (w. 689 H)— Mukhtashar Minhaj al-Qashidin adalah kitab ringkasan dari Minhaj al-Qashidin karya Ibnu al-Jauzi. Dan Minhaj al-Qashidin adalah kitab ringkasan dari Ihya Ulumiddin.
  5. Fath al-Mu’in karya Zainuddin al-Malibari (abad ke-10 H),
  6. Kasyf al-Qina’ karya Mansur ibn Yunus al-Bahuti (w. 1051 H),
  7. Nail al-Authar karya al-Syaukani (w. 1250).

Syekh Wahbah merangkum isi bab adab jimak ketujuh kitab itu dalam sembilan paragraf pendek-pendek.

Sebenarnya, di antara ketujuh rujukan itu, beberapa cukup pendek menjelaskan tata krama bersanggama, seperti Mukhtashar Minhaj al-Qashidin dan Fath al-Mu’in, sehingga sangat memungkinkan disalin teks aslinya dan diterjemahkan di tulisan ini (silakan dikoreksi jika kurang akurat).

Berikut adalah teks lengkap adab jima’ dalam Mukhtashar Minhaj al-Qashidin.

فى آداب الجماع، يستحب البداءة بالتسمية، والانحراف عن القبلة، وأن يتغطى هو أهله بثوب، وأن لا يكونا متجردين، وأن يبدأ بالملاعبة والضم والتقبيل. ومن العلماء من استحب الجماع يوم الجمعة، ثم إذا قضى وطره فليتمهل لتقضى وطرها، فان إنزالها ربما تأخر

ومن الآداب: أن تأتزر الحائض بإزار من حَقْويها إلى ما بين الركبة إذا أراد الاستمتاع بها، ولا يجوز وطؤها فى الحيض، ولا فى الدُّبُرِ، ومن أراد أن يجامع مرة ثانية فليغسل فرجه ويتوضأ

ومن الآداب: أن لا يحلق شعره، ولا يقلم أظافره، ولا يخرج دما وهو جنب، وأما العزل فهو مباح مع الكراهة

Tata krama bersanggama.

Dianjurkan memulai sanggama dengan membaca basmalah. Tidak menghadap kiblat, mengenakan kain (tidak sampai telanjang bulat). Diawali dengan foreplay: saling cumbu, pelukan, ciuman. Sebagian ulama menganjurkan jimak dilakukan pada hari Jumat. Jika suami sudah hendak orgasme, lakukan pelan-pelan (tahan) agar istri juga orgasme. Sebab, barangkali istri mengalami orgasme belakangan.

Di antara tata krama sanggama, jika ingin ena-enaan saat istri sedang haid, sebaiknya si istri mengenakan kain yang menutupi bagian pinggul hingga lutut. Tidak boleh melakukan penetrasi lewat vagina saat istri haid, juga lewat dubur. Jika suami ingin melakukan seks lagi (setelah orgasme sebelumnya), sebaiknya basuh penis dulu, lalu berwudu.

Di antara tata krama sanggama, suami sebaiknya tidak bercukur, tidak memotong kuku, dan tidak mengeluarkan darah saat masih junub (belum bersuci, mandi besar). ‘Azl atau mencabut penis saat ejakulasi hukumnya mubah ma’a al-karahah.

Demikian penjelasan adab jimak Mukhtashar Minhaj al-Qashidin.

Dan berikut ini adalah teks adab jima’ dalam Fath al-Mu’in.

في بيان بعض آداب النكاح.  يجوز للزوج كل تمتع منها بما سوى حلقة دبرها ولو بمص بظرها أو استمناء بيدها لا بيده وإن خاف الزنا خلافا لأحمد ولا افتضاض بأصبع ويسن ملاعبة الزوجة إيناسا وأن لا يخليها عن الجماع كل أربع ليال مرة بلا عذر وأن يتحرى بالجماع وقت السحر وأن يمهل لتنزل إذا تقدم إنزاله وأن يجامعها عند القدوم من سفره وأن يتطيبا للغشيان وأن يقول كل ولو مع اليأس من الولد بسم الله اللهم جنبنا الشيطان وجنب الشيطان ما رزقتنا وأن يناما في فراش واحد

Tentang beberapa adab jimak.

Suami boleh melakukan segala jenis ena-enaan bersama istriselain penetrasi di dubur—bahkan sampai menjilat klitoris istri atau mengeluarkan mani dengan tangan istri (dalam bahasa Anda: coli alias kocok peli), bukan dengan tangan sendiri, jika suami khawatir melakukan zina (berbeda dengan pendapat Imam Ahmad yang melarang coli meski dengan tangan istri). Tidak boleh “merobek keperawanan” istri menggunakan jari. Dianjurkan mencumbu istri secara ramah. Jangan membiarkan istri tanpa persetubuhan selama empat hari tanpa alasan. Cari waktu persetubuhan saat sahur (sebelum subuh). Jika akan ejakulasi, tahan, pelan-pelan, agar istri juga dapat ejakulasi. Suami hendaknya menjimak istri saat suami baru datang dari perjalanan. Suami-istri hendaknya memakai parfum untuk persetubuhan. Jangan lupa membaca doa,

بسم الله اللهم جنبنا الشيطان وجنب الشيطان ما رزقتنا

(Bismillah. Ya Allah, jauhkan kami dari setan. Dan jauhkan setan dari anak yang kauberikan kepada kami), meski persetubuhan tersebut tidak untuk membuat anak. Suami-istri hendaknya tidur di satu ranjang (usai persetubuhan).

Demikian, adab jimak dalam Fath al-Mu’in.

Dalam kitab-kitab selebihnya, selain Mukhtashar Minhaj al-Qashidin dan Fath al-Mu’in, bab adab jimak dipaparkan agak panjang. Terlalu panjang untuk disalin dan diterjemahkan di tulisan ini. Tapi barangkali cukup ditambahkan yang tidak disebutkan dalam dua kitab tersebut. Sebagai pelengkap. Dalam Ihya, misal, adab jimak dipaparkan lebih detail. Dicantumkan doa-doa yang dapat dibaca bukan hanya sebelum sanggama (Imam al-Ghazali memaparkan doa-doa yang lebih banyak), tetapi juga doa yang dapat dibaca saat hendak ejakulasi! Coba bayangkan, saat hendak mencapai puncak kenikmatan saja, orgasme, Anda masih dianjurkan membaca doa. Jika bisa mengamalkannya, Anda hebat! Doa yang dibaca saat hendak ejakulasi tersebut adalah:

الحمد لله الذي خلق من الماء بشراً فجعله نسباً وصهراً وكان ربك قديراً

“Segala puji bagi Allah yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (mempunyai) keturunan dan musaharah dan Tuhanmu adalah Mahakuasa.”

(Doa di atas surah al-Furqan: 54: وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا ۗ وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا)

Imam al-Ghazali menambahkan, di antara adab jimak adalah tidak berjimak sebelum tidur. Makruh. Sebab, suami-istri bisa ketiduran dalam kondisi junub, tidak suci. Jika pun tetap ingin bercinta pada malam hari, sebelum tidur disunahkan berwudu.

Imam al-Ghazali juga menjelaskan, seorang suami mesti menahan ejakulasi, jangan cepat-cepat ejakulasi, agar istri juga dapat mencapai orgasme. Orgasme istri barangkali belakangan. Dan jika suami ejakulasi lebih cepat, itu akan merusak hasrat istri. Menyakiti hati istri. Walaupun sama-sama mencapai orgasme namun dalam waktu berbeda, perbedaan waktu orgasme tersebut dapat menimbulkan masalah. Maka, diupayakan keduanya mencapai orgasme bersamaan. Sebab, bagi istri, orgasme bersamaan itu lebih nikmat.

Bagi al-Ghazali, al-‘azl atau mencabut penis saat ejakulasi bukan makruh, melainkan mubah—tapi ada keutamaan yang luput dalam al-‘azl.

Sementara, dalam al-Mughni, bab sopan santun bercinta dipaparkan agak panjang karena diperkaya dengan dalil-dalil hadis. Sebagai tambahan adab jimak, dalam kitab ini dipaparkan anjuran untuk tidak banyak bicara saat bercinta. Juga penjelasan bahwa persetubuhan mesti diawali dengan foreplay untuk membangkitkan hasrat dan nafsu sehingga percintaan menjadi semakin nikmat.

Sedangkan dalam al-Adzkar, karena kitab hadis, ia memaparkan hadis-hadis adab jimak yang menjadi dasar dari rumusan adab-adab jimak dalam kitab-kitab fikih. Demikian juga Nail al-Authar, kitab berisi hadis-hadis fikih. Memaparkan hadis-hadis adab persetubuhan suami-istri.

Demikianlah beberapa adab jimak, tata krama bersanggama, sopan santun dalam bercinta. Ena-enaan.

Jadi, apa yang paling penting dan perlu mendapatkan garis bawah dalam pemaparan di atas?

Adab.

Adab adalah ما يحسن من الأخلاق وفعل المكارم (sesuatu yang baik berupa akhlak dan tindakan-tindakan mulia). Dalam KBBI, adab adalah kehalusan dan kebaikan budi pekerti; kesopanan; akhlak. Maka, jika Anda perhatikan, pemaparan adab jimak dalam kitab-kitab karya ulama kita di atas begitu ramah. Begitu menekankan akhlak.

Perhatikan pemaparan Imam al-Ghazali dalam Ihya yang begitu menghormati perempuan, istri. Dalam persetubuhan suami-istri, al-Ghazali mengingatkan kaum suami agar tidak menyakiti hati istri dengan cara cepat ejakulasi—mementingkan diri sendiri. Dalam Fath al-Mu’in suami dianjurkan mencumbu istri secara ramah. Suami diingatkan agar tidak mengabaikan hak seksual istri.

Anda dapat memahami semua itu dengan bahwa tidak boleh ada kekerasan dalam urusan seksual: mental maupun fisik.

Penjelasan adab jimak yang begitu ramah di atas adalah pengejawantahan dari ayat yang menyuratkan pesan mulia ini:

وعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ

Dan bergaullah dengan mereka dengan cara yang makruf (al-Nisa: 19).

Meski semua pemaparan adab jimak dalam kitab-kitab di atas disampaikan dari sudut pandang laki-laki, suami, ditulis oleh kaum mereka, namun substansinya berlaku secara uniseks. Sikap ramah mesti dilakukan oleh suami dan istri, perlakukan yang makruf mesti dijalankan oleh suami dan istri. Tidak hanya dalam urusan seksual, tetapi juga dalam keseluruhan kehidupan rumah tangga. Yang juga penting: kepuasan seksual mesti diupayakan diraih oleh suami dan istri. Cara yang bisa diraih oleh suami untuk mendapatkan kepuasaan seksual berlaku juga untuk konteks istri.

Jika sudah demikian, akan mudah memahami hadis ini:

إذا دعا الرجل امرأته إلى فراشه فأبت فبات غضبان عليها لعنتها الملائكة حتى تصبح

Jika suami mengajak istrinya ke ranjang namun istri menolak dan si suami marah maka istri dilaknat malaikat hingga pagi (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis di atas menyiratkan kewajiban menerima ajakan hubungan seksual. Sebab, konsekuensi atas penolakan di situ menggunakan diksi yang cukup keras.

Ada pemahaman yang mencoba mengaitkan secara filosofis antara hadis di atas dengan ayat sebelumnya: jika seorang suami marah dan memaksa berhubungan seks maka itu bukan sikap yang makruf, bukan sikap yang patut—tidak sesuai dengan pesan ayat.

Begitu juga jika seorang istri menolak ajakan sanggama suaminya tanpa alasan yang dapat diterima; itu bukan sikap yang makruf, bukan sikap yang patut—tidak sesuai dengan pesan ayat.

Jadi, ajakan berhubungan seks atau penolakan atas ajakan itu mesti dilakukan secara makruf.

Ada juga pemahaman, malaikat hanya akan memberi laknat jika si suami marah karena istri menolak diajak jimak. Jika suami tidak marah atas penolakan istri, ya tidak ada laknat. Bisa jadi si suami marah karena istri menolak tanpa alasan yang bisa diterima. Jika istri menolak karena alasan yang mestinya dipahami, tidak ada alasan bagi suami untuk marah dan memaksa.

Maka, seorang istri tidak sepatutnya menolak ajakan berhubungan seks jika memang tidak ada alasan untuk menolak dan seorang suami tidak sepantasnya marah dan memaksa berhubungan seks tanpa mau tahu kondisi istri.

Istri macam apa yang menolak ajakan jimak suaminya pada saat tidak ada alasan untuk menolak?! Suami macam apa yang memaksa menjimak istrinya tanpa mau tahu kondisi istri?

Dan itu berlaku silang.

هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ

Mereka adalah pakaian bagi kalian dan kalian adalah pakaian bagi mereka (al-Baqarah: 187).

Bersikap baik dan ramah adalah kunci dalam adab jimak.

Tagged: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Adab Jimak dalam Kitab Klasik at Warung Nalar.

meta

%d bloggers like this: