Keakraban Antariman

19 August 2019 § Leave a comment


Di Madinah ada seseorang bernama Nuaiman. Kesukaannya, jika ada sesuatu yang baru dan menarik, Nuaiman akan membelinya.

Suatu hari, dia membeli makanan dan memberikannya kepada Rasulullah.

“Sebagai hadiah untukmu,” kata Nuaiman.

Beberapa waktu kemudian, si penjual datang, meminta Nuaiman membayar makanan. Nuaiman lalu membawa si penjual kepada Rasulullah.

“Rasul, tolong bayarin makanan yang tadi aku kasih.”

“Lah, gimana?! Tadi kamu bilang hadiah?!”

“Aku bener-bener lagi gak punya duit. Tapi aku ingin Rasul makan makanan itu.”

Rasulullah ketawa. Kemudian meminta sahabat membayarkan makanan.

(Sebagai informasi: Jika Rasulullah ketawa, gigi gerahamnya sampai kelihatan. Artinya, tertawa lebar. Bisa jadi karena saking lucunya).

Si Nuaiman dijuluki himar atau si keledai. Suatu hari, dia minum khamar, lalu dihadapkan kepada Nabi dan dihukum cambuk. Di tengah demikian, seseorang mendoakan agar si Nuaiman dilaknat Tuhan.

“Jangan laknat dia!” Nabi merespons. “Demi Tuhan! Nuaiman ini mencintai Allah dan Rasulullah.”

Kisah di atas dapat Anda jumpai minimal di tiga sumber: Shahih al-Bukhari, Hilyah al-Auliya wa al-Thabaqat al-Ashfiya’ karya al-Ashbihani, dan Akhbar al-Dziraf wa al-Mutamajinin karya Ibnu al-Jauzi.

Poin?

Tidak ada orang yang bakal berani “ngerjain” Rasulullah macam Nuaiman ini kecuali jika yang bersangkutan kenal dan akrab dengan Rasulullah. Karena mengenal Nuaiman, Rasulullah malah ketawa lebar saat “dikerjain” si himar ini. Rasulullah tahu Nuaiman senang guyon. Nuaiman tahu Rasulullah tidak akan marah “dikerjain”. Rasulullah tahu Nuaiman “ngerjain” bukan karena niat mempermalukan.

Saling kenal dan saling akrab membuat Rasulullah tak tersinggung saat “dikerjain” Nuaiman. Dan tentu saja, dua pihak yang saling kenal dan saling akrab tidak akan terpikir saling menyinggung perasaan. Tahu batas. Namanya juga kenal, akrab.

Hilangkan kebencian. Atau, paling tidak, tahan kebencian. Kenal dan akrab adalah kunci.

Jadi, jika Anda orang Islam ingin bikin lelucon tentang Kristen, kenal dan akrab dulu dengan orang-orang Kristen. Hilangkan sentimen dan kebencian terhadap yang lain. Jadi, saat Anda membuat lelucon tentang orang lain, orang lain tahu, Anda melakukannya bukan atas dasar kebencian, melainkan atas dasar keakraban. Orang lain tahu Anda bukan tipe pembenci. Pun jika Anda ngelucu tanpa dasar kebencian namun tetap membuat yang lain tersinggung, Anda tidak akan keberatan meminta maaf.

Begitu juga jika Anda orang Kristen jika ingin bikin lelucon tentang Islam. Kenal dan akrab dulu.

Begitu juga yang lain.

Pokoknya semua.

Salah satu joke terkenal yang dinisbahkan kepada Gus Dur (dikutip dari islami.co):

Seorang kiai mengeluh karena anaknya murtad, masuk Kristen.

“Sampean ini jangan mengeluh terus kepada Tuhan!” kata Gus Dur. “Tuhan juga punya masalah yang sama dengan sampean: anak Tuhan satu-satunya, Yesus, juga masuk Kristen.”

Siapa yang tersinggung dengan joke Gus Dur?

Bisa jadi, Tuhan pun tak.

Ya, sebab Gus Dur akrab dengan semua dan menjadi kecintaan bersama.

Tagged: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Keakraban Antariman at Warung Nalar.

meta

%d bloggers like this: