Memahami Makna Sunnah

2 August 2019 § 1 Comment


Belakangan, kata “sunnah” digunakan di ranah yang lebih luas dan melampaui koridor ilmu keislaman yang telah umum dikenal. Maka, pada era ini, kita dengar istilah “ustadz sunnah” atau “masjid sunnah”.

2018-10-21 20.11.46

Dalam frasa “ustadz sunnah” atau “masjid sunnah”, kata “sunnah” digunakan secara aksiologis: dipakai secara fungsional untuk menyiratkan bahwa ada masjid yang “bukan masjid sunnah”, bahwa ada ustad yang “bukan ustad sunnah”. Kata “sunnah” dalam frasa-frasa tersebut dimunculkan secara melompat tanpa melewati tahapan epistemologis yang jelas dan meyakinkan—dengan kata lain, kita patut membedah hakikat “sunnah” dan mendefinisikannya secara tepat sebelum ia digunakan dan dinisbahkan pada isu-isu tertentu.

Dan karena “sunnah” telah menjadi nomenklatur khusus dalam ilmu keislaman maka, sebelum kata “sunnah” itu digunakan dan dinisbahkan pada isu-isu tertentu, sudah semestinya kita menengok dan memahami “sunnah” dalam sudut pandang ilmu keislaman, yaitu ilmu hadis, ilmu fikih, dan ilmu ushul fikih.

Apa pengertian sunnah menurut ketiga disiplin ilmu tersebut? Seperti apa karakteristik nomenklatur sunnah dalam ketiga disiplin ilmu tersebut? Sunnah yang bagaimanakah yang menjadi sumber syariat dan karenanya harus diikuti—adakah sunnah yang tidak menjadi sumber syariat dan karenanya tidak harus diikuti?

Dengan memahami dan mendudukkan persoalan sunnah di tempatnya yang tepat, kita dapat menimbang dan menilai isu-isu yang menggunakan sunnah sebagai jargon—seperti isu “ustad sunnah”, “masjid sunnah”, dan lain-lain: apakah penggunaan kata sunnah tersebut sudah tepat atau malah sebaliknya: merupakan  penyalahgunaan.

Pengertian Sunnah

Secara bahasa, “sunnah” (السنة) artinya الطريقة (al-tharîqah) atau “cara”, “metode”.  Pada asalnya, sunnah artinya jalan yang dirintis seseorang, kemudian menjadi jalan lewat bagi orang-orang sesudahnya.[1]

Sunnah juga berarti “cara” (الطريقة) dan “perilaku” (السيرة), baik terpuji maupun tercela.[2]

Dalam sabda Nabi disebutkan,

من سن سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها إلى يوم القيامة ومن سن سنة سيئة فعليه وزرها ووزر من عمل بها إلى يوم القيامة

“Barang siapa merintis perilaku baik, ia mendapatkan pahala atas perilakunya dan juga pahala dari orang yang melakukannya—hingga hari kiamat. Barang siapa merintis perilaku buruk, ia mendapatkan dosa atas perilakunya dan juga dosa dari orang yang melakukannya –hingga hari kiamat” (HR Muslim dari Jarir ibn Abdillah al-Bajali).

Sementara, secara istilah, sunnah memiliki beragam pengertian sesuai bidang keilmuan—paling tidak tiga bidang keilmuan: ilmu hadis, ilmu fikih, dan ilmu ushul fikih. Keragaman pengertian sunnah tersebut muncul karena perbedaan tujuan dan fokus para ulama ketiga bidang ilmu tersebut dalam memandang sunnah.

Dalam bidang ilmu hadis, pengertian sunnah adalah sesuatu yang terkait dengan Nabi: ucapan Nabi, perbuatan Nabi, persetujuan Nabi, gambaran fisik dan akhlak Nabi, maupun riwayat hidup Nabi (sirah).[3]

Ulama hadis memandang Rasulullah dari sudut bahwa ia adalah imam atau pemimpin pemberi petunjuk. Allah telah menyebutkan bahwa Rasulullah adalah teladan dan panutan.  Mereka, para ulama hadis, menukil semua yang terkait dengan Nabi: riwayat hidupnya (sirah), akhlaknya, karakternya, kabar tentangnya, ucapan-ucapannya, dan tindakannya, baik terkait dengan hukum syariat ataupun tidak terkait.[4]

Maka, dikenal jenis kitab-kitab hadis susunan ulama hadis yang diberi sebutan berdasarkan kontennya, berdasarkan ragam tema hadis yang dinukil. Ada yang disebut dengan al-jâmi’, yaitu kitab hadis yang menghimpun hadis-hadis dengan tema yang menyeluruh, seperti akidah, ahkam (hukum-hukum), sirah, adab (tata krama), tafsir, kiamat, manaqib (tentang karakteristik terpuji dan luar biasa), dan lain-lain. Contoh kitab hadis jenis ini adalah al-Jami’ al-Shahih karya al-Bukhari, dan al-Jami’ karya al-Tirmidzi.[5]

Ada yang disebut dengan al-sunan. Contoh kitab hadis jenis ini empat kitab populer: Sunan al-Tirmidziy, Sunan Abî Dâwud , Sunan al-Nasâ’iy, dan Sunan Ibn Mâjah.[6] Istilah al-sunan digunakan untuk kitab hadis yang mengimpun hadis-hadis hukum yang disusun berdasarkan pembaban fikih (taharah, shalat, dan seterusnya).

Ada yang disebut dengan al-musnad, yaitu kitab yang menghimpun hadis berdasarkan urutan nama sahabat yang lebih dulu memeluk Islam. Contoh kitab jenis ini adalah Musnad al-Imâm ibn Hanbal.[7]

Dalam bidang ilmu fikih, pengertian sunnah adalah suatu hukum yang jelas berasal dari Nabi namun tanpa ada keharusan untuk dilakukan. Dalam bidang ini, sunnah merupakan bagian dari hukum yang lima dalam fikih atau al-ahkâm al-khamsah (wajib, haram, sunnah, makruh, dan mubah). Dan, dalam pengertian ini, terkadang, sunnah digunakan sebagai lawan kata “bid’ah”. Di kalangan ulama fikih dikenal istilah “talak sunnah” dan “talak bid’ah”.[8]

Ulama fikih memandang Rasulullah dari sudut bahwa tindakannya tidak terlepas dari fungsinya sebagai petunjuk untuk hukum syariat. Mereka membahas hukum syariat pada tindakan-tindakan manusia, baik wajib, haram, mubah, dan seterusnya.[9]

Sunnah dalam bidang ilmu fikih juga berarti sebutan untuk sesuatu yang dilakukan oleh Nabi secara terus-menerus, rutin—hanya sesekali Nabi meninggalkannya.[10] Sunnah dalam pengertian ini untuk membedakan dengan pengertian “mustahab”: sesuatu yang dilakukan oleh Nabi tapi tidak secara terus-menerus.[11] Seperti kunut Subuh. Menurut Imam al-Syafi’i, kunut dalam shalat subuh itu sunnah. Sedangkan menurut Imam Malik, kunut subuh itu mustahab.[12] Artinya, menurut Imam Syafi’i, Nabi jauh lebih sering melakukan doa kunut dalam shalat subuh dan hanya sesekali Nabi tak melakukannya. Sedangkan menurut Imam Malik, sebaliknya.

Sedangkan dalam bidang ilmu ushul fikih, pengertian sunnah adalah sesuatu selain Alquran[13] yang bersumber dari Nabi, baik berupa perkataan Nabi (qaul)—disebut hadis[14], tindakan Nabi (fiʻl), atau persetujuan Nabi (taqrîri).[15]

Karena itu, dalam pengertian ini, sunnah terbagi menjadi tiga: sunnah qauliyyah, sunnah fiʻliyyah, dan sunnah taqrîriyyah.[16] 

Sunnah qauliyyah adalah hadis-hadis yang disampaikan Nabi untuk berbagai kepentingan dan dalam beragam kesempatan.[17] Ini jenis sunnah paling banyak.[18] Di antara contohnya:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وِإنَّمَا َلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ رَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ رَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat. Dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang jadi niatnya. Orang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasulnya. Orang yang berhijrah untuk mendapatkan dunia atau ingin menikahi wanita maka hijrahnya adalah pada apa yang jadi tujuan yang bersangkutan. (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmizi, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad dari Umar ibn al-Khathab).

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

“Tidak boleh menimpakan kerugian kepada orang lain dan tidak boleh membalas dendam atas kerugian yang ditimpakan orang lain” (HR Malik dari Amr ibn Yahya al-Mazini dari ayahnya dari Rasulullah).[19]

Sunnah fiʻliyyah adalah tindakan-tindakan Nabi, seperti cara Nabi mengerjakan shalat lima waktu dan cara Nabi menjalankan ibadah haji.

Nabi bersabda,

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Kerjakanlah shalat sebagaimana kalian lihat aku mengerjakannya” (HR. Bukhari dari Malik ibn al-Huwairits).

Sunnah taqrîriyyah  adalah persetujuan Nabi terhadap perkataan atau tindakan sahabat. Jika Nabi diam saja, tidak membantah perkataan/tindakan sahabat atau malah menyetujuinya dan menganggapnya baik, maka perkataan/tindakan sahabat itu dianggap bersumber dari Nabi.[20]

Contohnya adalah riwayat tentang dua sahabat yang melakukan perjalanan. Saat tiba waktu shalat, mereka bertayamum, sebab mereka tidak menemukan air. Setelah beberapa waktu, mereka baru menemukan air. Salah seorang sahabat kemudian berwudu untuk mengulangi shalat. Sementara, sahabat yang satu lagi tidak melakukan itu. Mereka lalu menemui Rasulullah dan menceritakan peristiwa itu. Rasulullah mengomentari sahabat yang tidak mengulangi shalat,

أَصَبْتَ السُّنَّةَ وَأَجْزَأَتْكَ صَلَاتُكَ

“Kau telah menjalankan sunnah dan shalatmu sudah cukup.”

Sementara, kepada sahabat yang berwudu dan mengulangi shalat, Rasulullah berkomentar,

لَكَ الْأَجْرُ مَرَّتَيْنِ

“Kau mendapatkan dua pahala” (HR. Abu Dawud dari Abu Sa’id al-Khudzri).

Pilihan masing-masing dibenarkan oleh Rasulullah.

Contoh lain adalah saat Nabi hendak mengutus Mu’adz ibn Jabal ke Yaman.

“Bagaimana kau akan bertindak jika kau dihadapkan pada persoalan?” tanya Nabi. Muadz menjawab, “Aku akan memutuskan dengan apa yang sudah ada dalam Alquran.”

“Jika hal itu tidak ada dalam Alquran?” tanya Nabi kembali. Muadz menjawab, “Aku akan memutuskan dengan apa yang telah ada dalam sunnah Rasulullah.”

“Jika hal itu tidak ada dalam sunnah?” tanya Nabi, lagi. Muadz menjawab, “Aku akan berijtihad menggunakan pendapatku dan aku tidak akan ceroboh.”

Nabi kemudian menepuk dada Muadz seraya bersabda,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَا يُرْضِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Alhamdulillah. Allah telah memudahkan utusan Rasulullah pada apa yang diridahi Rasulullah” (HR Ahmad dari Mu’adz ibn Jabal).

Menurut ulama ushul fikih, sunnah terkadang digunakan untuk menyebut sesuatu yang ada dalil syariatnya, baik dari Alquran, Nabi, atau dari ijtihad para sahabat. Contoh sunnah dari ijtihad para sahabat adalah gagasan mengumpulkan mushaf dan menyatukan bacaan Alquran.

Nabi bersabda,

عليكم بسنتى وسنة الخلفاء الراشدين من بعدى

“Berpeganglah pada sunahku dan sunnah khulafurrasyidin setelahku” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi dari al-‘Irbadh ibn Sariyah).

Sunnah dalam pengertian ilmu uhsul fikih inilah yang jadi lawan kata bid’ah.[21]

Ulama ushul fikih memandang Rasulullah dari sudut bahwa ia adalah penetap hukum syariat (al-musyarriʻ) yang meletakkan kaidah-kaidah untuk para mujtahid sesudah masanya. Mereka berfokus pada ucapan-ucapan Nabi, tindakan-tindakan Nabi, dan persetujuan-persetujuan Nabi yang memuat ketetapan hukum.[22]

Seperti hadis إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ di atas yang menjadi dasar ulama ushul untuk merumuskan kaidah fikhiyah الأمور بمقاصدها atau “Sesuatu tergantung pada tujuannya”.[23] Atau hadis لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ yang menjadi dasar rumusan kaidah fikhiyyah الضرر يزال atau “kerugian/bahaya mesti dihilangkan”.[24] Atau hadis يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا (Permudah dan jangan mempersulit. HR Bukhari dan Muslim dari Anas ibn Malik) yang menjadi dasar rumusan kaidah fikhiyyah المشقة تجلب التيسير  atau “kondisi sulit membawa pemudahan”.[25] Dan lain-lain.

Sunnah Sebagai Sumber Hukum Islam

Sunnah sebagai sumber hukum Islam (syariat) adalah sunnah dalam rumusan disiplin ushul fikih,[26] yaitu ucapan, tindakan, dan persetujuan Nabi Muhammad dengan karakteristik sebagai berikut:

  1. dalam konteks beliau sebagai Rasulullah;[27]
  2. dimaksudkan sebagai al-tasyrî’ wa al-iqtidâ’ (hukum/dalil dan mesti diikuti);
  3. dengan catatan bahwa sunnah tersebut harus sahih.[28]

Setiap sunnah tasyrî’iyyah yang terbukti sahih adalah hujah (sumber hukum Islam) dan wajib diikuti.[29]

Dengan batasan demikian, adakah sunnah yang tidak tasyrî’iyyah—tidak dimaksudkan sebagai hukum—dan karenanya tidak mesti diikuti?

Menurut Abdul Wahab Khalaf, selain menjadi Rasulullah, di sisi lain Nabi Muhammad adalah basyar (human being, manusia sebagaimana umumnya).

قُلْ إِنَّما أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحى إِلَيَّ

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini seorang manusia—seperti kalian—yang menerima wahyu (Al-Kahf: 110).[30]

Karena itu, hal-hal yang bersumber dari Nabi Muhammad (sunnah: ucapan, tindakan, persetujuan) dan menjadi sumber hukum Islam adalah yang terbatas pada posisi beliau sebagai rasul atau manusia yang menerima wahyu, bukan posisi beliau sebagai basyar atau manusia “saja”.

Maka, menurut Khalaf, hal-hal alami-manusiawi (ucapan dan tindakan) yang bersumber dari Nabi Muhammad bukanlah tasyrî’,[31] bukan hukum yang memiliki konsekuensi atau akibat hukum.

Secara terperinci, Khalaf menulis tiga hal (kategori) yang bersumber dari Nabi Muhammad tapi tidak menjadi tasyrî’ atau bukan hukum, yaitu

  1. Hal-hal atau perilaku yang bersifat alami-manusiawi, seperti cara Nabi duduk, berdiri, berjalan, tidur, makan, minum …. Hal-hal semacam itu bukan tasyrî’. Sebab, semuanya bersumber dari perilaku alami manusia, bukan bersumber dari risalah Nabi. Kecuali, jika perilaku alami-manusiawi tersebut disertai petunjuk atau dalil bahwa perilaku tersebut mesti diikuti maka ia menjadi tasyrî’.[32] Jadi, prinsipnya, segala hal alami-manusiawi yang dilakukan Nabi Muhammad bukanlah tasyrî’ kecuali ada dalil yang menunjukkan bahwa ia adalah tasyrî’.
  2. Hal yang bersifat bakat dan kecerdasan manusiawi terkait urusan duniawi.[33] Sahabat Anas meriwayatkan, suatu ketika Rasulullah melewati orang-orang yang sedang melakukan pembuahan terhadap pohon kurma, lalu berkata, “Andai kalian tidak melakukannya, itu akan baik.” Namun, setelah berapa lama, kurma yang dihasilkan malah buruk. Rasulullah bertanya, “Bagaimana dengan pohon kurma kalian?” Mereka pun menceritakan kondisi kurma yang dihasilkan. Rasulullah kemudian bersabda dengan kalimat sangat populer,

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

“Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian” (HR. Muslim).

Dalam Syarh Muslim, Imam Nawawi menempatkan hadis di atas dalam bab berjudul “Bab Keharusan Menaati Apa yang Diucapkan Nabi Sebagai Syariat, Bukan Apa yang Disebutkan Nabi Terkait Penghidupan Dunia Berdasarkan Pendapat Beliau”.[34]

Dalam Perang Badar, Rasulullah mengatur strategi dengan menempatkan pasukan di lokasi tertentu. Seorang sahabat bernama al-Hubab ibn al-Mundzir[35] menanyakan apakah ide tersebut berdasarkan wahyu atau semata pendapat pribadi dan strategi. Rasulullah menjawab bahwa itu bukan berdasarkan wahyu, melainkan pendapat pribadi dan strategi. Al-Hubab lalu menanggapi bahwa lokasi tersebut tidak tepat, lalu mengusulkan agar pasukan ditempatkan di lokasi lain.[36]

  1. Hal-hal yang secara khusus hanya untuk Nabi dan tidak berlaku secara umum—berdasarkan dalil syariat, seperti poligami Nabi dengan lebih dari empat istri.

Muhammad Abu Zahrah menambahkan:

  1. Hal-hal yang dilakukan Nabi dalam konteks tradisi lokal wilayah Arab, seperti cara berpakaian Nabi.[37]

Kesimpulan

Dapat disimpulkan, hal-hal yang bersumber dari Nabi Muhammad (ucapan, tindakan, dan persetujuan) dalam salah satu dari tiga (atau empat) kategori di atas, semuanya disebut sunnah, tapi bukan tasyrî’, bukan hukum syariat, dan tidak harus diikuti.[38]

Sunnah yang menjadi hukum syariat dan menjadi dalil adalah 1) hal-hal yang bersumber dari Nabi Muhammad (ucapan, tindakan, dan persetujuan) dalam kapasitas beliau sebagai rasul dan 2) dimaksudkan sebagai hukum yang berlaku secara umum 3) serta ada keharusan diikuti oleh kaum muslim.[39]

Semua yang bersumber dari Nabi adalah sunnah, namun tidak semua sunnah adalah hujah.

***

  1. [1] Muhammad Musthafa al-A’dzami, Dirâsât fî al-Hadîts al-Nabawiy wa Târîkh Tadwînih, (Beirut: al-Maktab al-Islami, 1980), 1.
  2. [2] Muhammad Musthafa al-A’dzami, Dirâsât fî al-Hadîts al-Nabawiy wa Târîkh Tadwînih, 1.
  3. [3] Musthafa al-Siba’i, al-Sunnah wa Makânatuha fî al-Tasyrî’ al-Islâmiy, (t.tp: Dar al-Warraq, t.t), 65
  4. [4] Musthafa al-Siba’i, al-Sunnah wa Makânatuha fî al-Tasyrî’ al-Islâmiy, 67.
  5. [5] Subhi al-Shalih, ʻUlum al-Hadits wa Musthalahuh; ʻArdh wa Dirâsah, (Bairut: Dar al-Ulum li al-Malayin, 1984, cet. Ke-15), 122.
  6. [6] Subhi al-Shalih, ʻUlum al-Hadits wa Musthalahuh; ʻArdh wa Dirâsah, 119.
  7. [7] Subhi al-Shalih, ʻUlum al-Hadits wa Musthalahuh; ʻArdh wa Dirâsah, 123.
  8. [8] Musthafa al-Siba’i, al-Sunnah wa Makânatuha fî al-Tasyrî’ al-Islâmiy, 65. “Talak sunah” adalah menceraikan istri saat istri dalam kondisi suci dan tidak disetubuhi sebelumnya. “Talak bid’ah” adalah menceraikan istri saat istri dalam kondisi haid atau dalam kondisi suci tapi telah disetubuhi sebelumnya. Kenapa disebut bid’ah? Sebab, jika seorang istri diceraikan saat haid, itu akan memberatkan dirinya. Masa idahnya jadi lebih panjang (idah dimulai saat wanita dalam keadaan suci, tidak haid). Dan jika seorang istri diceraikan dalam kondisi suci dan telah bersetubuh, ada kemungkinan terjadi kehamilan. Itu lebih memprihatinkan. Lihat: Abu Zakaria al-Nawawi, al-Majmû‘ Syarh al-Muhadzdzab, (T.tp: Dar al-Fikr, t.t), 17/77.
  9. [9] Musthafa al-Siba’i, al-Sunnah wa Makânatuha fî al-Tasyrî’ al-Islâmiy, 67.
  10. [10] Ali ibn Muhammad al-Jurjani, al-Taʻrifât, (Beirut: Alim al-Kutub, 1987), 161.
  11. [11] Jalaluddin al-Suyuthi, Syarh al-Kaukab al-Sathiʻ, (Kairo: Maktabah al-Iman, 2000), 1/86-87.
  12. [12] Ibn Rusyd, Bidâyah al-Mujtahid, (Surabaya: Toko Kitab Al-Hidayah, t.t.),  95.
  13. [13] Muhammad Musthafa al-A’dzami, Dirâsât fî al-Hadîts al-Nabawiy wa Târîkh Tadwînih, 1.
  14. [14] Muhammad Musthafa al-A’dzami, Dirâsât fî al-Hadîts al-Nabawiy wa Târîkh Tadwînih, 1.
  15. [15] Abdul Wahab Khalaf,  ʻIlm Uhsul al-Fiqh, , (t.tp: Dar al-Qalam, 1978), 36.
  16. [16] Muhammad Abu Zahrah, ‘Ushûl al-Fiqh (t.tp: Dar al-Fikr al-‘Arabiyy, t.t), 105.
  17. [17] Abdul Wahab Khalaf,  ʻIlm Uhsul al-Fiqh, 36.
  18. [18] Muhammad Abu Zahrah, ‘Ushûl al-Fiqh, 105.
  19. [19] Malik ibn Anas, al-Muwaththa‘, tahkik Muhammad al-Musthafa al-A’dzami, (Abu Dabi: Muassasah Zaid ibn Sulthan Al Nahyan, 2004), 4/1078. Untuk jengertian hadis ini, lihat juga: Zainuddin a-Minawi, Faidh al-Qadîr Syarh al-Jâmi‘ al-Shaghîr, (Mesir: al-Maktabah al-Tijariyyah al-Kubra, 1356 H), 6/431.
  20. [20] Abdul Wahab Khalaf,  ʻIlm Uhsul al-Fiqh, 36.
  21. [21] Musthafa al-Siba’i, al-Sunnah wa Makânatuha fî al-Tasyrî’ al-Islâmiy, 65.
  22. [22] Musthafa al-Siba’i, al-Sunnah wa Makânatuha fî al-Tasyrî’ al-Islâmiy, 67.
  23. [23] Jalaluddin al-Suyuthi, al-Asybâh wa al-Nadhzâ’ir, (T.tp: Dar a-Kutub al-Islamiyyah, t.t), 6.
  24. [24] Jalaluddin al-Suyuthi, al-Asybâh wa al-Nadhzâ’ir, 59.
  25. [25] Jalaluddin al-Suyuthi, al-Asybâh wa al-Nadhzâ’ir, 55.
  26. [26] Musthafa al-Siba’i, al-Sunnah wa Makânatuha fî al-Tasyrî’ al-Islâmiy, 67.
  27. [27] Abdul Wahab Khalaf, ʻIlm Uhsul al-Fiqh, 43.
  28. [28] Abdul Wahab Khalaf, ʻIlm Uhsul al-Fiqh, 37.
  29. [29] Abdul Wahab Khalaf, ʻIlm Uhsul al-Fiqh, 38.
  30. [30] Abdul Wahab Khalaf, ʻIlm Uhsul al-Fiqh, 43.
  31. [31] Abdul Wahab Khalaf, ʻIlm Uhsul al-Fiqh, 43.
  32. [32] Abdul Wahab Khalaf, ʻIlm Uhsul al-Fiqh, 43.
  33. [33] Abdul Wahab Khalaf, ʻIlm Uhsul al-Fiqh, 43.
  34. [34] Imam al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, (Beirut, Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi: 1392 M), 15/116.
  35. بَابُ وُجُوبِ امْتِثَالِ مَا قَالَهُ شَرْعًا دُونَ مَا ذَكَرَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَعَايِشِ الدُّنْيَا عَلَى سَبِيلِ الرَّأْيِ
  36. [35] Musthafa al-Siba’i, al-Sîrah al-Nabawiyyah, Durûs wa ‘Ibar, cet. III, (Beirut, al-Maktab al-Islami: 1985), 80.
  37. [36] Abdul Wahab Khalaf, ʻIlm Uhsul al-Fiqh, 43-44. Menurut, M. Quraish Shihab riwayat ini sangat lemah, meski sangat populer. Sebab dalam rangkaian rawinya terdapat orang-orang yang identitasnya diragukan. Al-Hakim, seorang pakar hadis, yang meriwayatkannya pun mengakui demikian. Lihat: M. Quraish Shihab, Membaca Sirah Nabi Muhammad saw. dalam Sorotan Al-Quran dan Hadis-Hadis Sahih, cet. IV, (Jakarta, Lentera Hati, 2014), 550-551.
  38. [37] Muhammad Abu Zahrah, ‘Ushûl al-Fiqh, 115.
  39. [38] Abdul Wahab Khalaf, ʻIlm Uhsul al-Fiqh, 44.
  40. [39] Abdul Wahab Khalaf, ʻIlm Uhsul al-Fiqh, 44.

Tagged: , ,

§ One Response to Memahami Makna Sunnah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Memahami Makna Sunnah at Warung Nalar.

meta

%d bloggers like this: