Mati Ketawa Cara Salafi

23 July 2019 § Leave a comment


 

  • Tulisan ini adalah pendahuluan dalam buku MATI KETAWA CARA SALAFI
  • Diterbitkan oleh Lentera Hati.
  • Silakan klik ini untuk mendapatkan buku. Biar cepat, klik ini.
  • Bisa juga didapatkan di Gramedia (selama persediaan masih ada).

Dalam pendahuluan ini, saya hanya ingin menjelaskan secara singkat maksud kata “salafi” dalam judul MATI KETAWA CARA SALAFI.

Namun, sebelum itu, saya ingin menyampaikan ini …

Entah, sejak sering diucapkan oleh Rocky Gerung, kata “dungu” jadi terdengar amelioratif. Malah jadi terdengar unyu. Kedengarannya saja atau mungkin perasaan saya saja. Sebab, kalau dikatain “dungu”, orang tetap bakal tersinggung.

Kata “dungu” kesukaan Rocky Gerung mengingatkan saya pada kitab dalam khazanah Islam klasik karya Ibnu al-Jauzi (abad ke-6 Hijriah atau ke-13 Masehi) berjudul Akhbar al-Hamqa wa al-Mughaffalin—jadi, kitab itu ditulis sekitar 800 tahunan sebelum Rocky Gerung pertama kali mengucapkan kata “dungu” di abad ke-20 atau ke-21.

Judul Akhbar al-Hamqa wa al-Mughaffalin itu kira-kira artinya “Kabar Tentang Orang-orang Dungu”. Kitab itu berisi tentang … ya tentang kedunguan dan orang-orang dungu. Bisa dikatakan, Akhbar al-Hamqa wa al-Mughaffalin adalah buku humor tentang kedunguan dan perilaku lucu orang-orang dungu.

Jika Anda pernah mendengar ungkapan “dungu tidak mengenal batas” atau yang mirip seperti itu, jangan-jangan ungkapan tersebut berasal dari kitab ini. Artinya, ungkapan itu telah berusia 800 tahunan. Dalam kitab itu disebutkan, seorang penganut aliran Muktazilah ditanya apa batas kedunguan. Dia menjawab,

سألتني عما ليس له حد

Dalam mode Rocky Gerung, kalimat Arab itu artinya: “Ente nanya tentang sesuatu yang enggak ada batasnya tuh.”

Ibnu al-Jauzi mencatat, ada 40 sinonim dari kata “dungu” dalam bahasa Arab. Menurut Ibnu al-Jauzi, jika pun orang dungu tidak punya keutamaan maka banyaknya nama tersebut dapat menjadi keutamaan untuknya.

Karakter lelucon dalam Akhbar al-Hamqa wa al-Mughaffalin cukup beragam. Kebanyakan absurd. Mulai dari yang “receh”, lalu yang halus dari sisi ungkapan kata-katanya, sampai yang dark. Dari lelucon yang memang dimaksudkan hanya untuk ngelucu, lalu lelucon yang memang untuk diambil hikmahnya, sampai lelucon yang eksplisit dan tentang hal-hal tabu. Dari lelucon yang paling murah, lalu lelucon yang penuh hikmah, sampai yang dark humour; lelucon tentang agama, Tuhan, nabi, malaikat, kematian, kelompok keyakinan… lelucon yang didasarkan pada subjek serius yang bagi sebagian orang barangkali tidak pantas untuk dibecandain.

Seorang laki-laki sedang dalam kondisi sakratulmaut. Ada yang menasihati istrinya agar dia mendampingi suaminya itu.

“Tapi aku khawatir Malaikat Maut juga mengenaliku,” jawab si istri.

*

Seorang a’rabiy (pedalaman) berdoa, “Ya Tuhan, ampunilah aku; aku saja, jangan yang lain.”

Dia kemudian ditanya kenapa berdoa demikian. Kenapa meminta Tuhan mengampuni dia seorang, padahal ampunan Tuhan itu luas.

“Aku enggak mau nyusahin Tuhan,” katanya.

*

Konon, Isa Putra Maryam pernah ditanya-tanya.

Denger-denger Tuan bisa menghidupkan orang mati?”

“Benar. Dengan izin Tuhan.”

Denger-denger juga bisa menyembuhkan kebutaan?”

“Benar juga. Dengan izin Tuhan.”

“Kalau menyembuhkan kedunguan?”

“Nah, itu yang susah.”

*

Tentu saja, kutipan eksplisit berikut ini bikin orang-orang yang jenggotan atau yang tidak jenggotan kebakaran jenggot:

الحمق سماد اللحية فمن طالت لحيته كثر حمقه

“Kedunguan adalah pupuk untuk jenggot. Orang yang jenggotnya panjang berarti kedunguannya banyak.”

Mungkin Anda familiar dengan kutipan itu.

Iya. Setelah 800 tahunan ungkapan tersebut berlalu, Anda baru mendengarnya dari Ketua Umum PBNU, Kiai Said Aqil Siradj, di abad ke-21 ini. Dan Kiai Said Aqil dikecam dan dicaci-maki gara-gara itu.

Jadi, sebenarnya, bukan Kiai Said yang mencetuskan ungkapan itu. Bisa jadi beliau pernah membaca kitab lelucon Akhbar al-Hamqa wa al-Mughaffalin itu, dan kemungkinan besar beliau mengungkapkan kembali kutipan tersebut juga dalam konteks ngelucu, sebagaimana intensi kitab tersebut. (Salah satu tujuan Ibnu al-Jauzi menulis Akhbar al-Hamqa wa al-Mughaffalin—lelucon tentang orang dungu—memang untuk relaxation. Biar hati dan pikiran tidak tegang. Santai).

Bahkan, mundur puluhan sebelum Ibnu al-Jauzi mengutip ungkapan “panjang jenggot makin goblok” itu, Imam al-Ghazali sudah menulis kutipan serupa dalam Ihya’ Ulumiddin:

كلما طالت اللحية تشمر العقل

“Saat jenggot panjang, otak jadi berkurang.”

Bahkan, lagi, mundur ratusan tahun sebelum Imam al-Ghazali menulis, konon, Imam al-Syafii juga mengatakan,

كلّما طالت اللحية، تكوسج العقل

“Saat jenggot panjang, otak jadi pendek.”

Disebut “konon”, sebab, sejauh ini, kutipan tersebut bukan bersumber dari karya-karya Imam al-Syafii sendiri, melainkan dari kitab al-Wafi bi al-Wafayat karya al-Shafadi.

Apa artinya?

Jadi, perkara kutipan “jenggot dan kedunguan” itu semestinya populer di kalangan kaum Sunni seperti mayoritas muslim Indonesia. Imam al-Syafii, Imam al-Ghazali, dan Ibnu al-Jauzi adalah tokoh-tokoh populer Sunni. Para tokoh besar yang diduga semuanya jenggotan itu menukil kutipan lelucon tentang “jenggot dan kedunguan”. Begitu Kiai Said—juga seorang Sunni—yang mengutipnya, banyak orang kebakaran jenggot. Yang kebakaran jenggot orang-orang Sunni juga; orang-orang Sunni yang mungkin kurang mengenal khazanah lelucon Sunni …. Ini jadi c̶o̶l̶l̶a̶t̶e̶r̶a̶l̶ ̶d̶a̶m̶a̶g̶e̶ kelucuan tambahan dalam perkara lelucon “jenggot dan kedunguan”.

Intinya, jika Anda mendengar kata “dungu” dari Rocky Gerung dan para pengagumnya yang diungkapkan dengan intensi agak merendahkan, cobalah perkaya pengetahuan Anda perihal kedunguan dengan membaca karya dari khazanah Islam klasik karya Ibnu al-Jauzi, Akhbar al-Hamqa wa al-Mughaffalin di atas, untuk mendapatkan wawasan tambahan tentang kedunguan dan orang-orang dungu dengan cita rasa yang lucu dan spiritual.

Tapi, untuk kali ini, jika tidak mau repot, Anda tidak perlu membaca kitab itu. Sebab, lelucon-lelucon dalam kitab tersebut telah diperas, menyisakan lelucon yang paling lucu—minimal menurut saya—lalu dituangkan dalam buku di tangan Anda ini. Memang, karena perbedaan konteks budaya dan bahasa, tidak semua lelucon dalam kitab tersebut (terutama, terkait budaya Arab dan tentang tata bahasa Arab) dapat dipahami dan dinikmati oleh kita, pembaca Indonesia.

Tapi, yang dituangkan dalam buku ini, insya Allah, adalah lelucon yang bisa dinikmati semua orang. Syaratnya hanya satu: buka selera humor Anda. Urusan setelah Anda membuka selera humor tapi ternyata Anda tidak tertawa, tertawa sedikit, atau malah ngakak, itu cuma urusan derajat k̶e̶t̶a̶k̶w̶a̶a̶n̶ kelucuan saja. Yang jelas, lelucon dari bangsa Arab klasik ini telah disesuaikan untuk Anda.

Lebih dari delapan puluh persen isi buku ini diambil (terjemah-sadur) dari Akhbar al-Hamqa wa al-Mughaffalin, selebihnya: beberapa dari Akhbar al-Adzkiya, satu isi dari Kitab al-Maudluat (ketiga kitab tersebut karya Ibnu al-Jauzi); satu isi dari Ihya Ulumiddin karya Imam al-Ghazali, dan satu isi dari Tadzkirah al-Auliya karya Fariduddin Attar.

Al-Ghazali hidup pada abad ke-12 Masehi, Ibnu al-Jauzi dan Attar pada ke-13 Masehi. (Lelucon-lelucon di buku ini telah berusia sekitar 8-9 abad!). Mereka adalah para leluhur ilmu keislaman. Nenek moyang yang diluhurkan dalam ilmu keislaman.

Dan, “leluhur”, dalam bahasa Arab, bisa dipadankan dengan kata “salaf” (سلف).

Kembali ke paragraf awal, dalam pendahuluan ini, saya hanya ingin menjelaskan secara singkat maksud kata “salafi” dalam judul MATI KETAWA CARA SALAFI.

Kata “salafi” (سلفي—dibaca “salafi”, bukan “selfie”) terdiri atas dua unsur: kata “salaf” (سلف) dan partikel “i” yang dalam bahasa Arab dinamai “huruf ya’ nisbah” (ي).

Jadi, arti kata “salafi” dalam judul buku ini berarti “yang dinisbahkan kepada salaf, leluhur, nenek moyang”. Dalam hal ini adalah nenek moyang ilmu keislaman kita: Imam al-Ghazali, Ibnu al-Jauzi, dan Fariduddin Attar.

“Mati Ketawa Cara Salafi” berarti ngakak guling-guling gara-gara lelucon gaya salaf, gaya leluhur, gaya nenek moyang.

Al-Fatihah untuk mereka semua.

Salam,

Juman Rofarif

Tagged: , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Mati Ketawa Cara Salafi at Warung Nalar.

meta

%d bloggers like this: