Cadar Menurut Hadis Nabi

27 May 2019 § 1 Comment


Dalam literatur Islam, wacana tentang cadar bermula dari perdebatan tentang batasan aurat perempuan.

Ada dua pendapat terkait hal itu: pertama, yang menyatakan seluruh tubuh wanita adalah aurat; kedua, yang mengecualikan wajah dan telapak tangannya.

Maka, menurut pendapat pertama, mengenakan cadar (niqab), menutup bagian wajah dan menyisakan bagian mata—bahkan burqa, yang menutup seluruh bagian wajah—adalah kewajiban bagi perempuan.

Namun, menurut pendapat kedua, mengenakan niqab dan burqa bukanlah kewajiban. Masing-masing memiliki dalil atau landasan normatif yang mendasari.

Berikut ini, penulis paparkan riwayat-riwayat hadis tentang wajah perempuan dan cadar yang menjadi dalil kedua kelompok pendapat tersebut.

  • Riwayat-riwayat tentang para perempuan tidak mengenakan cadar
  1. عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ يَوْمَ الْعِيدِ، فَبَدَأَ بِالصَّلَاةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ، بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ، ثُمَّ قَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى بِلَالٍ، فَأَمَرَ بِتَقْوَى اللهِ، وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِ، وَوَعَظَ النَّاسَ وَذَكَّرَهُمْ، ثُمَّ مَضَى حَتَّى أَتَى النِّسَاءَ، فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ، فَقَالَ: «تَصَدَّقْنَ، فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ»، فَقَامَتِ امْرَأَةٌ مِنْ سِطَةِ النِّسَاءِ سَفْعَاءُ الْخَدَّيْنِ، فَقَالَتْ: لِمَ؟ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ»، قَالَ: فَجَعَلْنَ يَتَصَدَّقْنَ مِنْ حُلِيِّهِنَّ، يُلْقِينَ فِي ثَوْبِ بِلَالٍ مِنْ أَقْرِطَتِهِنَّ وَخَوَاتِمِهِنَّ (رواه مسلم)

Jabir berkata, “Aku hadir bersama Rasul melaksanakan shalat ‘Id. Beliau shalat sebelum berkhutbah, dan itu dilakukan tanpa azan dan iqamah. Lalu, beliau berdiri dengan bertumpu di (bahu) bilal. Beliau berpesan agar bertakwa kepada Allah. Beliau mendorong agar mematuhi-Nya. Beliau menasihati dan mengingatkan hadirin. Kemudian, beliau menuju ke (tempat) perempuan (berkumpul), menasihati dan mengingatkan mereka. Beliau bersabda, ‘Bersedakahlah. Sebab, kebanyakan kalian adalah kayu-kayu bakar neraka.’

Seorang perempuan yang duduk di tengah-tengah hadirin (perempuan) dan pipinya hitam, telah rusak, bertanya, ‘Mengapa, wahai Rasul?’

Rasul menjawab, ‘Karena kalian banyak mengeluh (mengadu) dan tidak berterima kasih kepada keluarga (suami).’

Jabir berkata, setelah itu, para perempuan bersedekah dengan perhiasan mereka. Mereka melempar anting dan cincin mereka ke pakaian Bilal (pakaian bilal kain penampung) (HR. Muslim).

Periwayat hadis di atas (Jabir) mendeskripsikan bahwa perempuan yang bertanya tersebut pipinya hitam (سفعاء الخدين)—bisa jadi maksudnya tidak cantik atau karena suda tua. Menurut Ali Jumat, itu mengisyaratkan bahwa wajah si perempuan tersebut terbuka. Sebab, andai wajah perempuan itu tidak terbuka, tentu periwayat hadis tidak bisa mendeskripsikan pipi/wajah si perempuan.

  1. عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ، دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ، فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَالَ: «يَا أَسْمَاءُ، إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ يصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا» وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ (قَالَ أَبُو دَاوُدَ: هَذَا مُرْسَلٌ، خَالِدُ بْنُ دُرَيْكٍ لَمْ يُدْرِكْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا) (رواه أَبُو دَاوُد)

Aisyah menceritakan bahwa Asma’ putri Abu Bakar menemui Rasulullah dengan mengenakan pakaian tipis. Tapi Rasulullah berpaling, lalu berkata, “Asma’, jika perempuan sudah mengalami haid, tidak lagi wajar terlihat darinya, kecuali ini dan ini (sambil menunjuk wajah dan telapak tangan beliau) (HR. Abu Dawud).

Hadis di atas memiliki rentetan rawi yang menjadi bahasan panjang, serta penerimaan dan penolakan para ulama.

Menurut ulama yang menyatakan bahwa seluruh badan wanita adalah aurat, tanpa kecuali, hadis di atas tidak dapat dijadikan argumen. Sebab, Abu Dawud sendiri, sebagai periwayat, menilai hadis tersebut mursal karena dalam sanadnya terdapat nama Khalid ibn Duraik yang menyebut nama Aisyah sebagai sumber periwayatan, namun sebenarnya Khalid tidak semasa dengan Aisyah.

Hadis mursal, dinilai oleh banyak ulama, tidak dapat dijadikan hujah. Pakar hadis, Imam Muslim, menyatakan—sebagaimana dikutip oleh Quraish Shihab, “Hadis mursal menurut pendapat kami dan pendapat para pakar riwayat, tidak dapat dijadikan hujah.”

Namun, meski mursal, sebagaimana dikatakan oleh Muhammad al-Ghazali, hadis di atas diperkuat oleh riwayat-riwayat lain.

  1. Quraish Shihab menukil penjelasan Muhammad Nashiruddin al-Albani yang—dalam Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah fi al-Kitab wa al-Sunnah—secara panjang lebar berupaya membuktikan bahwa walaupun hadis di atas mursal, namun ada sekian banyak riwayat yang senada dengannya, sehingga hadis di atas dapat dinilai sahih. Al-Albani antara lain menukil pendapat Imam al-Nawawi yang menyatakan bahwa apabila satu hadis diriwayatkan dari sumber yang berbeda-beda yang kesemuanya dha‘îf (lemah), tidaklah secara otomatis hadis itu (berdasar banyaknya sumbernya) gugur ke-dha‘îf-annya. Hadis tersebut dapat saja meningkat nilainya menjadi hasan, apabila ingatan perawinya lemah tetapi dia seorang tepercaya. Atau, apabila hadis tersebut mursal, tetapi ada riwayat lain yang mendukungnya. Dalam konteks hadis di atas, al-Albani menilainya sahih, karena ada jalur-jalur riwayat lain yang mendukungnya.

Sementara ulama menguatkan hadis di atas dengan hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Jarir at-Thabari. Pakar tafsir dan sejarah ini meriwayatkan hadis melalui Qatadah yang intinya membolehkan menampakkan wajah dan tangan sampai setengahnya. Riwayat tersebut menyatakan,

قالت عائشة: دَخَلَتْ عليّ ابنة أخي لأمي عبد الله بن الطفيل مُزَيَّنةً، فدخل النبيّ صلى الله عليه وسلم، فأعرض، فقالت عائشة: يا رسول الله إنها ابنة أخي وجارية، فقال: “إذا عركت المرأة لم يحلّ لها أن تظهر إلا وجهها، وإلا ما دون هذا” (وقبض على ذراع نفسه).

Aisyah menceritakan, anak-perempuan saudaraku (dari ibuku)—Abdullah Ibn ath-Thufail—masuk dalam keadaan berhias. Nabi masuk, lalu berpaling. Aisyah lalu mengatakan bahwa perempuan itu adalah anak saudaranya (sepupu). Nabi kemudian bersabda, “Apabila perempuan telah haid, tidak halal baginya menampakkan selain wajahnya dan ini” (sambil beliau memegang tangan sendiri).

  1. عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما، قال: قام رجل فقال: يا رسول الله ماذا تأمرنا أن نلبس من الثياب في الإحرام؟ فقال النبي صلى الله عليه وسلم: لا تلبسوا القميص، ولا السراويلات، ولا العمائم، ولا البرانس إلا أن يكون أحد ليست له نعلان، فليلبس الخفين، وليقطع أسفل من الكعبين، ولا تلبسوا شيئا مسه زعفران، ولا الورس، ولا تنتقب المرأة المحرمة، ولا تلبس القفازين (رواه البخاري)

Abdullah ibn Umar menceritakan, seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah tentang apa yang harus seseorang pakai saat ihram. Di antara jawaban Nabi adalah soal beberapa larangan dalam ihram: dilarang mengenakan baju, celana, serban, mantel. Dan, bagi perempuan, dilarang memakai cadar dan sarung tangan.

Mengomentari hadis riwayat Bukhari tersebut, Ali Jum’ah mengatakan, andai wajah dan telapak tangan perempuan adalah aurat, tentu menutup kedua bagian tubuh tersebut mestinya tidak dilarang.

Sementara, menurut Abdul Halim Abu Syaqqah, larangan-larangan mengenakan berbagai aksesoris pakaian saat ihram dalam hadis tersebut dapat dipahami sebagai larangan berhias dan berdandan (tajammul) dan larangan mencari-cari kenyamanan (taraffuh).

Maka, dari hadis tersebut dapat diambil pemaknaan bahwa, pada masa Nabi, dalam sehari-sehari, cadar hanyalah bagian dari hiasan pelengkap berpakaian. Cadar bagi perempuan tak ubahnya serban bagi laki-laki: hanya aksesoris sandang.

  1. عبد الله بن عباس رضي الله عنهما، قال: أردف رسول الله صلى الله عليه وسلم الفضل بن عباس يوم النحر خلفه على عجز راحلته، وكان الفضل رجلا وضيئا، فوقف النبي صلى الله عليه وسلم للناس يفتيهم، وأقبلت امرأة من خثعم وضيئة تستفتي رسول الله صلى الله عليه وسلم، فطفق الفضل ينظر إليها، وأعجبه حسنها، فالتفت النبي صلى الله عليه وسلم والفضل ينظر إليها، فأخلف بيده فأخذ بذقن الفضل، فعدل وجهه عن النظر إليها، فقالت: يا رسول الله، إن فريضة الله في الحج على عباده، أدركت أبي شيخا كبيرا، لا يستطيع أن يستوي على الراحلة، فهل يقضي عنه أن أحج عنه؟ قال: نعم (رواه البخاري ومسلم)

Pada hari al-Nahr (lebaran haji), Fadhl ibn Abbas membonceng unta yang dikendarai Rasulullah. Fadhl sosok pria tampan. Nabi menyampaikan fatwa pada khalayak. Lalu, datang seorang perempuan cantik dari suku Khats’am, dan bertanya kepada Rasulullah. Fadhl memandangi si perempuan. Kecantikan si perempuan membuat Fahdl takjub. Nabi kemudian menoleh kepada Fadhl yang masih memandangi si perempuan. Nabi memegang dagu Fadhl dan memalingkan wajah Fadhl dari si perempuan.

Perempuan itu bertanya, “Sesungguhnya kewajiban yang ditetapkan Allah atas hamba-hamba-Nya adalah haji. Tapi ayah saya sudah tua dan tidak mampu duduk di atas kendaraan. Apakah boleh saya berhaji untuknya?”

Nabi menjawab, “Ya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kisah di atas terjadi pada (rangkaian) haji wada’. Menurut Ali Jum’ah, menukil pendapat Ibn Hazm, ada dua hal terkait cadar dalam riwayat di atas: pertama, andai wajah adalah aurat yang harus ditutup, niscaya Rasulullah tidak akan menyetujui si perempuan membuka wajahnya di tengah khalayak. Kedua, rawi hadis mendeskripsikan bahwa perempuan tersebut berwajah cantik, membuat Fadhl kagum melihatnya. Ini menjadi bukti bahwa saat itu wajah si perempuan memang terbuka. Andai tertutup, Fadhl ibn Abbas tidak akan tahu apakah si perempuan itu cantik atau tidak.

Menurut Quraish Shihab, satu hal yang jelas dari redaksi hadis di atas adalah bahwa si perempuan tampak cantik—tanpa menyatakan bahwa wajah dan telapak tangannya terbuka. Tapi, kecantikan sangat mudah diketahui dari wajah, sehingga kemungkinan wajah si perempuan itu terbuka jadi sangat logis.

  1. جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَالُ لَهَا أُمُّ خَلَّادٍ وَهِيَ مُنْتَقِبَةٌ، تَسْأَلُ عَنِ ابْنِهَا، وَهُوَ مَقْتُولٌ، فَقَالَ لَهَا بَعْضُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: جِئْتِ تَسْأَلِينَ عَنِ ابْنِكِ وَأَنْتِ مُنْتَقِبَةٌ؟ فَقَالَتْ: إِنْ أُرْزَأَ ابْنِي فَلَنْ أُرْزَأَ حَيَائِي، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ابْنُكِ لَهُ أَجْرُ شَهِيدَيْنِ، قَالَتْ: وَلِمَ ذَاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: لِأَنَّهُ قَتَلَهُ أَهْلُ الْكِتَابِ. (رواه أبو داود)

Sambil mengenakan cadar, seorang perempuan yang punya sebutan Ummu Khallad mendatangi Nabi, hendak bertanya tentang anaknya yang terbunuh dalam salah satu peperangan. Melihat si perempuan mengenakan cadar, sebagian sahabat bertanya, “Kamu bertanya sambil mengenakan cadar?!” Si perempuan menjawab, “Aku mendapatkan musibah kehilangan anak; aku tak ingin kehilangan rasa maluku.”

Menanggapi pertanyaan si perempuan, Rasulullah menjawab, “Anakmu mendapatkan pahala dua orang syahid.”

“Kenapa, wahai Rasul?”

“Sebab dia terbunuh di tangan Ahlul Kitab.” (HR. Abu Dawud).

Menurut Muhammad al-Ghazali, hadis di atas menunjukkan bahwa, pada masa Jahiliah dan pada masa Islam, sebagian kaum perempuan terkadang menutup wajahnya, menyisakan bagian mata. Penggunaan cadar menjadi bagian dari tradisi kaum perempuan; bukan bagian dari persoalan ibadah. Sebab, ibadah mesti berdasarkan nas.

Lanjut Muhammad al-Ghazali, pertanyaan bernada heran (“Kamu bertanya sambil mengenakan cadar?!”) dari sebagian sahabat terkait cadar yang dikenakan si perempuan menunjukkan hal itu: niqab bukanlah persoalan ibadah.

Menurut, Abdul Halim Abu Syaqqah, dari hadis tersebut dipahami bahwa bercadar hanya bagian dari gaya berpakaian (thiraz, style) bagi sebagian orang. Bercadar bukan kewajiban. Sebagaimana diketahui, cadar ditanggalkan dalam beberapa kondisi yang mengharuskan seseorang tak boleh atau tak elok berhias, seperti dalam suasana duka atas meninggalnya kerabat—sebagaimana jelas terlihat dalam hadis di atas. Maka, saat si perempuan berduka tersebut tetap memakai cadarnya, para sahabat pun merasa heran.

  1. عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ: لَمَّا كَانَ يَوْمُ الفتح أَسْلَمَتْ هِنْدُ بِنْتُ عُتْبَةَ وَنِسَاءٌ مَعَهَا وَأَتَيْنَ رَسُولَ اللَّهِ وَهُوَ بِالأَبْطَحِ فَبَايَعْنَهُ. فَتَكَلَّمَتْ هِنْدٌ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَظْهَرَ الدِّينَ. الَّذِي اخْتَارَهُ لِنَفْسِهِ لِتَنْفَعَنِي رَحِمُكَ. يَا مُحَمَّدُ إِنِّي امْرَأَةٌ مُؤْمِنَةٌ بِاللَّهِ مُصَدِّقَةٌ بِرَسُولِهِ. ثُمَّ كَشَفَتْ عَنْ نِقَابِهَا وَقَالَتْ: أَنَا هِنْدُ بِنْتُ عُتْبَةَ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ: مَرْحَبًا بِكِ. (رواه ابن سعد في الطبقات)

Abdullah ibn Zubair bercerita, pada peristiwa Fathu Makkah, Hindun bint Utbah dan para perempuan lainnya memeluk Islam. Mereka menemui Rasulullah yang sedang di tanah lapang, kemudian berbaiat.

Setelah menyatakan keimanan, Hindun melepas cadarnya, lalu memperkenalkan diri.

“Aku Hindun bint Utbah,” katanya.

“Selamat datang!” jawab Rasulullah. (HR. Ibn Sa’d).

Jika riwayat Abu Dawud di atas (hadis nomor 5) menunjukkan bahwa seseorang mestinya (baiknya) melepaskan cadar saat berduka maka hadis riwayat Ibn Sa’d ini menunjukkan bahwa seseorang boleh melepaskan cadar saat berkenalan agar lawan kenalannya dapat mengenali.

  • Riwayat-riwayat tentang para perempuan mengenakan cadar
  1. عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: كَانَ الرُّكْبَانُ يَمُرُّونَ بِنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُحْرِمَاتٌ، فَإِذَا حَاذَوْا بِنَا سَدَلَتْ إِحْدَانَا جِلْبَابَهَا مِنْ رَأْسِهَا عَلَى وَجْهِهَا فَإِذَا جَاوَزُونَا كَشَفْنَاهُ (رواه أحمد وأبو داود)

Aisyah berkata, “Para penunggang unta/kuda melewati kami saat kami sedang berihram bersama Rasulullah. Saat mereka melewati kami, setiap kami mengulurkan kerudung dari kepala ke wajah kami. Jika mereka telah berlalu, kami membuka kerudung itu dari wajah kami (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Hadis ini dinilai daif oleh penganut paham wajah dan tangan bukan aurat (karenanya cadar bukan kewajiban), karena dalam sanadnya ada seorang yang bernama Yazid ibn Abi Ziyad. Ia dinilai oleh banyak ulama sebagai rawi yang lemah. Hadis ini juga dinilai bersumber dari Mujahid yang menerimanya dari Aisyah, sementara Mujahid tidak semasa dengan Aisyah.

Selain sanadnya daif, kandungan atau matan hadis di atas juga syadz atau bertentangan dengan hadis lain yang lebih kuat, yaitu hadis nomor 3 (riwayat Bukhari) di atas yang menjelaskan bahwa perempuan yang berihram dilarang mengenakan cadar. Karena itu, hadis nomor 7 ini tidak dapat dijadikan dalil untuk penggunaan cadar.

  1. عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: لَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَهُوَ عَرُوسٌ بِصَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيٍّ، جِئْنَ نِسَاءُ الْأَنْصَارِ فَأَخْبَرْنَ عَنْهَا، قَالَتْ: فَتَنَكَّرْتُ وَتَنَقَّبْتُ فَذَهَبْتُ، فَنَظَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى عَيْنِي فَعَرَفَنِي، قَالَتْ: فَالْتَفَتَ، فَأَسْرَعْتُ الْمَشْيَ، فَأَدْرَكَنِي (رواه ابن ماجة)

Aisyah mengisahkan, saat Rasulullah hendak menikah dengan Shafiyyah bint Huyay, para perempuan Anshar datang dan mengabarkan hal itu. Aisyah kemudian menutupi wajahnya (tanakkur), memakai cadar, dan pergi. Rasulullah melihatnya. Rasulullah melihat mata Aisyah dan mengenalinya. Rasulullah berpaling kepada Aisyah, tapi Aisyah mempercepat jalan, namun kemudian Rasulullah menyusulnya.

Sanad hadis ini daif. Dalam sanadnya terdapat nama Ali ibn Zaid yang menjadi sumber kedaifan hadis ini. Demikian juga penilaian al-Albani.

Dari hadis di atas dapat dipahami, pada masa Nabi, kaum perempuan memakai cadar hanya sesekali. Cadar bukan bagian dari perlengkapan yang setiap saat digunakan.

Kesimpulan dari Riwayat-Riwayat Tentang Cadar

Sebelum menarik kesimpulan dari riwayat-riwayat bertema cadar di atas, kita perlu memahami lebih dulu teori cara memahami dan menyimpulkan hadis-hadis yang bertema sama.

Dalam al-Thuruq al-Shahihah fi Fahm al-Sunnah al-Nabawiyyah, Ali Mustafa Yaqub menjelaskan,

  • Tidak diperkenankan memahami hadis tentang suatu tema hanya dari satu riwayat. Seseorang mesti mengumpulkan dan menelaah riwayat-riwayat lain yang bertema sama, sehingga dapat diketahui bahwa hadis-hadis Nabi saling menjelaskan satu sama lain. Riwayat yang kandungan matannya terlalu umum akan dijelaskan oleh riwayat lain yang lebih spesifik; riwayat yang tak menjelaskan ‘illah (alasan Nabi memerintahkan atau melarang sesuatu) akan dijelaskan oleh riwayat lain yang menyebutkan ‘illah …. Dengan begitu, akan didapatkan pemahaman yang menyeluruh terkait satu tema hadis.
  • Penting untuk menelaah ‘illah dalam sebuah hadis, baik ‘illah tersebut dinyatakan secara tersurat dalam matan (al-‘illah al-manshusah) maupun dinyatakan secara tersirat yang karenanya perlu digali (al-‘illah al-mustanbathah).
  • Karena itu, memahami hadis hanya dari satu riwayat atau memahami hadis tanpa mengerti ‘illah di dalamnya dapat mengakibatkan salah paham terhadap kandungan hadis, bahkan dapat memunculkan paham yang salah, yang sesat dan menyesatkan.

Dengan demikian, dari delapan riwayat tentang cadar di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan:

  1. Sejauh pengetahuan penulis, tidak ada riwayat yang memerintahkan seorang perempuan harus mengenakan cadar. Bahkan, yang ada adalah riwayat-riwayat Nabi berkomunikasi dengan perempuan dengan wajah terbuka dan Nabi tidak menegur agar si perempuan menutup wajahnya.
  2. Nabi jelas menetapkan bahwa perempuan yang ihram dilarang mengenakan cadar (dan sarung tangan). Sebab, cadar merupakan bagian dari hiasan dan aksesoris pakaian dalam tradisi berpakaian sehari-hari kaum perempuan masa itu (sebagaimana serban merupakan hiasan berpakaian bagi laki-laki). Sementara, dalam ihram, seseorang dilarang berhias dan berdandan. Sebab, itulah substansi ihram.
  3. Pada masa Nabi, cadar merupakan bagian dari gaya dan hiasan berpakaian bagi sebagian perempuan. Mereka melepaskan cadarnya dalam beberapa kondisi yang tak elok untuk mengenakan cadar, seperti dalam suasana duka.
  4. Pada masa Nabi, seorang perempuan akan melepaskan cadarnya saat memperkenalkan diri kepada orang lain agar dia dikenali.
  5. Pada masa Nabi, cadar digunakan jika seorang perempuan ingin menutupi wajahnya (tanakkur). Ini menunjukkan cadar tidak digunakan setiap saat. Hanya sesekali dan jika seseorang ingin.
  6. Ini menunjukkan bahwa cadar hanyalah tradisi, bukan persoalan ibadah. Maka, jika pada masa Nabi (atau masa Jahiliah) seorang perempuan mengenakan cadar maka itu bisa saja bukan atas dasar kewajiban agama, tetapi karena kehendak mereka sendiri. Dan, memang tidak ada salahnya perempuan mengenakan cadar.

 

 ***

Daftar Pustaka

  • Al-Ghazali, Muhammad. Al-Sunnah al-Nabawiyyah Baina Ahl al-Fiqh wa Ahl al-Hadits. Kairo: Dar al-Syuruq, 2007.
  • Al-Thabari, Ibn Jarir. Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Quran. T.tp, Muassasah al-Risalah: 2000.
  • Dawud, Abu. Sunan Abi Dawud. Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah, t.t
  • Majah, Ibnu. Sunan ibn Majah. Tahkik Muhammad Fuad Abdul Baqi. (T.tp: Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah, t.t
  • Shihab, M. Quraish. Jilbab, Pakaian Wanita Muslimah. Jakarta: Lentera Hati, 2004.
  • Syaqqah, Abdul Halim Abu. Tahrir al-Mar’ah fi ‘Ashr al-Risalah. Kuwait: Dar al-Qalam, 1995.
  • Yaqub, Ali Mustafa. Al-Thuruq al-Shahihah fi Fahm al-Sunnah al-Nabawiyyah. Jakarta: Maktabah Darus-Sunnah, 2016.
  • Zafzuq, Mahmud Hamdi. Al-Niqab ‘Adah wa Laisa ‘Ibadah. Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 2008

*Catatan: Tulisan ini adalah ringkasan makalah. Versi lengkap makalah (misal, untuk keperluan referensi) bisa Anda unduh di sini. Silakan klik.

 

Tagged: , , ,

§ One Response to Cadar Menurut Hadis Nabi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Cadar Menurut Hadis Nabi at Warung Nalar.

meta

%d bloggers like this: