“Fitnah” dalam Al-Quran dan KBBI

9 January 2019 § 1 Comment


 

artikel Pak Komaruddin Hidayat di kolom Opini Kompas (8/1)

Membaca artikel Pak Komaruddin Hidayat berjudul “Hoaks dan Agama” di Kompas kemarin (8/1), saya segera teringat karya mutakhir Pak Quraish Shihab berjudul “Islam yang Disalahpahami; Menepis Prasangka, Mengikis Kekeliruan”. (Jika kedua tokoh tersebut adalah mantan rektor UIN Ciputat, saya mahasiswa UIN Ciputat, dan Anda yang membaca ini mungkin adalah alumnus UIN Ciputat atau masih mahasiswa UIN Ciputat maka saat ini kita sedang temu keluarga UIN Ciputat aunlinan wa bathinan—secara online dan batiniah). *sungkem Pak Quraish dan Pak Komar*.

Nah, sesuai tergambar dalam judul “Islam yang Disalahpahami”, dalam buku itu Pak Quraish memaparkan sekian kesalahpahaman terkait ajaran Islam—lalu menguraikan dan mendudukkan kesalahpahaman itu di tempatnya yang tepat.

Menurut Pak Quraish, sekian kesalahpahaman atas Islam tersebut muncul dari tiga pihak. Pertama, dari nonmuslim akibat kedangkalan pengetahuan mereka tentang Islam. Kedua, dari para orientalis, baik karena sengaja untuk memperburuk wajah Islam maupun karena kepicikan pengetahuan mereka. Ketiga, dari umat Islam sendiri akibat keterbatasan bacaan mereka. Saking tak sedikitnya kesalahpahaman terkait Islam sampai ada ungkapan yang melukiskan Islam sebagai “The Misunderstood Religion”.

Apa saja sekian kesalahpahaman tentang Islam yang lahir dari kaum nonmuslim dan para orientalis, silakan baca buku “Islam yang Disalahpahami” tersebut. Sebelum baca, beli dulu ya.

Dan, apa saja kesalahpahaman tentang Islam yang lahir dari umat Islam sendiri, Anda juga bisa baca buku itu. Tapi, salah satu kesalahpahaman tersebut adalah sebagaimana yang terlihat dalam artikel “Hoaks dan Agama” Pak Komaruddin Hidayat.

Dalam satu paragraf, Pak Komar menulis bahwa contoh-contoh kasus malapetaka akibat hoaks mengingatkan beliau pada firman Allah dalam Al-Quran yang mengatakan bahwa fitnah itu lebih keji dan lebih berbahaya daripada pembunuhan. Dan hoaks merupakan salah satu bentuk fitnah.

Firman Allah yang dimaksud adalah penggalan ayat populer: “wa al-fitnah asyaddu min al-qatl” dan “wa al-fitnah akbaru min al-qatl” (keduanya diterjemahkan dengan “fitnah lebih kejam daripada pembunuhan”).

Menurut Pak Quraish, kedua penggalan ayat di atas sering kali digunakan oleh mereka yang tidak paham bahasa Arab sebagai dalil untuk membuktikan buruknya “memfitnah” dalam arti “menisbahkan kebohongan terhadap pihak lain”. Kesalahan ini lahir akibat menyamakan antara kata “fitnah” dalam bahasa Indonesia dan kata “fitnah dalam” bahasa Arab. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “fitnah” diartikan sebagai “perkataan bohong atau tanpa dasar kebenaran yang disampaikan dengan maksud menjelekkan pihak lain”. Makna ini dalam bahasa Al-Quran dan Sunnah dinamai “ghibah”, bukan “fitnah”.

Masih menurut Pak Quraish, dalam Al-Quran, ada sekitar 60 kata “fitnah” dalam berbagai bentuk turunan kata. Di antara 60 bentuk kata itu, tidak ada yang bermakna fitnah yang kita pahami dalam bahasa Indonesia: “perkataan bohong atau tanpa dasar kebenaran yang disampaikan dengan maksud menjelekkan pihak lain”.

Penerjemahan Al-Quran negara kita juga sedikit-banyak turut andil dalam mengkaprahkan kesalahpahaman atas arti fitnah. Kata “fitnah” dalam penggalan “wa al-fitnah asyaddu min al-qatl” dan “wa al-fitnah akbaru min al-qatl” diartikan secara literal “fitnah”, sementara pemahaman kata “fitnah” dalam bahasa Indonesia telah bergeser dan menjadi berbeda dengan maksud kata “fitnah” dalam kedua ayat itu (meski terjemahan Al-Quran memberikan syarah di catatan kaki atas kata “fitnah” itu).

Lalu, apa sebenarnya pemahaman “fitnah” dalam ayat “wa al-fitnah asyaddu min al-qatl” dan “wa al-fitnah akbaru min al-qatl”?

KBBI sebenarnya juga telah memberikan alternatif arti kata “fitnah” yang sesungguhnya lebih sesuai dengan kata “fitnah” dalam bahasa Arab (atau dalam kedua ayat “fitnah lebih kejam daripada pembunuhan” di atas), yaitu: “perbuatan yang menimbulkan kekacauan, seperti mengusir orang lain dari kampung halamannya, merampas harta benda, menyakiti orang lain, menghalangi dari jalan Allah, atau melakukan kemusyrikan”. Itulah terjemahan bahasa Indonesia yang lebih tepat untuk kata “fitnah” dalam bahasa Al-Quran, terutama untuk kedua ayat “fitnah” itu.

Terjemahan tersebut senada dengan pemaparan Pak Quraish yang menukil beragam penjelasan para ulama tafsir. Namun, secara garis besar, kata “fitnah” dalam ayat tersebut bermakna “syirik/kufur”, “ujian” (berupa penindasan dan siksaan). Dalam konteks ayat “wa al-fitnah asyaddu min al-qatl”, makna syirik dan ujian memang berkaitan.

Maka, di antara makna “wa al-fitnah asyaddu min al-qatl” adalah “kembali menjadi musyrik/kafir itu lebih berat daripada dibunuh”, “siksaan lebih berat daripada pembunuhan” (disiksa lebih pedih daripada dihukum bunuh), “menerima siksaan dan dipaksa agar kembali jadi musyrik/kafir lebih berat daripada dibunuh”.

Penafsiran lain, kekufuran merupakan sesuatu yang lebih buruk daripada pembunuhan. Kekufuran adalah dosa yang mengakibatkan pelakunya kekal dalam siksa, sedang pembunuhan tidak demikian. Kekufuran menyebabkan seseorang keluar dari Islam, sedang pembunuhan tidak menyebabkan pelakunya keluar dari Islam; pelaku pembunuhan tetap muslim, hanya saja di berdosa besar. Berdosa di mata Tuhan, berdosa dalam kemanusiaan.

Penjelasan lebih lengkap dan penafsiran lebih detail terkait ayat “wa al-fitnah asyaddu min al-qatl” bisa Anda rujuk ke buku “Islam yang Disalahpahami; Menepis Prasangka, Mengikis Kekeliruan”. Jika ingin lebih mantap, Anda bisa langsung cus ke sumber primer, menelaah kitab-kitab tafsir rujukan.

Intinya, kata “fitnah” tidak dipahami oleh pakar-pakar bahasa Arab dan tidak juga digunakan oleh Al-Quran dalam arti fitnah dalam bahasa keseharian kita: “menyebut keburukan orang lain secara tidak berdasar”.

Dalam bahasa agama, “menyebut keburukan orang lain secara tidak berdasar” atau “mengatakan bahwa orang lain begini-begitu secara buruk padahal kenyataannya tidak begitu” istilahnya adalah “buhtan” (بهتان) yang berarti اختلاق الكذب  atau “membuat kebohongan”.

Dalam hadis riwayat Muslim, Nabi mengatakan bahwa ghibah adalah saat Anda membicarakan orang lain terkait sesuatu yang tak ia sukai. Bagaimana jika sesuatu yang tak disukai orang tersebut memang benar adanya? Nabi bersabda,

إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ، فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Jika yang kaukatakan itu benar, kau telah berghibah. Jika yang kaukatakan itu tidak benar, kau telah membuat kebohongan.” Alias membuat hoaks.

Advertisements

Tagged: , , , , , ,

§ One Response to “Fitnah” dalam Al-Quran dan KBBI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading “Fitnah” dalam Al-Quran dan KBBI at Warung Nalar.

meta

%d bloggers like this: