Maulid dan Milad

21 November 2018 § Leave a comment


Di ujung 2018 ini ada beberapa perayaan kelahiran. Pada 18 November Muhammadiyah merayakan hari lahir ke-106. Untuk menyebut hari lahir itu Muhammadiyah memilih diksi Arab “milad”.

Tanggal 20 November sebagian besar umat muslim menyambut hari lahir Nabi Muhammad. Dan barangkali seluruh muslim menyebut hari lahir Nabi Muhammad dalam bahasa Arab dengan “maulid”.

Tanggal 25 Desember nanti dirayakan sebagai hari lahir atau hari natal Isa Almasih yang dalam bahasa Arab disebut “milad al-Masih”. Sebab itulah tahun “Masehi” dalam bahasa Arab disebut “Miladiy” (ميلادي) atau “Miladiyah” (ملادية). “Tahun Masehi” atau “Sanah Miladiyah” (سنة ميلاديّة) atau “Sanah Syamsiyyah” (سنة شمسية) atau “Tahun Matahari” itu satu makna. “Sebelum Masehi” dalam bahasa Arab disebut “Qabla al-Milad” (قبل الميلاد) atau dalam bahasa Inggris modern disebut BC (Before Christ), “Setelah Masehi” atau cukup “Masehi” disebut “Ba’da al-Milad” (بعد الميلاد) atau CE (Common Era). Artinya, “sebelum kelahiran Nabi Isa” dan “setelah kelahiran Nabi Isa”.

Muhammadiyah, PKS, dan sebagian “muslim kota” menyebut hari lahir atau hari ulang tahun dengan diksi Arab “milad”, begitu juga dengan orang Arab untuk menyebut hari lahir Nabi Isa. Sementara, untuk hari lahir atau hari ulang tahun Nabi Muhammad, orang Arab dan barangkali hampir seluruh muslim menggunakan diksi “maulid”.

Lalu, apa perbedaan “maulid” (مولد) dan “milad” (ميلاد)?

Baik “maulid” (مولد) maupun “milad” (ميلاد), keduanya berakar dari kata fiil madhi “walada” (ولد).

Kata “maulid” (مولد), dalam ilmu tashrif, memiliki tiga sebutan dan tiga arti, masing-masing sesuai konteks kalimat:

  1. kata “maulid” (مولد) bisa disebut “mashdar mimiy” (kata dasar) yang berarti “kelahiran”;
  2. kata “maulid” (مولد) bisa disebut “isim zaman” (kata keterangan waktu) yang berarti وقت الولادة atau “waktu lahir”;
  3. kata “maulid” (مولد) bisa disebut “isim makan” (kata keterangan tempat) yang berarti موضع الولادة atau “tempat lahir”.

(Lihat: Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah al-Mu’ashirah, lema و ل د; Al-Mu’jam al-Wasith, باب الواو)

Sementara, kata “milad” (ميلاد) hanya berarti وقت الولادة atau “waktu lahir”. Dalam hal ini, “maulid” (مولد) dan “milad” (ميلاد) adalah muradif atau sinonim sebagai “isim zaman” atau “kata keterangan waktu.

Jika “maulid” (مولد) dan “milad” (ميلاد) adalah muradif, kenapa kemudian “maulid” (مولد) menjadi seakan khusus untuk menyebut hari lahir Nabi Muhammad dan “milad” (ميلاد) seakan khusus untuk menyebut hari lahir Nabi Isa—lalu seperti Muhammadiyah, PKS, dan “muslim kota” mengadopsinya?

Penggunaan “maulid” (مولد) dan “milad” (ميلاد) secara identik semacam itu (“maulid” identik untuk Nabi Muhammad, “milad” identik untuk selain Nabi Muhammad) agaknya terjadi pada era belakangan saja. Jika merujuk ke literatur klasik, kita akan temukan kata “maulid” (مولد) dan “milad” (ميلاد) digunakan secara mutlak, dikembalikan ke makna bahasa keduanya, “hari lahir”, tanpa identik dan terikat untuk siapa.

Misal, terkait kata “maulid”, ada sebuah kitab yang ditulis abad keempat Hijriah berjudul تاريخ مولد العلماء ووفياتهم (Tarikh Maulid al-Ulama’ wa Wafayatihim) karya Abu Sulaiman al-Rib’iy (w. 379 M.), kitab tentang penanggalan hari lahir dan hari wafat para tokoh Islam sejak tahun pertama Hijriah hingga sekitar tahun ketiga ratus Hijriah.

Dari judul kitab tersebut, dapat disimpulkan, kata “maulid” dapat digunakan untuk umum, Nabi dan siapa pun selain Nabi. Karenanya, untuk Nabi Isa pun dapat digunakan kata “maulid” (مولد). Bahkan, kata “maulid” (مولد) dapat digunakan untuk selain manusia. Dalam Tafsir al-Maraghi tertulis:

  … إن النظرية الحديثة فى كيفية مولد الأرض وأخواتها الكواكب السيارة من الشمس هى

“Teori baru tentang bagaimana maulid (kelahiran) Bumi (dan planet-planet lain) dari matahari adalah ….”

Demikian juga kata “milad” (ميلاد). Penggunaannya ternyata tidak hanya identik untuk Nabi Isa. Kata itu juga digunakan untuk Nabi Muhammad.

Dalam karya tafsirnya, Zad al-Masir fi ‘Ilm al-Tafsir, Ibn al-Jauzi menukil,

وكان بين ميلاد عيسى وميلاد محمّد عليهما السّلام خمسمائة سنة وتسعة وتسعون سنة

“Antara milad Nabi Isa dan milad Nabi Muhammad terbentang jarak 599 tahun.”

Dalam kitab Sunan-nya, Imam al-Tirmidzi menulis bab,

بَابُ مَا جَاءَ فِي مِيلاَدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Bab Milad Nabi Saw.”

Kata “milad” (ميلاد) juga digunakan untuk selain Nabi Muhammad dan Nabi Isa secara umum. Dalam karya tafsirnya, Syaikh Mutawalli al-Sya’rawi menulis,

ولا يوجد فرق بين موت أو ميلاد إنسان صيني وآخر عربي أو فرنسي

“Tak ada beda antara kematian dan milad orang China, orang Arab, orang Prancis.”

Bahkan, lebih dari semua itu, “milad” (ميلاد) dapat digunakan untuk selain manusia. Masih mengutip tulisan Syaikh Mutawalli al-Sya’rawi,

وهذا هو الفارق بين ميلاد الدنيا وميلاد الآخرة، ميلاد الدنيا لم يكُنْ فجأة

“Inilah yang membedakan antara milad dunia dan milad akhirat. Milad dunia tidak tiba-tiba.”

Jadi, intinya, “maulid” (مولد) dan “milad” (ميلاد) hanyalah kata dari bahasa Arab yang sepadan dengan kata lain: “hari lahir”, “hari jadi”, “ulang tahun”, “ambal warsa”, “birthday”, “natal”, “kelahiran” ….

Wallahu a’lam.

Advertisements

Tagged: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Maulid dan Milad at Warung Nalar.

meta

%d bloggers like this: