Cerita Ibnu al-Jauzi Tentang Sunni dan Syiah dan Cerita Gus Dur Tentang NU dan Muhammadiyah

13 October 2018 § Leave a comment


Saya segera teringat tulisan Gus Dur tentang “Tokoh Kiai Sukri” di buku Melawan Melalui Lelucon ketika saya sedang membaca fragmen di pengantar Kitab al-Maudlu’at tentang Ibnu al-Jauzi (w. 597 H) yang ditanya oleh seseorang mengenai siapa yang lebih utama antara Abu Bakar al-Shidiq dan Ali ibn Abi Thalib. Kala itu, kelompok Ahlussunnah dan Syiah di kota Baghdad sedang berseteru: Ahlussunnah menganggap Abu Bakar yang lebih utama; Syiah mengklaim Ali yang lebih utama. Orang-orang Baghdad lalu mengutus seseorang tersebut untuk bertanya kepada Ibnu al-Jauzi. Sebagai tokoh rujukan, jawaban dan tanggapan Ibnu al-Jauzi atas persoalan yang sedang viral itu jelas ditunggu-tunggu untuk jadi legitimasi.

Apa jawaban Ibnu al-Jauzi?

Sambil tetap duduk di kursi pengajian, ia menjawab bahwa antara Abu Bakar dan Ali, yang lebih utama adalah “man kanat ibnatuhu tahtahu” (من كانت ابنته تحته).

Jawaban itu, kira-kira maksudnya: Yang lebih utama antara Abu Bakar dan Ali adalah “yang anak perempuannya menikah dengannya”.

Seseorang tersebut kembali ke kota sambil membawa jawaban ambigu dari tokoh Sunni itu. Dan rupanya, jawaban tersebut sama-sama diterima kedua pihak Ahlussunnah dan Syiah.

Ahlussunnah menerima karena memahami bahwa yang lebih utama menurut Ibnu al-Jauzi adalah Abu Bakar, sebab “anak perempuan Abu Bakar (Aisyah) menikah dengan Rasulullah”.

Syiah juga menerima karena memaknai bahwa yang lebih utama menurut Ibnu al-Jauzi adalah Ali, sebab “anak perempuan Rasulullah (Fathimah) menikah dengan Ali”.

Akhirnya, Ahlussunnah senang, Syiah pun girang. Masing-masing merasa keyakinannya mendapat legitimasi dan dukungan dari tokoh rujukan umat. Semua lega.

Kelegaan semacam itulah yang dirasakan oleh sejumlah orang NU dan Muhammadiyah yang bergurau memperdebatkan soal “hadiah” Pateka Fatihah untuk arwah orang yang telah meninggal, sebagaimana diceritakan Gus Dur dalam artikel berjudul “Tokoh Kiai Sukri” yang ditulis tahun 1980—saya, istri saya, teman-teman saya, dan sebagian Anda belum lahir.

Yang dari Muhammadiyah tidak melihat ada dalil yang bisa jadi pegangan untuk menunjang kemungkinan kiriman Fatihah sampai ke orang yang telah mati. Yang NU memegangi pendapat para ulama mazhab yang menerima kemungkinan kiriman Fatihah itu sampai.

Bagaimana Kiai Sukri?

Semua mata memandang penuh harap kepada Kiai Sukri, tulis Gus Dur. Dan ternyata, Kiai Sukri sesuai harapan mereka. Kata Kiai, “Hadiah Fatihah tidak sampai ke alamatnya … menurut Imam Syafii. Ia sampai menurut tiga imam mazhab lainnya. Kita ikut suara mayoritas sajalah.”

Semua lega—seperti Ahlussunnah dan Syiah Baghdad yang lega mendapat tanggapan dari Ibnu al-Jauzi. Yang dari Muhammadiyah merasa aman karena pendapat mereka juga sejalan dengan pendapat imam pendiri mazhab yang paling banyak diikuti di Indonesia. Yang dari NU lega, karena masih bisa mengirimkan “hadiah ulang tahun (kematian)” yang mereka warisi dari kiai zaman dahulu. Sudah tentu kirimannya tidak segera sampai secepat pos kilat karena tidak didukung oleh Imam Syafii. Tetapi ya tidak masalah. Toh mereka sudah terbiasa dengan pola “alon-alon asal kelakon”.

“Mencari titik temu optimal dari pandangan yang saling bertentangan” sebagaimana dilakukan oleh Kiai Sukri dalam cerita Gus Dur—juga Ibnu al-Jauzi dalam fragmen di pengantar kitabnya—jelas membutuhkan kombinasi kecerdasan dan kearifan.

Kunci dari sikap ini adalah keinginan sangat kuat untuk mencari apa yang terbaik bagi manusia, tetapi melalui pertimbangan manusiawi pula. Dalam bahasa fikih, kecenderungan ini dikenal dengan kaidah “mengutamakan kemaslahatan memang penting, tetapi mencegah kerusakan jauh lebih penting lagi” (dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih).

Al-Fatihah untuk Ibnu al-Jauzi, Kiai Sukri, dan Gus Dur.

Advertisements

Tagged: , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Cerita Ibnu al-Jauzi Tentang Sunni dan Syiah dan Cerita Gus Dur Tentang NU dan Muhammadiyah at Warung Nalar.

meta

%d bloggers like this: