Surat Peringatan

3 August 2018 § Leave a comment


Dalam al-Umm, Imam Syafii mengatakan,

وأحب كثرة الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم في كل حال وأنا في يوم الجمعة وليلتها اشد استحبابا وأحب قراءة الكهف ليلة الجمعة ويومها لما جاء فيها.

“Aku senang membaca shalawat Nabi kapan pun. Lebih senang lagi membacanya saat hari Jumat. Siang dan malam. Aku juga senang membaca surah al-Kahf pada hari Jumat–karena ada dalilnya.”

Omong-omong surah al-Kahf, kita tahu kisah Musa dan Khidhir dalam surah itu saat Musa minta agar dipebolehkan ikut perjalanan Khidhir. Musa ingin dapat ilmu darinya. Setelah saling berargumen, akhirnya Khidhir mengizinkan Musa ikut, dengan satu syarat: Musa jangan tanya terkait apa pun yang Khidhir lakukan. Musa tidak perlu bertanya atau mempertanyakan tindakan Khidhir, sebab Khidhir sendiri yang akan menjelaskan begitu selesai. Oke. Musa setuju.

Lanjutan kisahnya kita tahu.

Khidhir melubangi perahu.

“Kok dibolongi?” kata Musa. “Nanti penumpangnya tenggelam bagaimana?! Ndak betul ini.”

Khidhir menjawab, “Kan sudah dibilang. Kamu ndak bakal bisa sabar ikut saya.”

Barangkali Musa segera sadar aturan. Dan barangkali ia pun minta maaf. “Mohon saya jangan dihukum. Tadi saya lupa.”

Musa mendapatkan peringatan pertama.

Berikutnya, kita juga tahu: Khidhir melakukan tindakan yang jauh lebih ekstrem daripada yang pertama: membunuh anak kecil. Karena tindakan kejam itu, naluri dan emosi Musa barangkali langsung terpancing.

“Anak ini ndak berdosa. Kenapa harus dibunuh?!” kata Musa. “Tindakan mungkar ini sih!”

Khidhir menjawab lagi, “Lho bagaimana sih? Kan sudah dibilang.”

Kembali menyadari aturan Khidir, barangkali Musa minta maaf lagi.  “Oke, oke. Kalau setelah ini nanti saya masih tanya-tanya, saya pasrah jika saya ndak boleh ikut Tuan lagi.”

Musa mendapatkan peringatan kedua.

Cerita berikutnya kita tahu: Khidhir dan Musa sampai di suatu wilayah. Keduanya minta makanan kepada penduduk. Barangkali mereka lapar setelah menempuh perjalanan. Tapi, penduduk menolak. Tidak ada yang memberikan makanan.

Singkat cerita, di kampung itu, Khidhir melihat rumah yang hampir roboh. Khidir pun memperbaikinya.

“Tuan,” kata Musa, “bagaimana jika Tuan minta upah untuk tindakan Tuan ini?!”

Barangkali karena lapar, Musa mendorong agar tindakan Khidhir itu di-monetize. Diuangkan, lalu buat beli makan.

Sudah dua kali diingatkan, Musa masih tanya juga. Barangkali, karena lapar juga, Musa sampai lupa aturan.

​​Khidhir menanggapi, “Musa, kita ndak bisa bekerja bersama lagi.”

Musa mendapatkan peringatan ketiga.

Setelah Khidhir menjelaskan makna tersembunyi di balik semua tidakannya itu, Khidhir dan Musa pun berpisah.

Pertanyaannya: sistem aturan “surat peringatan (SP), pertama, kedua, dan ketiga” untuk karyawan dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan kita apakah dibuat karena terinspirasi kisah Khidhir dan Musa dalam surah al-Kahf itu?

Kalaupun tidak, aturan SP dalam UU Ketenagakerjaan kita itu telah bersifat qurani. Sesuai inspirasi Alquran. Bukan bid’ah, meski belum pernah ada pada masa Nabi. Ya kali Nabi pernah kasih SP3 ke sahabatnya.​

Advertisements

Tagged: , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Surat Peringatan at Warung Nalar.

meta

%d bloggers like this: