Mengapa Orang-Orang HTI (ex) Memandang Nasionalisme dengan Tatapan Buruk?

10 November 2017 § Leave a comment


Melalui buku “The Arabs; A History” karya Eugene Rogan (segera terbit oleh Penerbit Serambi pada 2017 ini dengan judul “Dari Puncak Khilafah; Sejarah Arab-Islam Sejak Era Kejayaan Khilafah Utsmaniyah”) kita akan memahami latar sejarah nalar orang-orang HTI, para pengusung khilafah itu, yang memandang begitu buruk nasionalisme ….

*

Banyak yang berubah antara tahun 1840 dan 1881—di Eropa maupun di Khilafah Utsmaniyah—saat sebuah pemikiran baru yang kuat dari Eropa mulai muncul ke permukaan: nasionalisme. Sebuah produk dari Era Pencerahan Eropa abad ke-18, nasionalisme menyebar ke seluruh Eropa dengan cepat selama abad ke-19. Yunani adalah salah satu pelopor paling awal, memperoleh kemerdekaan dari Khilafah Utsmaniyah tahun 1830 setelah berkubang perang satu dasawarsa lamanya.

Pada 1821, wilayah Yunani yang berada dalam kekuasaan Khilafah Utsmaniyah bergejolak karena pemberontakan kaum nasionalis. Pemberontakan itu diawali oleh anggota perkumpulan rahasia yang dikenal sebagai Filiki Etairia atau “Perkumpulan Sahabat” didirikan pada tahun 1814 dengan tujuan mendirikan negara Yunani dan memperoleh kemerdekaan. Orang Yunani di Khilafah Utsmaniyah adalah komunitas terpisah yang disatukan oleh bahasa, iman Kristen Ortodoks, dan sejarah yang mencakup periode klasik hingga Kekaisaran Bizantium Helenisme. Sebagai pemberontakan kaum nasionalis yang kali pertama dilakukan secara terang-terangan di Khilafah Utsmaniyah, Perang Yunani menimbulkan bahaya yang jauh lebih besar daripada pemberontakan oleh para pimpinan lokal pada abad ke-18. Dalam pemberontakan sebelumnya, gerakan itu hanya didorong oleh ambisi perorangan para pemimpin. Gerakan nasionalisme yang baru ini adalah sebuah ideologi yang mampu menginspirasi seluruh masyarakat untuk bangkit melawan penguasa Utsmaniyah.

Negara-negara Eropa lain, seperti Jerman dan Italia, membutuhkan waktu selama beberapa dasawarsa berkat gerakan penyatuan yang diinspirasi kaum nasionalis dan baru muncul dalam komunitas bangsa-bangsa dalam bentuk modernnya pada tahun 1870-an awal. Kekaisaran Austro-Hongaria mulai menghadapi tantangan nasionalis yang semakin besar dari dalam negeri dan tinggal menunggu waktu saja sampai sejumlah wilayah Khilafah Utsmaniyah di Eropa Timur mengikuti tren ini.

Negara-negara Balkan—Rumania, Serbia, Bosnia, Herzegovina, Montenegro, Bulgaria, Makedonia—mulai memperjuangkan kemerdekaan dari cengkeraman Utsmaniyah pada tahun 1830-an. Negara-negara Eropa semakin mendukung warga Kristen Utsmaniyah yang berusaha untuk membebaskan dirinya dari cengkeraman Turki. “Para politikus di Inggris dan Prancis memulai gerakan untuk mendukung kaum nasionalis Balkan. Pemerintah Rusia memberikan dukungan penuh kepada orang-orang Kristen Ortodoks dan sesama bangsa Slavia di Balkan. Bangsa Austria berharap dapat memanfaatkan gerakan separatis di Bosnia, Herzegovina, dan Montenegro untuk memperluas wilayah mereka dengan merebut wilayah Utsmaniyah (dan dalam proses itu mengintegrasikan gerakan sangat nasionalis yang tahun 1914 akan menyebabkan kejatuhannya dan memicu perang dunia).

Dukungan eksternal ini menambah keberanian kaum nasionalis Balkan dalam perjuangan melawan Utsmaniyah. Sebuah pemberontakan besar pecah di Bosnia-Herzegovina tahun 1875. Tahun berikutnya, nasionalis Bulgaria meluncurkan pemberontakan melawan Utsmaniyah.

Bagaimana dengan wilayah kekuasaan Khilafah Utsmaniyah di kawasan Arab?

Nasionalisme bangkit di wilayah-wilayah kekuasaan Khilafah Utsmaniyah yang berada di kawasan Arab pada awal abad ke-20. Awalnya, sulit bagi bangsa Arab di khilafah membayangkan mereka terpisah setelah hampir empat abad berada di bawah kekuasaan Utsmaniyah. Kaum nasionalis awal bergulat dengan gagasan yang saling bertentangan tentang seperti apa negara Arab bersatu itu. Beberapa membayangkan sebuah kerajaan yang berpusat di Semenanjung Arab, sedangkan lainnya bercita-cita mendirikan negara di beberapa bagian dunia Arab yang berbeda, seperti di Suriah Raya atau Irak. Kaum nasionalis zaman sebelumnya adalah orang-orang terpinggirkan dalam masyarakatnya sendiri dan menghadapi tekanan sedemikian rupa dari pemerintah Utsmaniyah sehingga mencegah orang lain mengikuti jejak mereka. Orang-orang yang ingin mengejar impian politik dipaksa mengasingkan diri. Beberapa pergi ke Paris, tempat gagasan mereka dipupuk oleh kaum nasionalis Eropa; lainnya melakukan perjalanan ke Kairo, tempat mereka terinspirasi oleh kaum reformis Islam dan kaum nasionalis sekuler yang ingin melawan pemerintahan Inggris.

Kesulitan yang dihadapi oleh kaum nasionalis Arab awal hampir tidak dapat diatasi. Negara Utsmaniyah ada di mana-mana dan siap membungkam aktivitas politik ilegal dengan kejam. Orang-orang yang menginginkan kemerdekaan untuk tanah Arab tidak memiliki sarana untuk mencapai tujuan mereka. Hilang sudah hari-hari ketika orang kuat dari kawasan Arab bangkit untuk mengalahkan tentara Utsmaniyah. Jika ada yang berhasil dicapai reformasi Utsmaniyah pada abad ke-19, itu adalah menjadikan pemerintah pusat lebih kuat dan wilayah Arab lebih tunduk pada kekuasaan Istanbul. Butuh sebuah kejadian dahsyat untuk mengguncang cengkeraman Utsmaniyah atas dunia Arab.

Perang Dunia I terbukti menjadi kejadian dahsyat itu.

Perang Dunia I dan penyelesaian pascaperang menjadi salah satu periode paling penting dalam sejarah Arab modern. Empat abad pemerintahan Utsmaniyah menemui akhir yang menentukan di seluruh dunia Arab pada Oktober 1918. Tidak banyak orang Arab zaman itu yang dapat membayangkan dunia tanpa Khilafah Utsmaniyah. Reformasi abad ke-19 telah memperluas pemerintahan Istanbul atas provinsi-provinsi Arab menjadi lebih daripada sekadar birokrasi yang rumit, infrastruktur komunikasi seperti rel kereta api dan telegraf, dan dengan menyediakan pendidikan Utsmaniyah untuk semakin banyak warga Arab melalui perluasan sistem sekolah. Bangsa Arab mungkin merasa lebih terhubung dengan dunia Utsmaniyah pada awal abad ke-20 daripada yang pernah mereka rasakan sebelumnya.

Hubungan antara orang-orang Arab dan Utsmaniyah baru meningkat setelah tahun 1908, di bawah kepemimpinan Turki Muda. Saat itu, Khilafah Utsmaniyah telah kehilangan hampir semua provinsi Eropa mereka di Balkan. Turki Muda mewarisi imperium Turki-Arab dan berusaha sekuat-kuatnya untuk memperkuat cengkeraman Istanbul atas wilayah Arab. Kebijakan Turki Muda mungkin telah mengasingkan kaum nasionalis Arab, tetapi mereka cukup berhasil menjadikan kemerdekaan bangsa Arab sebagai tujuan yang sepertinya tidak terjangkau.

Dengan runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, kaum nasionalis Arab memasuki periode aktivitas yang bergejolak, didorong oleh aspirasi pemerintahan merdeka. Untuk waktu yang singkat, masa-masa memabukkan antara tahun 1918 dan 1920, para pemimpin politik di Mesir, Suriah, Irak, dan Hijaz meyakini dirinya berada di ambang zaman baru kemerdekaan. Mereka berharap banyak pada Konferensi Perdamaian Paris dan tatanan dunia baru untuk mewujudkan ambisinya. Mereka semua, tanpa kecuali, akhirnya kecewa.

Zaman baru yang dihadapi bangsa Arab sebenarnya akan dibentuk oleh imperialisme Eropa, bukan oleh kemerdekaan bangsa Arab. Negara-negara Eropa mengutamakan kepentingan strategis mereka dan menyelesaikan semua titik ketidaksepakatan di antara mereka sendiri melalui proses perdamaian pascaperang. Prancis menambahkan Suriah dan Lebanon ke wilayah Arab yang dikuasainya di Afrika Utara. Inggris menguasai Mesir, Palestina, Transyordania, dan Irak. Meskipun terjadi perubahan dalam beberapa perbatasan tertentu, negara-negara Eropa menyusun batas-batas negara modern Timur Tengah seperti yang kita kenal sekarang (dengan pengecualian besar atas Palestina). Bangsa Arab tidak pernah bisa menerima ketidakadilan yang mendasar ini dan menghabiskan tahun-tahun antara Perang Dunia I dan II dalam konflik dengan penguasa kolonial untuk mencapai kemerdekaan.

Inilah gambaran singkat sudut pandang sejarah yang cukup membantu kita memahami mengapa orang-orang HTI memandang nasionalisme dengan tatapan begitu buruk.

(Gambaran komprehensifnya bisa Anda dapatkan di buku-segera-terbit Eugene Rogan “Dari Puncak Khilafah” tersebut di atas. Juga buku lain Rogan yang telah terbit “The Fall of the Khilafah”—juga oleh Serambi. Dua buku Rogan itu dengan sangat memikat menggambarkan sejarah Arab modern, dimulai sejak kejayaan Khilafah Utsmaniyah hingga keruntuhannya, sejak penaklukan Khilafah atas Arab hingga pemberontakan Arab atas Khilafah).

Orang-orang HTI, sebagai pengusung khilafah, mengerti, sistem khilafah pernah memiliki pengalaman buruk dengan nasionalisme. Khilafah Utsmanisyah, sistem pemerintahan mutltinasional dan multibahasa, yang pernah memiliki wilayah kekuasaan begitu luas dan masa kekuasaan yang begitu panjang, runtuh—salah satu faktor pentingnya—karena nasionalisme.

Singkatnya, nasionalisme adalah ancaman bagi sistem khilafah.

Sebaliknya, bangsa Indonesia meraih kemerdekaan berkat rahmat Allah—justru—melalui nasionalisme, rasa cinta air, hubbul wathan, dalam diri para pejuang dan pahlawan kemerdekaan.

Khilafah runtuh oleh nasionalisme. Indonesia kukuh berkat nasionalisme.

Sebab itu, pernyataan buruk orang-orang HTI semisal “Hancurkan sekat-sekat nasionalisme yang telah memecah bela kita semua” atau “Membela nasionalisme nggak ada dalilnya, nggak ada panduannya” sungguh sangat tidak bisa diterima di Indonesia. Narasi negatif semacam itu hanya layak dikampanyekan di pemerintahan sistem khilafah. Saat narasi-narasi semacam itu dikampanyekan di wilayah negara yang justru menjadi kukuh berkat nasionalisme seperti Indonesia kita ini, tak ada yang pantas diserukan selain: lawan!

Selamat Hari Pahlawan!

Advertisements

Tagged: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Mengapa Orang-Orang HTI (ex) Memandang Nasionalisme dengan Tatapan Buruk? at Warung Nalar.

meta

%d bloggers like this: