The Origin of “Walakin”

1 November 2017 § Leave a comment


walakin

“Walakin” telah dimasukkan ke KBBI.

KBBI mengartikan “walakin” dengan “walaupun begitu; tetapi; akan tetapi”, makna yang kurang-lebih sama dengan penggunaan dalam bahasa aslinya, bahasa Arab: untuk menyatakan hal yang bertentangan atau tidak selaras.

(Sekadar informasi: menurut KBBI, yang baku adalah “tetapi”, bukan “tapi”).

Lalu, seperti apa seluk-beluk “walakin” dalam tata bahasa Arab sendiri?

“Walakin” terdiri atas “wa” dan “lakin”. Keduanya jenis partikel kata berbeda. Dalam tata bahasa Arab, masing-masing memiliki pembahasan sendiri-sendiri. Aturan penggunaan masing-masing berbeda. Karena itulah ada kondisi yang memperbolehkan penggabungan “wa” dengan “lakin” menjadi “walakin, dan, ingat, ada juga kondisi “wa” tidak boleh disertakan ke “lakin”. Haram menggunakan kata “walakin”.

Kapan TAK BOLEH menggabungkan “wa” dengan “lakin”? Kapan “walakin” menjadi haram?

“Lakin” tidak boleh ditempeli “wa” (tidak boleh menggabungkan keduanya menjadi “walakin”) saat “lakin” itu menjadi kata penghubung, dengan syarat: PERTAMA, yang dihubungkan adalah kata, bukan kalimat; KEDUA, dalam penggunaan pola kata negatif (berunsur kata “tidak” atau “jangan” atau
bukan”).

Contoh:

لَمْ أَخْرُجْ صَبَاحاً لَكِنْ مَسَاءً

Aku tidak keluar pada pagi hari, lakin sore hari.

Aku tidak keluar pada pagi hari, tetapi sore hari.

 

ما شربتُ اللبنَ لكن الماءَ

Aku tidak minum susu, lakin air.

Aku tidak minum susu, tetapi  air.

 

لا تضرب زيدا لكن عمرا

Jangan pukul Zaid, lakin Amr.

Jangan pukul Zaid, tetapi Amr.

 

Ketiga contoh di atas hanya boleh menggunakan لكن  (lakin). Tidak boleh menggunakan ولكن  (walakin). Hukumnya haram.

Kenapa?

“Wa” (و) dan “lakin” (لكن) SAMA-SAMA disebut “harf al-‘athfi” atau kata hubung. Dalam ilmu nahwu, keduanya berada dalam satu kelompok bahasan, namun untuk penggunaan BEREBDA.

“Wa” (و) digunakan untuk makna “ketersertaan dua atau beberapa pihak dalam suatu hal”, yang dalam bahasa Indonesia disebut “dan”—penghubung satuan bahasa (kata, frasa, klausa,  kalimat) yang setara. Contohnya: “Jangan pukul Zaid dan Umar”. Keduanya tidak boleh dipukul.

Sementara, “lakin” (لكن) sebaliknya: digunakan untuk makna استدراك, yaitu kata hubung untuk menyatakan koreksi atas pemahaman dalam kata-kata sebelumnya, yang dalam bahasa Indonesia disebut “tetapi”—kata hubung untuk menyatakan hal yang bertentangan. Contohnya: “Jangan pukul Zaid, tetapi Amr”. Amr dipukul, Zaid tidak.

Nah, arti dan kegunaan yang berbeda dalam “wa” (و) dan “lakin” (لكن) itulah yang membuat keduanya tak bisa disatukan menjadi s̶e̶p̶a̶s̶a̶n̶g̶ ̶k̶e̶k̶a̶s̶i̶h̶ “walakin” (ولكن) dalam aturan tata bahasa Arab. Anda tidak bisa mengatakan:

لا تضرب زيدا ولكن عمرا

Jangan pukul Zaid walakin Amr.

Jangan pukul Zaid dan tetapi Amr.

Kalimat yang maknanya rancu. (Amr jangan dipukul juga, atau dipukul saja?). Sebab itu, contoh kalimat tersebut tidak bisa diterima dalam logika tata bahasa Arab, bahkan bahasa Indonesia.

Lalu, kapan BOLEH menggabungkan “wa” dengan “lakin” menjadi “walakin”?

Jika kedua syarat di atas tak terpenuhi. Yaitu, saat yang dihubungkan oleh “lakin” adalah kalimat, bukan kata, dan “lakin” tidak berada di kalimat negatif (tidak berunsur “tidak” atau “jangan” atau “bukan”). Pada salah satu dari kondisi tersebut, “lakin” boleh ditempeli “wa” menjadi “walakin”. Dan, ingat: hanya boleh, bukan harus. Artinya, menggunakan “walakin” atau cukup “lakin” sama-sama bisa dan boleh.

Contoh yang menggunakan “walakin”:

جَاءَ الْمُعَلِّمُ وَلَكِنِ التِّلْمِيذُ غَائِبٌ

Guru sudah datang, walakin murid tidak hadir.

Guru sudah datang, akan tetapi murid tidak hadir.

 

Contoh yang menggunakan “lakin”, tanpa “wa”:

سافر زهيرٌ لكنْ خالدٌ مقيمٌ

Zuhair jalan-jalan, lakin Khalid tetap tinggal.

Zuhair jalan-jalan, akan tetapi Khalid tetap tinggal.

 

Selain, “lakin” (لكنْ), sebenarnya juga ada “lakinna” (لَكِنَّ). Tidak akan saya jelaskan lebih lanjut. Walakin, prinsip keduanya sama: sama-sama bisa ditambahi “wawu”. Bisa jadi “walakin” dan “walakinna”. Dalam penggunaan, secara sederhana dapat dikatakan, keduanya pun untuk mengungkapkan maksud yang kurang lebih sama (untuk maksud penghubung antarkalimat, bukan antarkata).

Contoh “lakinna”, tanpa “wa”:

حضر خالدٌ لكنّ سعيداً غائب

Khalid hadir, lakinna Sa’id tidak hadir.

Khalid hadir, akan tetapi Sa’id tidak hadir.

Contoh “walakinna”:

وعَيْنُ الرِّضا عن كلِّ عيبٍ كليلةٌ ولكنّ عينَ السخطِ تُبدِي المَساوِيا

Jika senang, tak ada yang tampak di mata kecuali yang baik-baik. Walakinna, jika sudah marah, tak ada yang tampak di mata kecuali yang buruk-buruk.

Jika senang, tak ada yang tampak di mata kecuali yang baik-baik. Akan tetapi, jika sudah marah, tak ada yang tampak di mata kecuali yang buruk-buruk.

 

Oke. Begini kesimpulan dan penyederhanaannya:

PERTAMA: kata penghubung antarkata (dalam kalimat negatif) untuk menyatakan hal yang bertentangan atau tidak selaras hanyalah “lakin”, tidak boleh “walakin”.

Contohnya:

“Aku tidak minum susu, LAKIN air”. (Tidak boleh: “Aku tidak minum susu, WALAKIN air”).

“Presiden RI itu bukan Pak Nganu, LAKIN Pak Dhe Jokowi”. (Tidak boleh: “Presiden RI itu bukan Pak Nganu, WALAKIN Pak Dhe Jokowi”).

“Nama hotel yang izinnya tak diperpanjang itu bukan Gaexis, LAKIN Alexis”. (Tidak boleh: “Nama hotel yang izinnya tak diperpanjang itu bukan Gaexis, WALAKIN Alexis”).

KEDUA: sedangkan penghubung “walakin” dan “walakinna” digunakan dalam antarkalimat yang menunjukkan makna bertentangan atau tidak selaras. Walakin, bisa juga menggunakan “lakin” dan “lakinna”.

Contohnya:

“Guru sudah datang, WALAKIN murid tidak hadir” (“WALAKIN” boleh diganti dengan “LAKIN”).

“Keenan cukup lama menjadi pacar Raisa, WALAKIN Hamish tak butuh waktu lama untuk menjadi suami Raisa” (“WALAKIN” boleh diganti dengan “LAKIN”).

“Menikahlah dengan orang NU. Orangnya perhatian. Orang yang sudah mati saja masih diperhatikan dan selalu didoakan, apalagi yang masih hidup. WALAKIN, menikahlah dengan orang pengusung khilafah. Insyaallah hidupmu penuh dengan solusi. Sebab, khilafah adalah solusi” (“WALAKIN” boleh diganti dengan “LAKIN”).

Demikianlah sedikit seluk-beluk “walakin” [dan “lakin”] dalam tata bahasa aslinya, bahasa Arab.

Lalu, bagaimana dengan si anggota baru KBBI, “walakin”, yang diartikan “walaupun begitu; tetapi; akan tetapi”?

Kita coba lihat dari berbagai sudut pandang.

PERTAMA, dari sudut pandang bahasa aslinya, bahasa Arab. Sudut ini tidak boleh diabaikan. Ya, sebab ia bahasa sumber yang memiliki kaidah-kaidah sendiri. Juga, jika mau dikaji, kaidah dan rumusan “lakin” dan “walakin” dalam bahasa aslinya itu kompatibel kok dengan bahasa Indonesia. Contoh-contoh kalimat di atas membuktikan. Karenanya, kaidah dan rumusan penggunaan “lakin” dan “walakin” bahasa asli itu bisa jadi acuan rumusan penggunaan “lakin” dan “walakin”. (Saya kira penting memahami seluk-beluk suatu kata dalam bahasa aslinya. Agar, saat menjadi kata serapan, ia memiliki fondasi yang kukuh, makna yang tepat dan komprehensif, dan tidak memunculkan terlalu banyak pertanyaan).

Nah, dari sudut pandang bahasa aslinya ini, “walakin” KBBI sudah benar, walakin tetap memiliki celah salah. Sebab, seperti sudah dijelaskan dan dicontohkan, ada kondisi “walakin” haram digunakan. Hanya boleh “lakin”. Sementara, KBBI hanya memasukkan “walakin”, dan itu untuk semua kondisi. Itulah celah salahnya. Sebagai usulan: tak hanya “walakin”, KBBI juga bisa memasukkan “lakin”. Jangan lupa rumuskan persamaan dan perbedaan penggunaannya (sudah ada di atas).

Tetapi, andai sudut pandang itu dibantah, “Lho, kata serapan kan tidak harus terikat dengan rumusan dan makna bahasa sumbernya. Bisa berkembang dari rumusan dan makna bahasa sumbernya, bahkan bisa berbeda,” ya … oke. Sebab, selain soal kebiasaan, bahasa itu soal kesepakatan (atau kebiasaan yang kemudian disepakati). Tapi, kesepakatan yang diambil secara argumentatif dan dengan proses yang tepat, tetap lebih baik dan mesti didahulukan. Jangan menyerap bahasa secara serampangan.

Intinya, dari sudut pandang ini, entri “walakin” di KBBI perlu diperbaiki.

KEDUA, dari sudut pandang … apa ya. Saya coba cari artikel tentang alasan-alasan penyerapan bahasa asing. Saya dapatkan dari situs Badan Bahasa (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan). Saya kutipkan bagian-bagian terpentingnya:

~ Penyerapan unsur bahasa asing itu harus dilakukan secara selektif, yaitu kata serapan yang dapat mengisi kerumpangan konsep dalam khazanah bahasa Indo­nesia. Kata itu memang diperlukan dalam bahasa Indonesia untuk kepen­tingan pemerkayaan daya ung­kap bahasa Indonesia mengiringi perkem­bangan ilmu pengetahuan dan tekno­logi Indonesia modern.

~ Kata “condominium”, diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan penye­suaian ejaan menjadi “kondominium”. Demikian juga penyerapan kata “konsesi”, “staf”, “golf”, “manajemen”, dan “dokumen”. Kata-kata itu diserap ke dalam bahasa Indonesia melalui proses penyesuaian ejaan. Namun, kata “laundry”, sebenarnya tidak diperlukan karena dalam bahasa Indonesia sudah digu­nakan kata “binatu” dan “dobi”. Perlakuan yang sama dapat dikenakan pada kata “tower” karena padanan untuk kata itu sudah ada dalam khazanah ba­hasa Indonesia, yaitu “menara” atau “mercu”. Kata “garden” yang pengertian­nya sama dengan kata “taman” atau “bustan” juga tidak perlu diserap ke da­lam bahasa Indonesia.

Silakan gagasan dalam dua paragraf kutipan dari situs Badan Bahasa itu diterapkan untuk konteks kata “walakin”.

TANYA: Apakah “walakin” mengisi kerumpangan atau kekosongan konsep dalam khazanah bahasa Indonesia? JAWAB: Tidak. “walakin” sama sekali tidak mengisi kerumpangan dan kekosongan. Bahasa Indonesia sudah memiliki kata lebih dari satu untuk mengungkapkan makna “walakin”, yaitu, “tetapi”, “akan tetapi”, “walaupun begitu”, “meskipun begitu”. Jadi, “walakin” ingin mengisi kekosongan apa?

TANYA: Apakah kata itu memang diperlukan dalam bahasa Indonesia untuk kepentingan pemerkayaan daya ungkap bahasa Indonesia mengiringi perkem­bangan ilmu pengetahuan dan tekno­logi Indonesia modern? JAWAB: Perkem­bangan ilmu pengetahuan dan tekno­logi Indonesia modern apa yang ingin diungkapkan dengan kata “walakin”? Pengayaan kosakata? Apakah kosakata “tetapi”, “akan tetapi”, “walaupun begitu”, dan “meskipun begitu” tidak cukup untuk membuat KBBI merasa kaya? KBBI kurang bersikap zuhud.

TANYA: Dua kelompok kata. Pertama: “condominium”, “staff”, “golf”, “management”, “document”. Kedua: “laundry”, “tower”, “garden”. Ke kelompok manakah kata “walakin” tepat dimasukkan? JAWAB: Kelompok kedua: tidak perlu diserap ke bahasa Indonesia.

Intinya, dari sudut pandang kedua ini, tidak perlu ada entri “walakin” di KBBI.

KETIGA, dari sudut pandang saya pribadi. Sudut pandang pertama di atas sebenarnya bagus: entri “walakin” di KBBI perlu diperbaiki. Tapi kok menurut saya lebih bagus sudut pandang kedua ya: “walakin” tidak perlu diserap ke bahasa Indonesia. Tidak perlu ada “walakin” di KBBI.

Jadi, lema “walakin” ini, bagi saya, agak mengejutkan.

Apa alasan utama tim redaksi KBBI memasukkan “walakin”? Karena kata itu biasa digunakan? Sudah umum? Biasa dan umum dipakai di kelompok apa? Sebelumnya, Anda pernah menggunakannya? Atau pernah mendengar orang-orang di lingkaran tertentu mengunakan kata itu? Atau saya sendiri yang merasa asing?

Jika ya, mendingan “akhi” dan “ukhti” sih. Kenapa kata “akhi” dan “ukhti” tidak dijadikan lema dalam KBBI? Padahal, “akhi” dan “ukhti” sudah jauh lebih lama, lebih sering, dan lebih luas digunakan daripada “walakin”. Di kampus-kampus, “akhi” dan “ukhti”—pengalaman saya dulu—biasa digunakan dalam percakapan oleh anak-anak organisasi intrakampus LDK, anak-anak KAMMI, anak-anak tarbiyah. “Akhi” dan “ukhti” kian populer kala Opick membuat lagu “Assalamu’alaikum, ya akhi, ya ukhti”. Kini, mungkin kebanyakan orang pernah—atau malah biasa—mendengar dan paham kata “akhi-ukhti”. Andai kebanyakan orang tidak pernah mendengar dan paham kata “akhi-ukhti”, ya apalagi kata “walakin”—sebelum ini. Tapi justru kenapa “walakin” dimasukkan ke KBBI dan “akhi-ukhti” tidak?

Entah. Ya, yang pasti, tim redaksi KBBI punya jawaban dengan logika dan argumentasi sendiri.

Advertisements

Tagged: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading The Origin of “Walakin” at Warung Nalar.

meta

%d bloggers like this: