HTI yang Babak Belur Dua Kali


Terutama dalam lima tahun belakangan.

PERTAMA, babak belur secara ideologi dan citra oleh ISIS. Kesamaan ISIS dan HTI (dan HT global) adalah keduanya mengusung khilafah. Perbedaan keduanya ada pada cara mereka berupaya menegakkan khilafah.

Seperti yang kita tahu, secara umum, tahap penegakan khilafah ala HTI baru di tahap dakwah (seruan) secara kultural dan informal, terutama di kampus-kampus. Turun ke jalan mengampanyekan “khilafah adalah solusi”, mengadakan seminar, dialog-dialog, penyebaran buletin, dan lain-lain. Masih di tahap pemikiran. Dan itu dilakukan secara damai.

Sialnya, citra HTI itu dihancurkan oleh ISIS sebagai sesama pengusung khilafah. Anda tahu, ISIS telah berhasil menegakkan khilafah (dan mengangkat seorang khalifah) dengan jalan “jihad” kekerasan. Menistakan, membunuh, menghancurkan, membinasakan. Namun, dengan “jihad” kekerasan itulah ISIS berhasil menegakan khilafah dengan cepat.

(Sampai ada ejekan untuk Hizbut Tahrir, sepertinya oleh fansboy ISIS. “Hizbut Tahrir” diplesetkan menjadi “Hizbut Ta’khir”, yang artinya “Partai yang Menunda-nunda”. Maksudnya, usia Hizbut Tahrir ini sudah puluhan tahun, tapi tidak berhasil mewujudkan cita-cita khilafah. Banyak bicara, hasil tiada. Sementara, ISIS tidak butuh lama dan tak banyak bicara untuk mewujukan khilafah).

Citra dan kenyataan bengis ISIS tersebut merasuki pikiran orang-orang dan–mau atau tidak mau–mereka akan memandang Hizbut Tahrir sebagaimana mereka memandang ISIS hanya karena satu kesamaan: sama-sama pengusung khilafah. Jika disebut “khilafah” maka pikiran orang akan menunjuk ISIS yang bengis. Mereka mengkhawatirkan khilafah ala HTI akan seperti khilafah ala ISIS. Siapa yang bisa disalahkan untuk itu? ISIS atau pikiran orang-orang?

Meski, setahu saya, HTI menolak dan mengingkari khilafah ala ISIS tersebut. Anda bisa cek di web HTI.

(Jadi, dalam pikiran sesama pengusung khilafah, tafsir khilafah sendiri tidak tunggal. Bukan hanya berbeda; bahkan saling menafikan).

KEDUA, yang lagi hangat: babak belur secara infrastruktur oleh sistem. HTI dibubarkan oleh Pemerintah.

Untuk mengobati citra yang babak belur oleh ISIS, HTI bisa melakukannya dengan kampanye terus-menerus bahwa khilafah sesungguhnya begini-begitu, tidak seperti yang digambarkan oleh ISIS. Khilafah ala Hizbut Tahrir adalah begini-begitu. Melakukan serangan balik pemikiran.

Lalu, bagaimana HTI membangun infrastruktur yang dihancurkan oleh sistem? Tanpa insfrastruktur, tanpa organisasi, hampir mustahil mewujudkan khilafah. Ada insfrastruktur dan organisasi saja belum tentu bisa mewujudkan khilafah.

Bagaimana caranya? Masuk ke dalam sistem dan bertarung. Denger-denger, mau ke Mahkamah Konstitusi ya.

Dengan cara masuk ke sistem itu pula–jika menang di MK–HTI bisa kembali memperjuangkan khilafah. Masuk ke sistem politik Indonesia. Memperjuangkan khilafah secara formal dalam sistem politik dan demokrasi negara ini. Formal dan sistemik. Tidak lagi memperjuangkan khilafah hanya di tahap seruan yang informal dan kultural.

Kalau tidak salah ingatan, pada awal 2000-an, Pak Azyumardi Azra sudah menganjurkan agar HTI masuk ke sistem formal politik Indonesia jika ingin menyuarakan aspirasi. Bertarung merebut suara rakyat. Agar ketahuan, sebenarnya aspirasi HTI itu diminati rakyat atau tidak sih. Gagasan khilafah itu masuk akal atau tidak sih. (Pernah baca tulisan beliau di kolom opini Republika atau Kompas. Lupa).

Tapi, mungkinkah HTI masuk ke sistem demokrasi yang di haramkannya sendiri? Maukah HTI menenggak minuman yang telah ia cap haram?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s