Malaikat Sebagai Anekdot


Dalam literatur klasik tasawuf, khususnya dalam fragmen cerita para nabi atau wali, kenapa malaikat-malaikat kadang digambarkan “sangat profan”, “biasa saja”, “sangat akrab”? Dalam hal ini, Munkar-Nakir dan Malakul Maut Izrail paling banyak menjadi bahan cerita.

Dalam Ihya Ulumiddin, Imam al-Ghazali mengutip kisah tentang Nabi Ibrahim didatangi Malakul Maut yang hendak mencabut nyawa sang Nabi. Tanggapan Nabi Ibrahim kepada malaikat pencabut nyawa itu?

“Memang kau pernah melihat seseorang yang tega membuat kekasihnya mati?!”

Mendengar reaksi Nabi Ibrahim yang membuat Malakul Maut cuma bengong itu, Tuhan segera turun tangan, menyampaikan wahyu kepada Nabi Ibrahim.

“Ibrahim, memang kau penah melihat seseorang yang tak senang bila bertemu kekasihnya?”

Seketika, Nabi Ibrahim berkata kepada sang malaikat, “Baiklah, Malakul Maut! Silakan cabut nyawaku sekarang juga.”[1] (Tuhan ataukah diksi yang meluluhkan Nabi Ibrahim?)

Sementara, dalam hagiografi Tadzkirah al-Auliya, Fariduddin Attar mengutip cerita sufi perempuan agung Rabiah Adawiyah bersama malaikat Munkar-Nakir.

Beberapa waktu setelah Rabiah wafat, seseorang bermimpi bertemu Rabiah. Dalam mimpi tersebut Rabiah ditanya bagaimana ia melewati fase pertanyaan kubur Munkar-Nakir.

“Mereka mendatangiku,” kata Rabiah, “dan menanyakan ‘man Rabbuka’ (siapa Tuhanmu).”

“Aku bilang kepada Munkar-Nakir,” Rabiah melanjutkan, “agar mereka kembali saja kepada Tuhan dan sampaikan pesanku untuk-Nya: Tuhan, Kau tak pernah melupakanku meski ada ribuan budak sepertiku. Aku renta, lemah, dan fakir. Aku tak punya siapa-siapa selain diri-Mu. Tak ada kekasih yang kumiliki selain diri-Mu. Jadi, mungkinkah aku melupakan-Mu hingga Kau perlu mengirim utusan untuk bertanya kepadaku ‘Siapa Tuhanmu’?!”[2]

Dua cerita di atas favorit saya. Penuh cinta. Saya meleleh saat pertama kali membaca keduanya.

Sementara, kisah ini—masih dalam Tadzkirah—membuat saya tertawa.

Seorang murid bermimpi bertemu syekhnya yang telah meninggal. “Bagaimana kau melewati Munkar-Nakir?” kata si murid.

Syekh menjawab, “Munkar-Nakir menanyaiku ‘man Rabbuka’. Aku katakan kepada mereka bahwa jawaban pertanyaan itu—Allah Tuhanku— akan percuma untuk mereka.”

“Kembalilah kepada Tuhan,” kata si syekh melanjutkan, kepada Munkar-Nakir, dalam mimpi. “Dan tanyakan kepada-Nya apakah aku diterima di sisi-Nya atau tidak. Jika aku menjawab bahwa Allah Tuhanku, bahkan jika aku mengulangi jawaban itu ribuan kali, tetapi Allah tidak menerimaku, ya, percuma saja aku menjawab.”[3]

Attar mengutip beberapa cerita perihal Munkar-Nakir terkait para wali. Dua di atas adalah yang saya anggap paling bagus.

Juga masih dalam Tadzkirah …. Malakul maut mendatangi seorang wali bernama Khair al-Nassaj menjelang waktu maghrib. Khair al-Nassaj yang sedang sakit mendongak.

“Malakul Maut, semoga Allah menjagamu,” kata sang wali. “Jangan buru-buru. Tunggulah sebentar. Aku tahu, kau ditugaskan untuk mencabut nyawaku, sementara aku ditugaskan untuk melaksanakan shalat maghrib ini. Jika kaulaksanakan sekarang, kau melaksanakan tugasmu, sementara aku melewatkan tugasku.”

“Tunda sebentar,” kata Khair, menawar. Khair kemudian berwudu, melaksanakan shalat magrib. Setelah itu Malakul Maut menjalankan tugasnya.[4]

Attar menukil pernyataan Abu Bakar al-Syibli, “Jika Malakul Maut datang hendak mencabut nyawaku, aku akan menolak. Aku akan mengadu kepada Tuhan, ‘Ilahi, sebagaimana Engkau memberiku ruh tanpa diwakili siapa pun, cabutlah ruhku tanpa perantara siapa-siapa.’”[5]

Kisah lain dalam Ihya, masih tentang Malakul Maut. Suatu saat, Malakul Maut menemui seorang saleh.

“Ada yang ingin kusampaikan,” kata Malakul Maut dalam rupa manusia biasa kepada si orang saleh setelah keduanya saling berucap salam. “Silakan,” kata orang saleh.

“Aku Malakul Maut.”

“Selamat datang! Ahlan wasahlan kepada sosok yang lama pergi dariku! Demi Tuhan, di dunia ini tak ada yang ingin kutemui selain dirimu.”

“Sampaikan keinginan terakhirmu.”

“Tak ada keinginan yang lebih besar dan yang lebih kucintai selain bertemu Allah.”

“Baik. Silakan pilih kondisi yang kaumau saat kucabut nyawamu.”

“Kau bisa melakukannya?”

“Itu sudah tugasku.”

“Baik. Aku berwudu dulu. Dan cabut nyawaku saat aku melaksanakan shalat.”[6]

Malakul maut kemudian mencabut nyawa orang saleh itu saat si orang saleh sedang bersujud.

Itu baru beberapa cerita dari dua kitab masyhur dalam literatur klasik tasawuf: Ihya Ulumiddin dan Tadzkirah al-Auliya. Jika digali lagi, mungkin masih banyak cerita-cerita serupa dalam kedua kitab ribuan halaman itu. Dan mungkin jauh lebih banyak lagi di luar dua kitab tersebut.

Kenapa para ahli tasawuf tak sedikit mengambarkan (atau menukil gambaran) malaikat seakan bukan apa-apa dibanding para nabi dan para wali atau orang-orang saleh? Para malaikat ditampilkan hanya sebagai pelengkap narasi keagungan para nabi dan wali atau orang-orang saleh. Bahkan, kadang malaikat digambarkan secara anekdotal dalam kisah orang-orang istimewa itu.

Pernyataan Ali al-Kharaqani yang dinukil Attar dalam Tadzkirah al-Auliya barangkali bisa jadi jawaban: “Ada tiga malaikat yang segan kepada para wali: Malakul Maut saat mencabut nyawa mereka, al-Kiram al-Katibun saat mencatat amal mereka, dan Munkar-Nakir saat memberikan pertanyaan kubur kepada mereka.”[7] (Wajar saja jika Munkar-Nakir dan Malakul Maut Izrail paling banyak menjadi bahan cerita terkait keagungan para nabi dan para wali dalam literatur tasawuf).

Kenapa malaikat-malaikat itu segan kepada para wali?

Dalam Fihi Ma Fihi, Jalaluddin Rumi membagi makhluk berdasarkan tabiat: malaikat, binatang, dan manusia.[8]

Jika malaikat melaksanakan ibadah, zikir, atau perintah, itu bukan bentuk ketaatan dan kebaikan. Itu tabiat melekat dan tak bisa lepas dari diri mereka. Mereka “murni akal” yang hanya memungkinkan mereka melakukan—dalam bahasa manusia—ketaatan dan kebaikan.

Jika binatang melampiaskan syawat, itu bukan pembangkangan dan keburukan. Itu tabiat melekat dan tak bisa lepas dari diri mereka. Mereka “murni syahwat” yang hanya memungkinkan mereka melakukan—dalam bahasa manusia—pembangkangan dan keburukan.

Sementara, manusia bukanlah “murni akal” ataupun “murni syahwat”: manusia adalah percampuran potensi akal dan potensi syahwat. Setia saat, akal  dan syahwat senantiasa berperang dalam jiwa manusia.Akal mendorong manusia agar melakukan kebaikan, syahwat merongrong manusia untuk melakukan keburukan.

Saat manusia melakukan ketaatan dan kebaikan, itu bentuk kemenangan akalnya dan kekalahan syahwatnya. Menjadikan mereka lebih mulia daripada malaikat. Mengapa? Sebab, ketaatan dan kebaikan manusia adalah buah perjuangan. Sementara, ketaatan dan kebaikan malaikat hanyalah tabiat. Memang hanya itu yang mereka miliki.

Saat manusia melakukan pembangkangan dan keburukan, itu bentuk kekalahan akalnya dan kemenangan syahwatnya. Menjadikan mereka lebih hina ketimbang binatang. Mengapa? Sebab, pembangkangan dan keburukan semestinya bisa dihindari oleh manusia. Mereka memiliki akal yang semestinya bisa digunakan untuk melawan syahwat. Saat akal mereka kalah oleh syahwat atau saat mereka sama sekali tak menggunakan akalnya, pada saat itulah mereka lebih rendah ketimbang binatang.

Diduga kuat, kalimat hikmah ini diucapkan oleh Sayyiduna Ali ibn Abi Thalib.

من غلب عقله شهوته فهو أعلى من الملائكة. ومن غلبت شهوته عقله فهو أدنى من البهائم

“Orang yang akalnya mampu mengalahkan syahwatnya, ia lebih tinggi daripada malaikat. Orang yang syahwatnya mengalahkan akalnya, ia lebih rendah ketimbang binatang.”

Menurut Rumi, kelompok pertama itu adalah para nabi dan para wali.

Barangkali, itulah yang membuat para malaikat, khususnya Malakul Maut (Izrail), al-Kiram al-Katibun (Raqib dan ‘Atid), dan Munkar-Nakir segan kepada para wali saat mereka mesti menjalankan tugas masing-masing, sebagaimana dinyatakan oleh Ali al-Kharaqani di atas.

Konon, hingga kini Gus Dur belum didatangi Munkar-Nakir. Karena mereka segan dengan kewalian Gus Dur?

Bukan.

Melainkan sebab Munkar-Nakir malas mendengar jawaban Gus Dur: gitu aja kok repot.

Au kama qila. Tidak persis seperti itu. Lupa-lupa ingat. Entah dari siapa saya tahu anekdot itu. Entah Kiai Said Aqil, entah Ki Enthus Susmono. Coba dibantu cari di Youtube. Atau jangan-jangan karangan saya sendiri ya. Lupa.

* * *

  • [1] Ihya Ulumiddin, 1658.
  • [2] Tadzkirah al-Auliya, 113.
  • [3] Tadzkirah al-Auliya, 225.
  • [4] Tadzkirah al-Auliya, 507.
  • [5] Tadzkirah al-Auliya, 535.
  • [6] Ihya Ulumiddin, 1846.
  • [7] Tadzkirah al-Auliya, 594.
  • [8] Fihi Ma Fihi, 128.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s