“Cocokologi” Alqurani


Beberapa waktu lalu saya membantu istri mencari materi tugas kuliahnya untuk mata kuliah ulumul quran, yaitu tentang al-i’jaz al-‘adadi dalam Alquran atau kemukjizatan Alquran dari sisi bilangan kata.

(Sebagai informasi, dalam kajian ulumul quran, seperti dalam kitab ulumul quran dasar, Mabahits fi ‘Ulum al-Quran, karya  Manna’ al-Qathan, Alquran memiliki wujuh al-i’jaz atau sisi-sisi kemukjizatan: al-i’jaz al-lughawi atau kemukjizatan dari sisi kebahasaan, al-i’jaz al-‘ilmiy atau kemukjizatan dari sisi keilmuan, dan al-i’jaz al-tasyri’iy atau kemukjizatan dari sisi pensyariatan terkait akidah, ibadah, hukum, dan lain-lain. Di kitab ini, al-i’jaz al-‘adadi atau kemukjizatan Alquran dari sisi bilangan kata tidak disebutkan. Sepertinya al-i’jaz al-‘adadi ini memang tema kontemporer. Belakangan. Tidak menjadi bagian tema utama i’jazul quran dalam kitab-kitab ulumul quran).

Anda bisa mendapatkan banyak tulisan tentang al-i’jaz al-‘adadi di internet dalam bahasa Indonesia atau Arab atau Inggris, baik berupa kitab, makalah, maupun tulisan di web. Saya mendapatkan kitab menarik—Anda, pengkaji ulumul quran, mungkin sudah tahu—berjudul al-I’jaz al-‘Adadi li al-Quran al-Karim (الإعجاز العددي للقرآن الكريم) karya Abdurrazzaq Naufal. Karya yang secara ide sepertinya dimulai sekitar tahun 60-an.

Isi kitab ini sangat sederhana. Tapi, jelas, di balik kesederhanaan isinya ada kerja telaten yang sangat tidak sederhana. Kitab ini “hanya” berisi tentang lebih dari 70 pasang kata dari Alquran. Menariknya, pasangan kata (termasuk derivatnya, musytaq-nya, kata turunannya) itu masing-masing disebutkan dalam jumlah yang sama.

Contoh, kata al-zakah (الزكاة) atau “zakat” (tanpa kata turunan) dan kata al-barakat (البركات) atau “keberkahan” (dengan beragam kata turunannya) sama-sama disebut sebanyak 32 kali. Kata-kata turunan al-barakat (البركات) itu adalah:

تبارك  (9 kali)

باركنا  (6 kali)

مبارك  (4 kali)

مباركا  (4 kali)

مباركة  (4 kali)

بركات  (2 kali)

بارك  (1 kali)

بورك  (1 kali)

بركاته  (1 kali)

Angka-angka itu jika dijumlahkan hasilnya 32. Pas, kan? Nah, jumlah 32 untuk beragam kata turunan al-barakat (البركات) itu sama dengan jumlah penyebutan kata al-zakah (الزكاة), tanpa bentuk kata turunan.

Contoh lain, kata iblis (إبليس) atau “iblis” (tanpa kata turunan) dalam Alquran disebutkan sebanyak 11 kali. Itu jumlah yang sama dengan penyebutan makna kata “perihal mencari perlindungan dari iblis” (الاستعاذة منه) dengan dua bentuk kata:

أعوذ (7 kali)

فاستعذ (4 kali)

Kata al-hayah (الحياة) atau “kehidupan” dan al-maut (الموت) atau “kematian” sama-sama disebutkan sebanyak 145 kali dalam berbagai kata turunan masing-masing.

Kata al-lisan (اللسان) atau “mulut” dan al-mau’idzhah (الموعظة) atau “nasihat” sama-sama disebutkan sebanyak 25 kali dalam berbagai kata turunan masing-masing.

Kata al-birr (البر) atau “kebaikan” dan al-tsawab (الثواب) atau “pahala” sama-sama disebutkan sebanyak 20 kali dalam berbagai kata turunan masing-masing.

Kata ­al-dunya (الدنيا) atau “dunia” dan al-akhirah (الآخرة) atau “akhirat” sama-sama disebutkan sebanyak 115 kali.

Anda bisa mengunduh kitab al-I’jaz al-‘Adadi li al-Quran al-Karim (الإعجاز العددي للقرآن الكريم) itu untuk mengetahui lebih lanjut daftar pasangan kata yang disebutkan dalam jumlah sama di dalam Alquran. Pengkaji ulumul quran, ustad, penceramah, dai, atau siapa pun para pecinta dan pembela Alquran, perlu memiliki kitab ini untuk menambah wawasan dalam mengajar, berceramah, berkhotbah, atau menulis.

Apa bentuk kemukjizatan Alquran dari sisi bilangan kata seperti ini? Ya, itu … Tanasuq dan ittizan. Ada harmoni dan keseimbangan yang ditunjukkan Alquran sehingga—sebagaimana fungsi i’jaz al-Quran—memperkuat kepercayaan bahwa Alquran bukanlah karya Nabi Muhammad. Bahwa Alquran adalah murni “karya” Allah. Wahyu.

Harmoni dan keseimbangan dalam konteks buku ini adalah Alquran memiliki sekian puluh pasangan kata yang disebutkan dalam jumlah yang sama. Dan dari harmoni dan keseimbangan itu, kita bisa menggali hikmah dan menimba makna.

Misal, apa hikmah kata al-zakah (الزكاة) atau “zakat” dan kata al-barakat (البركات) atau “keberkahan” sama-sama disebut sebanyak 32 kali? Kita bisa gali hikmah bahwa dalam zakat ada keberkahan.

Kenapa jumlah penyebutan bentuk satu kata al-zakah (الزكاة) sama dengan jumlah penyebutan kata al-barakat (البركات) dalam beragam bentuk kata turunan? Kita bisa gali hikmah bahwa satu kali zakat yang Anda keluarkan akan memberikan Anda beragam bentuk keberkahan dalam hidup. Apalagi jika Anda rutin membayarkan zakat; ragam keberkahan akan rutin meliputi hidup Anda.

Cocok? Mantap!

Begitu juga dengan kata إبليس atau “iblis” dan penyebutan makna kata “perihal mencari perlindungan dari iblis” (الاستعاذة منه); kenapa keduanya sama-sama disebutkan sebanyak 11 kali? Kita bisa ambil pelajaran: keberadaan iblis adalah untuk dijauhi. Kita mesti mencari perlindungan kepada Allah dari godaan iblis.

Kenapa jumlah penyebutan bentuk satu kata إبليس sama dengan penyebutan makna kata “perihal mencari perlindungan dari iblis” (الاستعاذة منه) dalam dua bentuk kata? Kita bisa ambil pelajaran: untuk melawan satu godaan iblis, kita perlu lebih banyak memohon perlindungan kepada Allah.

Anda juga bisa bernalar untuk menggali hikmah dan makna keterkaitan jumlah penyebutan yang sama dalam Alquran antara kata al-hayah (الحياة) atau “kehidupan” dan al-maut (الموت) atau “kematian”; antara kata al-lisan (اللسان) atau “mulut” dan al-mau’idzhah (الموعظة) atau “nasihat”; antara kata al-birr (البر) atau “kebaikan” dan al-tsawab (الثواب) atau “pahala”; antara Kata ­al-dunya (الدنيا) atau “dunia” dan al-akhirah (الآخرة) atau “akhirat”.

Lepas dari kemukjizatan Alquran dari sisi bilangan kata yang dipaparkan buku al-I’jaz al-‘Adadi li al-Quran al-Karim ini, yang juga membuat saya takjub adalah kerja telaten yang tentu saja sangat tidak sederhana: bagaimana sang penulis, Abdurrazzaq Naufal, menemukan jumlah penyebutan yang sama dalam Alquran antara kata al-zakah dan kata al-barakat? Tentu saja dengan melakukan penghitungan. Tapi bagaimana: apakah mula-mula ia berasumsi bahwa kata “zakat” pasti berkaitan dengan kata “berkah”. Ia menghitung penyebutan kata “zakat” dan mendapatkan bahwa jumlah penyebutannya 32 kali. Kemudian, ia menghitung kata “berkah” dengan beragam kata turunannya, dan mendapatkan ternyata jumlah penyebutannya sama: 32 kali. “Masya Allah! Kok cocok!” kata Abdurrazzaq Naufal.

Apakah mula-mula ia berasumsi bahwa kata “dunia” niscaya berkaitan dengan kata “akhirat”. Ia menghitung kata “dunia” dan mendapatkan bahwa jumlah penyebutannya 115 kali. kemudian, ia menghitung kata “akhirat” dan mendapatkan ternyata jumlah penyebutannya sama: 115 kali. “Masya Allah! Kok cocok lagi!”

Apakah begitu: mula-mula berdasarkan asumsi bahwa kata tertentu berkaitan dengan kata tertentu karenanya lalu dipasangkan, baru melakukan penghitungan yang ternyata jumlah penyebutan keduanya sama?

Atau bagaimana?

Dan semuanya itu dilakukan bukan pada era digital lho. Bukan era saat cara menemukan kata dalam file Microsoft Office atau file Pdf cukup dengan pencet tombol Ctrl+F untuk find, ketik kata yang diinginkan, pencet “Enter”, lalu dalam sekejap kata yang dicari akan muncul.

Mungkin Abdurrazzaq Naufal melakukannya secara manual. Tapi, seperti apa? Entahlah. Ia tidak menceritakan proses kreatif kitabnya itu. Ia hanya mengatakan bahwa upaya yang lakukan untuk bukunya itu adalah berkat hidayah dan pertolongan Allah. Upaya yang membuat dirinya semakin banyak menemukan ketakjuban demi ketakjuban Alquran dan menguatkan keyakinan bahwa Alquran adalah murni “karya” Allah. Wahyu.

Saya kira, jika ada “cocokologi” (pakai tanda kutip lho ya) terkait Alquran yang bernilai ibadah, yang menghadirkan hikmah, yang memberi sumbangsih pada keilmuan keislaman, dan yang memunculkan ketakjuban lebih dalam kepada Alquran maka itu adalah “cocokologi” dalam kitab al-I’jaz al-‘Adadi li al-Quran al-Karim ini. “Cocokologi” qurani yang dihasilkan berkat upaya sungguh-sungguh seorang makhluk dengan bimbingan dan petunjuk sang Khalik.

Bukan cocokologi (tak perlu pakai tanda kutip, karena memang cocokologi) semacam 4+11+20+16=51, lalu angka 51 itu dicarikan nomor ayat di surat yang diinginkan; atau cocokologi 411 yang dibaca sebagai الله (Allah); atau cocokologi 212 dengan modifikasi 2:12 atau 21:2, lalu angka itu dikonversikan menjadi nomor surat Alquran dan nomor ayatnya. Cocokologi yang membuat Anda secara tak sadar menjadikan Alquran layaknya kitab primbon. Tapi, entah ya, jika ada orang yang seakan mendapatkan energi religi dengan cocokologi semacam itu.

One thought on ““Cocokologi” Alqurani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s