Jika Ketiga Cagub DKI adalah Karya Tulis


Jika ketiga cagub DKI adalah karya tulis maka inilah review saya sebagai pembaca.

JIKA diibaratkan karya tulis, Mas Anies adalah puisi: ia gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga menyentuh kesadaran. Lebih spesifik lagi, Mas Anies adalah puisi dramatik: puisi yang mempersyaratkan keadaan dramatik dan menekankan suasana emosional.

Mas Anies sebagai gubahan dengan pilihan kata yang terpilih dan tertata tampak dalam cara ia bertutur kata baik secara lisan maupun tulisan. Silakan cari di Youtube tentang talkshow atau pidato atau sambutan yang menampilkan Mas Anies dan perhatikan tutur kata lisannya, atau silakan kunjungi fanspage-nya dan amati tutur kata tulisannya (atau perhatikan artikel-artikelnya); hampir selalu ada kata-kata Mas Anies yang inspirasional dan pelukable, eh, kutipable–maksudnya layak dibuatkan kutipan, dibikin textgram, lalu dishare di media sosial. Sehingga, wajar, kutipan kata-kata Mas Anies dalam bentuk textgram adalah jualan paling dominan di fanspage-nya.

Sementara, Mas Anies sebagai puisi dramatik yang mempersyaratkan gambaran keadaan dramatik dan suasana emosial tampak saat ia berinteraksi dalam aksi pencitraan. Tentu Anda masih ingat saat Mas Anies menyampaikan sambutan dalam rangkaian acara pengundian nomor urut. Sambutan Mas Anies adalah gambaran tepat Mas Anies sebagai puisi dan juga sebagai puisi dramatik: Mas Anies berupaya mengetuk kesadaran dan menyentuh emosi para hadirin dan pemirsa saat ia membawa orang-orang kehormatan, memperkenalkan nama mereka: Babe Idin, Bung Manov, Bu Dewi Sri, Bu Rusmiyati … menyebut aktivitas mereka, berkomitmen memperjuangkan orang-orang seperti mereka, mengajak mereka berpartisipasi membangun Jakarta. (Dalam ILC hari yang sama, Bung Efendi Ghazali menyebut gaya Mas Anies itu adalah gaya Obama pada pilpres AS 2008 dan sudah ditinggalkan pada pilpres AS 2012).

Mas Anies sebagai puisi dan sekaligus puisi dramatik juga bisa Anda perhatikan dalam pencitraan yang diposting di fanpage-nya. Pengambilan sudut gambar yang fotogenik saat Mas Anies berinteraksi dengan ibu-ibu tua lalu diberi kutipan tentang kemiskinan dan perkara menjadi anak bangsa; saat Mas Anies bersama anak-anak sembari memegang kepala mereka yang mungkin untuk memancing citra kepedulian kepada anak-anak lalu diberi kutipan soal memajukan warga; saat Mas Anies sedang membaur di tengah warga lalu diberi kutipan tentang hidup berdampingan dan saling pengertian; dan lain-lain.

Ibarat karya tulis, Mas Anies adalah puisi yang manis dan berdaya magis. Dan sebagaimana puisi, banyak permainan kata-kata. Mungkin realitas yang ingin disampaikan sebenarnya sederhana saja, namun dikemas dengan liukan kata-kata.

Dengan kata lain, jika Anda menginginkan sebuah realitas menjadi terasa emosional dan bahkan dramatis, mintalah Mas Anies untuk menerjemahkan realitas itu dalam kata-kata.

BAGAIMANA dengan Pak Ahok? Jika diibaratkan karya tulis, Pak Ahok adalah antitesis Mas Anies. Jika Mas Anies adalah karya puisi, Pak Ahok adalah karya prosa: ia tidak terikat aturan-aturan dan kaidah-kaidah yang ada dalam puisi. Ia tidak meliuk-liuk dalam rangkaian kata yang manis, tidak memainkan kata-kata yang indah, sebab yang penting adalah substansinya jelas. Intinya dipahami.

Sebagai sebuah karya prosais yang mementingkan inti dan tidak bisa berbasa-basi maka wajar jika Pak Ahok kadang memotong uraian lawan bicara. “Cukup! Cukup! Saya sudah paham maksud Anda.” Pak Ahok lalu segera menanggapi dengan uraian yang lebih panjang dan dengan ekspresi yang meluap-luap.

Sebagai sebuah karya prosais yang lebih mementingkan isi maka wajar jika gaya biacara Pak Ahok dianggap wajar-wajar saja bagi orang yang menganggap gaya bicara bukanlah persoalan sebab yang penting substansi. Dan, di sisi lain, sebagai karya prosais, wajar juga jika gaya bicara Pak Ahok tak disenangi bagi sebagian orang yang lebih suka gaya bicara “puitis”, “santun”. Bagi sebagian orang yang menganggap gaya bicara mesti diletakkan setara atau di atas substansi pembicaraan.

Meski Mas Anies dan Pak Ahok dua karakter yang berbeda, yang satu adalah puisi dan satunya lagi prosa, tapi keduanya memiliki kesamaan, yaitu sama-sama jago bicara dan sama-sama macan podium. Keduanya sama-sama menyita perhatian jika sedang bicara. Mas Anies menyita perhatian dengan gayanya yang kalem dan dengan kata-kata yang tertata berirama pelan yang konstan, Pak Ahok menyita perhatian dengan gayanya yang ekspresif dan dengan kata-kata yang lugas dan tegas berirama naik-turun sesuai penekanan makna.

Dengan perbedaan gaya bicara dan persamaan jago bicara antara Mas Anies dan Pak Ahok maka menjadi patut ditunggu saat keduanya tampil dalam debat kandidat nanti. Yang tampak jelas adalah Pak Ahok akan berbicara berdasarkan kinerja dan data, tentu saja, karena dia petahana, selain berdasarkan visi-misi lanjutan dan pengembangan.

Sementara, Mas Anies akan berbicara semata berdasarkan visi-misi. Para pendukung Mas Anies tak perlu khawatir andai kualitas visi-misinya tidak bisa menyamai atau melampaui visi-misi Pak Ahok. Sebab, Mas Anies mungkin bisa menyiasati hal itu dengan kepandaiannya menyusun dan menghias kata-kata.

LALU, bagaimana dengan Mas Agus? Jika diibaratkan karya tulis, karya tulis apakah dia?

Saya berprofesi sebagai editor. Tugas saya mencari naskah layak terbit atau mereview proposal naskah yang masuk ke redaksi. Ada pengirim proposal naskah yang melampirkan naskah secara lengkap. Naskahnya sudah jadi. Naskah yang demikian akan direview. Lalu, berdasarkan hasil review yang memadai akan diputuskan layak terbit atau tidak layak terbit.

Ada pula pengirim proposal naskah yang hanya melampirkan sinopsis atau daftar isi atau sinopsis sekaligus daftar isi. Proposal yang demikian tetap dinilai, namun sebatas kesan pertama: menarik atau tidak menarik. Jika menarik maka pengirim naskah akan diminta mengirim naskah secara utuh untuk direview secara memadai dan diputuskan layak terbit atau tidak layak terbit.

Nah, Mas Agus adalah proposal naskah yang hanya melampirkan sinopsis dan daftar isi tanpa isi utuh naskah. Maka, review tentangnya tidak bisa memadai. Tidak cukup data untuk membuat ulasan yang mencukupi tentang Mas Agus dalam konteks tulisan ini. Bagaimana lagi … baru sekitar sebulan kita mengenal Mas Agus lebih dekat. Baru sekitar sebulan Mas Agus menjadi sumber berita, saat Mas Anies dan Pak Ahok sudah tahunan menjadi pemberitaan dan meninggalkan jejak data yang berlimpah untuk diolah.

One thought on “Jika Ketiga Cagub DKI adalah Karya Tulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s