Lawan-Lawan Ahok


Jangan-jangan, sejak awal, PDIP memang sudah menjatuhkan pilihan kepada Ahok. PDIP tidak segera mengumumkan pilihannya itu hanya untuk memainkan keadaan. Dengan posisi tawar yang tinggi, PDIP leluasa saja menjalankan permainannya. Dan itu dilakukan dengan cukup baik. Membuat drama mekanisme penjaringan bakal calon gubernur, namun tak segera menentukan pilihan. Membiarkan dirinya seakan galau dan bimbang hingga membuat partai-partai lain kacau dan tak tenang. Memecah kesolidan Koalisi Kekeluargaan. Bikin partai-partai tidak sabar.

Gerindra mengusung Sandiaga Uno sebagai bakal calon gubernur dan PKS, teman karib Gerindra, mengusung Mardani Ali Sera dari PKS untuk menjadi wakil Sandi. PKB mungkin tidak senang dengan itu. Kemunculan pasangan “iseng” Yusril-Saifullah (Sekda DKI dan Ketua Tanfidziyyah PWNU DKI) merupakan aspirasi atas reaksi dari keogahan PKB terhadap Sandi Gerindra-Mardai PKS? Tidak pasti. Yang jelas, pasangan Yusril-Saifullah beredar di kalangan nahdliyyin DKI. Sementara itu, tanpa tahu diri dan tanpa malu-malu, PAN mempromosikan menteri terpecat Rizal Ramli.

Memilih Ahok sejak awal, lalu membuat drama mekanisme penjaringan bakal calon gubernur dan tak segera mengumumkan hasilnya hingga membuat partai-partai lain tidak sabar, namun pada akhirnya Ahoklah yang dipilih dan pilihan itu dideklarasikan hanya sehari sebelum tanggal pendaftaran bakal calon gubernur DKI … semua itu adalah upaya PDIP membuyarkan konsentrasi dan kesolidan partai-partai yang ditengarai takkan mendukung Ahok.

Tapi, mungkin saja setelah deklarasi dukungan PDIP kepada Ahok, partai-partai tersebut segera merapatkan barisan, berkoalisi, bersatu mengusung satu pasangan—hingga nanti hanya ada dua calon pasangan: Ahok dan lawannya. Atau, mungkin saja tidak seperti itu. Partai-partai tersebut terpecah menjadi dua poros koalisi dan masing-masing mengusung pasangan.

Namun, kemungkinan-kemungkinan apa pun yang terjadi setelah deklarasi, PDIP telah memenangkan peperangan pembuka.

Selanjutnya, kita tunggu siapa lawan Ahok. Beberapa nama muncul. Sandiaga Uno, Yusril … Belakangan juga nama Anies Baswedan mencuat.

Siapa pun nanti lawan definitif Ahok, Ahok telah memiliki lawan yang jauh lebih pasti dan telah menyerangnya berkali-kali. Lawan tersebut bukan siapa, melainkan apa, yaitu opini.

Ahok akan menghadapi serangan opini dari sebagian kalangan umat Islam bahwa haram hukumnya memilih pemimpin nonmuslim, bahwa Ahok adalah musuh umat Islam; Ahok akan menghadapi serangan opini dari sebagian kalangan aktivis bahwa Ahok adalah tukang gusur, musuh rakyat kecil, bla bla bla; Ahok akan menghadapi serangan opini dari sebagian kalangan kaum moralis bahwa Ahok itu pemarah, bermulut kotor, sombong, tak bermoral, bla bla bla; Ahok akan menghadapi serangan opini dari kalangan pengidap delusi bahwa melawan Ahok adalah melawan aseng, bahwa perlawanan atas Ahok adalah perlawanan pribumi melawan nonpribumi ….

“Poros” opini-opini negatif tersebut bisa saja berkoalisi dengan poros siapa lawan Ahok. Opini-opini negatif tentang Ahok bisa dimanfaatkan oleh siapa lawan Ahok melalui ormas-ormas di dunia nyata maupun pasukan tempur di dunia maya.

Di atas kertas survei, semua tingkat elektabilitas para penantang potensial Ahok ada di bawah elektabilitas Ahok. Di atas kertas, lawan Ahok bisa mudah dikalahkan. Yang berbahaya adalah lawan Ahok berupa opini-opini tersebut. Opini-opini tidak bisa dikalahkan dan dimatikan. Bahkan, mungkin, saat lawan Ahok kalah pada 2017 nanti, opini-opini negatif tersebut akan tetap hidup yang sewaktu-waktu bisa dimanfaatkan.

Kriteria kepemimpinan berdasarkan kesukuan sudah tidak laku. Ungkapan “putra daerah” sudah terdengar wagu. Kriteria kepemimpinan berdasarkan gender juga mulai luntur. Hampir tak terdengar lagi pro-kontra tentang kepemimpinan perempuan. Anda mungkin akan tampak aneh jika mempermasalahkan isu kepemimpinan perempuan untuk menyerang sosok Ibu Risma. Coba baca garis tangan Ibu Risma. Siapa tahu ada tulisan: Kemampuan tak memiliki kelamin.

Yang masih menjadi materi ujian adalah kriteria kepemimpinan berdasarkan agama. Ahok di pilkada DKI 2017 adalah lembaran ujian untuk dikerjakan warga DKI. Jika pada 2017 nanti Ahok menang, barangkali kita mesti menerima penegasan, suka atau tidak suka, bahwa mempermasalahkan agama untuk perkara kepemimpinan memang tidak relevan. Yang relevan diperkarakan untuk persoalan kepemimpinan adalah kemampuan–dan juga elektabilitas, tentunya, jika dalam rangka merebut kekuasaan.

Hikmah siyasiyyah: Kemampuan memimpin tak lahir dari suku tertentu, tidak memiliki kelamin tertentu, dan tak menganut agama tertentu.

2 thoughts on “Lawan-Lawan Ahok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s