“Hukumullah” dan “Haur Uljanati”


hukumllah dan haur

Jika Anda belum tahu: “hukumullah” dan “haur uljanati” adalah dua kata bahasa Indonesia—sudah dimasukkan ke KBBI—yang merupakan serapan dari bahasa Arab. “Hukumullah” untuk arti “hukum Allah”, “hukum Tuhan”, dan “haur uljanati” untuk maksud “bidadari surga”.

“Hukumullah”

Bahasa Arab untuk kata yang dimaksudkan oleh KBBI itu adalah حكم الله (dua kata: “hukm” dan Allah”) dan dibaca “hukmullah” (jika dibaca rofa’ dalam tata bahasa Arab), bukan “hukumullah” sebagaimana yang diserap KBBI.

Entah bagaimana proses KBBI menyerap kata itu menjadi bahasa Indonesia. Kenapa pengucapan bahasa asli “hukmullah” bisa menjadi “hukumullah” dalam bahasa sasaran. Apakah karena ketidaktahuan orang-orang KBBI bahwa pembacaan kata حكم الله itu adalah “hukmullah”, bukan “hukumullah”.

Atau, sesungguhnya mereka tahu itu, namun karena mereka pikir kata حكم (dibaca “hukm”) sudah diserap menjadi “hukum”, sehingga untuk mengungkapkan maksud “hukum Allah” “aturan Tuhan” cukup ditambahi kata “Allah” di belakang “hukum” sehingga jadilah “hukumullah”.

Jika karena alasan pertama, yaitu orang-orang KBBI tidak tahu, maka sebaiknya mereka segera tahu ini.

Jika karena alasan kedua, ya, maaf, itu jadi lucu. Kata “hukumullah” jadi terdengar seperti bahasa “Arabnesia”. Bahasa Arab yang keindonesia-indonesiaan.

Tapi, bisa jadi “hukumullah” ini adalah typo atau saltik alias salah ketik. Orang KBBI salah ketik saat memasukkan kata itu. Niat hati menulis “hukmullah”, tapi jadi “hukumullah”. Maklum, manusia memang tempatnya salah dan typo.

Atau, bisa saja, saya yang salah. Dan KBBI punya argumentasi sendiri untuk “hukumullah” itu.

“Haur Uljanati”

Sama seperti “hukumullah”, saya juga bertanya-tanya, bagaimana proses KBBI menyerap kata itu menjadi bahasa Indonesia.

Ada dua hal yang perlu dibahas dalam kata “haur uljanati” yang dimaksudkan untuk makna “bidadari surga” itu: pertama, “haur”; kedua, “ul” (dalam “uljanati”).

Dalam bahasa Arab ada kata حور yang bisa dibaca “haur” dan “hur” dengan arti masing-masing. Masing-masing memiliki arti berbeda.

Untuk حور yang dibaca “haur” artinya “pohon poplar”. Sedangkanحور yang dibaca “hur” artinya نساء الجنة atau “perempuan surga” atau “bidadari surga”. Beda pengucapan, beda arti.

Jadi, jika KBBI ingin menyampaikan arti “bidadari surga” mestinya menulis “hurul janati”, bukan “haurul janati”. Sebab, “haurul janati” (“haur uljanati”) artinya “pohon poplar surga”.

Sebagaimana dalam “hukumullah”, KBBI mungkin salah ketik dalam “haur uljanati” ini. Salah ketik “hur” jadi “haur”. Atau, bisa saja, saya yang salah. Dan KBBI punya argumentasi sendiri untuk “haur uljanati” itu.

Kemudian, hal kedua adalah soal “Ul” dalan “Uljanati”.

Sebelumnya, entah kenapa KBBI memberi spasi dalam “haur uljanati”. Kenapa kata ini tidak digabung saja sebagaimana “idulfitri”, “sakratulmaut”, “Baitulharam”, dan lain-lain? Pemisahan “haur” dan “uljanati” ini menjadi masalah jika kita kembalikan kata ini ke bahasa aslinya, bahasa Arab.

Dalam bahasa Arab, kata dasar “Uljanati” adalah “janat” (jannah). “Ul”, sebagaimana ditulis KBBI, di situ adalah partikel “al” (yang dalam kaidah bahasa Arab memiliki beberapa fungsi). “Al” (ال) bisa diucapkan “ul” atau “al” atau “il” tergantung pengucapan (pembacaan) huruf terakhir kata sebelumnya. Jika kata sebelumnya dibaca rofa’ maka diucapkan “ul”. Misal, “hurul jannah”. Untuk nashob: “hural jannah”. Untuk jar: “huril jannah”. Gampangnya, jika mau dibaca “ul” atau “al” atau “il” maka penulisan semua itu lebih logis jika digabung dengan kata “hur”, bukan “jannah”.

“Hurul jannah”, bukan “hur uljannah”. Atau, “hural jannah”, bukan “hur aljannah”. Atau “huril jannah”, bukan “hur iljannah”.

Dan, jika menjadi kata yang berdiri sendiri, tidak terkait dengan rofa’ atau nashob atau jar, maka kata itu bisa ditulis “hur aljannah” (“hur al-jannah”).

Jadi, perkara “haur uljanati” KBBI ini, andai saya boleh mengusulkan, penulisan yang benar dan logis adalah, jika dipisah: “hur aljanati”, jika digabung: “huruljanati”.

Sebab, “haur uljanati” memiliki dua kesalahan yang sangat fatal. (Tapi, sekali lagi, bisa saja saya yang salah. Dan KBBI punya argumentasi sendiri untuk pendapatnya).

3 thoughts on ““Hukumullah” dan “Haur Uljanati”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s