Kafir Partai


Sebagian besar pemain bola tak bisa loyal kepada klub. Uang, ambisi meraih trofi, atau lain-lain bisa menggoda seorang pemain untuk pindah klub.

“Saat kebanyakan tim tak menginginkanku, Juventus adalah satu-satunya tim yang mau menerimaku. Kini, saat banyak tim menginginkanku, aku akan bertahan di Juventus.”

Konon, Pogba pernah berkata demikian saat ia telah menjadi mutiara berkilau di Juventus dan diinginkan banyak klub. Entah benar atau tidak pernyataan itu, Pogba kini telah kembali ke klub yang pernah menyia-nyiakannya, Manchester United, dengan harga tertinggi setelah dibuang ke Juventus dengan tanpa harga.

(Siasat yang keren dari Juventus: melepas salah satu pemain penting seperti Pogba dengan harga tertinggi saat kekuatan tim telah mapan. Artinya, kehilangan Pogba takkan berpengaruh banyak pada kekuatan tim. Sementara, di MU, kiprah Pogba masih belum tentu sebagus di Juventus. Jika Pogba ternyata nanti turun performa, merugilah MU). :D

Mungkin banyak pemain yang seperti itu. Saat sedang membela klub tertentu, melalui pernyataan-pernyataannya, ia seakan-akan bakal loyal atau minimal bertahan dalam waktu lama.

Berbeda dengan pemain bola, fans klub kbola sangat loyal. Ada sebuah pepatah dalam dunia fans: “Seseorang mungkin bisa mudah berganti pasangan atau berpindah keyakinan, namun akan sangat sulit—mendekati mustahil—berpaling dari klub kesayangan.”

Berapa kali Anda berganti pacar? Mungkin pasangan Anda sekarang bukan pacar pertama atau kedua atau ketiga atau keempat atau kelima Anda. Tapi, klub kesayangan Anda sekarang mungkin sudah Anda kenal dan Anda cintai sejak usia SMP atau mungkin SD. Saya kenal Juventus sejak SMP, menjelang akhir tahun 90-an. Dan tetap menjadi fansnya hingga kini, apa pun yang terjadi dengan Juventus. Saat ia turun kasta ke Serie B karena fitnah; saat ia menjadi pesakitan; saat pemain bintangnya datang dan pergi; saat ia jadi raja Italia kini; saat terjadi apa pun dengannya nanti. :D

Ada orang yang dalam urusan agama begitu tampak moderat dan toleran. Namun, dalam perkara bola, ia orang yang fanatik dan militan. Sungkan mengurusi apalagi mengganggu urusan keyakinan orang lain, tapi tak segan meledek bahkan mencaci-maki klub kesayangan orang lain.

Perkara pemain bola dan fans klub bola ini kok agaknya mirip-mirip dengan politikus dan simpatisan partai politik ya. Seorang politikus—mungkin tak semua politikus—tak bisa dipegang komitmennya terhadap partai. Tak bisa dipercaya kata-katanya. Saat menjadi partai tertentu, ia mudah saja bersilat lidah bahkan membuang ludah sembarangan untuk membela partainya dan menyerang partai atau mengejek politikus lain. Namun, suatu ketika bisa saja si politikus itu hengkang ke partai lain atau mungkin ke partai yang pernah diserangnya. Menjadi sekutu politikus lain yang pernah diejeknya.

Tapi, simpatisan partai politik bisa sangat militan dan fanatik membela partai junjungannya. Simpatisan akan menyokong partai junjungannya dan membela politikus-politikus yang bernaung di bawah partai itu, meski si politikus itu tersandung korupsi, misal. Loyalitas dan kecintaan simpatisan kepada partai kadang melampaui kondisi apa pun yang terjadi pada partai. Kadang, ya … Politikus  atau kader partai yang tersandung korupsi, misal, tetap akan dibela, sementara politikus yang keluar dari partai dan pindah ke partai lain akan jadi sasaran ejekan dan kebencian simpatisan. Maksudnya, seorang simpatisan menilai baik-buruk seorang politikus itu bukan berdasarkan moralitas, melainkan loyalitas. Selama seorang politikus loyal terhadap partai, seorang simpatisan akan sungkan mengusiknya meski si politikus itu tersandung kasus. Seorang simpatisan partai akan mudah membuang ludah sembarangan dan akan sulit menjilatinya kembali. Sementara, seorang politikus akan mudah membuang ludah sembarangan berkali-kali dan berkali-kali pula tak jijik untuk menjilatinya kembali dengan mudah.

Politikus itu pragmatis. Simpatisan itu naif. Tapi ya tak semua seperti itu.

Dulu, saat masih SMP dam SMA, saya pernah jadi simpatisan naif PKB. Senang kepada PKB. Tak lebih karena kampung saya adalah kampung nahdliyyin dan mayoritas simpatisan PKB waktu itu. Jika ada segelintir warga yang subuhnya tak berdoa kunut, akan jadi bahan pergunjingan. Jika ada segelintir warga yang jadi simpatisan PAN, akan jadi “musuh kecil”. Tapi itu kampung saya dulu, saat awal-awal era reformasi. Sepertinya saat ini sudah tak begitu lagi.

Dan, sekarang saya sudah jadi kafir partai. Entah kapan murtadnya. Tak jadi umat partai mana pun. Sama seperti Anda mungkin, kini saya lebih suka melihat sosok atau pejabat berdasarkan kepribadiannya. Entah orang itu berpartai atau tidak.

One thought on “Kafir Partai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s