Yang Fana Adalah Jokowi dan Prabowo; Perseturuan Kaum Jokower dan Umat Prabomania Abadi


Mamak Banteng—begitu mereka menyebut Bos PDIP—merestui Ahok berpasangan dengan Djarot. Kalau Mamak Banteng sudah begitu, “anak-anak banteng” yang kemarin bernyanyi dengan penuh semangat “Ahok pasti tumbang” itu bisa apa?! Yang pasti, anak-anak banteng itu akan menjilati ludah yang telah mereka buang sembarangan.

Restu Mamak bisa jadi akan diimplementasikan sebagai sikap dan keputusan partai. Jika PDIP secara resmi mendukung Ahok maka kemungkinan besar pilkada DKI hanya akan diikuti dua calon: Ahok dan Bukan-Ahok. (Meski jika dari perhitungan jumlah kursi partai-partai di DPRD DKI memungkinkan ada tiga pasang calon dari hasil koalisi—dengan PDIP, Hanura, Golkar, dan Nasdem di satu kubu pengusung Ahok).

Jika cagub di pilkada DKI hanya dua, Ahok dan lawannya … celaka kita!

Para pendukung Ahok kemungkinan besar adalah mereka yang pada pilpres lalu memilih Jokowi. Para penolak Ahok  kemungkinan besar adalah mereka yang pada pilpres lalu mencoblos Prabowo. Perseteruan seru akibat pilpres antara kaum Jokower dan umat Prabomania akan tambah seru lagi akibat pilkada DKI. Kubu-kubuan antara fans dan hater akan semakin kuat. Perseturan dan kubu-kubuan laknat yang tak sedikit bawa madarat di kalangan akar rumput.

Berapa banyak hubungan pertemanan yang menjadi canggung atau bahkan renggang atau bahkan mungkin malah jadi tegang atau adakah yang berbalik jadi perang(?) gara-gara perseteruan dan kubu-kubuan itu. Berapa banyak orang yang tiba-tiba kok jadi senang menyebarkan berita hoax dan itu bikin muak gara-gara perseteruan dan kubu-kubuan itu. Ada yang tak saling kenal dan semula hanya perang kata-kata di dunia maya lalu secara memalukan gelut betulan di dunia nyata gara-gara perseteruan dan kubu-kubuan itu. Ada yang berubah menjadi sosok penuh dendam dan tak sungkan sebar kebencian (kesadaran kita pun seakan ditegaskan: seseorang bisa menjadi fanatik buta yang melahirkan tindakan brutal bukan hanya akibat perbedaan agama atau perbedaan aliran dalam agama atau perbedaan dukungan klub bola, tapi juga perbedaan pilihan politik semata). Ada yang keluar dari grup WA atau minimal jengah karena grup telah berubah dari media kangen-kangenan sesama alumnus atau media silaturahim sesama komunitas atau alat komunikasi kerja rekan sejawat menjadi media perseteruan dan kubu-kubuan itu. Adakah keluarga yang jadi tidak akur gara-gara perseturan dan kubu-kubuan itu? Apa lagi yang bisa disebutkan?

Terkutuk betul ya efeknya.

Celakanya efek terkutuk itu akan berpotensi memanjang dan melebar akibat pilkada DKI. Perseturuan dan kubu-kubuan di pilpres lalu akan merembes di pilkada DKI. Merembes, menetes, mengalir … akhirnya jadi banjir. Partisipan dalam perseturuan dan kubu-kubuan di pilkada DKI itu tak hanya mereka yang ber-KTP DKI, tapi juga orang-orang dari penjuru NKRI. Kaum Jokower dan umat Prabomania dari lintas daerah akan ikut ambil bagian dalam perseteruan dan kubuan-kubuan itu.

Efek terkutuk lain yang mungkin bisa kita tebak akibat perseteruan dan kubu-kubuan adalah andai Ahok menang di 2017 nanti atau sebaliknya: andai Ahok kalah.

Prinsipnya, siapa pun calon yang menang maka kubu pendukung yang calonnya kalah itulah yang akan melancarkan ofensif kenyinyiran dan kenyenyehan secara intensif.

Andai Ahok menang, yang paling mungkin bisa diraba-raba adalah rasa sakit hati bertubi-tubi yang mendera umat Prabomania (kubu-kubuan ini disederhanakan menjadi dua saja ya: kaum Jokower dan umat Prabomania. Kasus pilkada DKI hanya turunan, rembesan): rasa perih yang menghunjam lebih dalam lubuk umat Prabomania karena lagi-lagi berada dalam kubu pecundang (kalah di pilpres, kalah di pilkada DKI). Anda bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepada mereka dengan melihat sikap mereka selama ini akibat menanggung kekalahan di pilpres, lalu lipatgandakan hasil bayangan Anda itu. Energi dan serangan kenyinyiran mereka akan berlipat dan meluas: nyinyiri Jokowi dan nyinyiri Ahok. Tersakiti sekali saja dendam tak bisa padam, apalagi tersakiti bertubi-tubi.

Tapi Ahok menang itu hanya kemungkinan ya. Kemungkinan lain adalah Ahok kalah.

Andai Ahok kalah, sesuai prinsip “siapa pun calon yang menang maka kubu pendukung yang calonnya kalah itulah yang akan melancarkan ofensif kenyinyiran dan kenyenyehan secara intensif” maka kaum Jokower (dan Ahoker) barangkali akan tahu rasa dan tahu harus apa saat menjadi pecundang: nyinyir dan nyenyeh tanpa beban.

Nyinyir dan nyenyeh tanpa beban: tak peduli kenyinyirannya berdasarkan informasi yang sah atau informasi yang salah. Tak peduli berdasarkan berita absah atau berita fitnah. Tak peduli berdasarkan fakta atau hoax semata. Pokoknya nyinyir, nyenyeh, senang.

Kubu simpatisan pecundang memang kadang bertindak tanpa beban. Sebab, beban ada di kubu simpatisan pemenang. Simpatisan pemenang akan susah nyinyir, apalagi secara intensif. Simpatisan pemenang akan lebih defensif, bertahan. Sibuk meladeni serangan simpatisan pencundang. Seperti saat ini: umat Prabomania tentu akan lebih banyak ludah dan lebih licin lidah dalam nyinyiri Jokowi dan Ahok ketimbang kaum Jokower (dan Ahoker) sendiri. Begitu juga andai pada 2017 nanti Ahok kalah. Kaum Jokower (dan Ahoker) mungkin akan lebih gampang nyinyiri gubernur terpilih, apalagi andai gubernur itu dari koalisi Gerindra dan PKS serta teman-teman sekoalisinya—dan umat Prabomania akan dalam posisi bertahan menghadapi nyinyiran dan nyenyehan kaum Jokower (dan Ahoker).

Sementara itu, di luar perseteruan kaum Jokower (Ahoker) dan umat Prabomania, ada insan santai yang mengamati dan mungkin menikmati perseteruan itu sebagai hiburan yang kadang lucu, kadang memprihatinkan. Insan santai ini bisa jadi adalah pemilih Jokowi dan bisa jadi juga pemilih Prabowo pada pilpres lalu, namun selalu bersikap biasa saja. Tak segan untuk menyampaikan pujian, tak mau melontarkan makian, dan tak pernah ambil hati menyaksikan cacian. Insan santai inilah simpatisan yang zuhud dalam pilihan politiknya.

when i see people arguing on facebook post

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s