Ibunda Aisyah Merayakan Lebaran Sambil Berdendang


Kenapa “hari raya” disebut “al-‘Id”? Saya sarikan beberapa poin dari lema عود  di kitab kamus Lisan al-‘Arab  karya Ibnu al-Mandzur.

  • Innama al-‘id ma ‘ada ilaika min al-syauq wa al-maradh wa nahwihi. Al-‘id adalah kembalinya rasa rindu, atau sakit, atau sebagainya.
  • Al-‘id ma ya’tadu min naubin wa syquqin wa hammin wa nahwihi. Al-‘id adalah musibah, atau rasa rindu, atau penderitaan, atau sebagainya yang telah biasa datang.
  • Al-‘id ‘inda al-‘arab al-waqt alladzi ya’udu fihi al-farahu wa al-hazanu. Bagi orang Arab, al-‘id adalah istilah untuk menyebut waktu saat kebahagiaan atau kesedihan datang lagi.
  • Al-‘Id kullu yaumin fihi jam’un. Wa istiqaquhu min ‘ada-ya’udu. Ka annahum ‘adu ilaihi. Wa qila isytiqaquhu min al-‘adah, liannahum i’taduhu.“Hari raya” (al-‘id) adalah tiap-tiap hari ketika ada kumpul-kumpul. Akar kata al-‘id adalah ‘ada-ya’udu, yang berarti “perihal kembali”. Seakan memberikan makna “orang-orang akan kembali ke hari itu untuk berkumpul”. Ada yang mengatakan, akar kata al-‘id adalah al-‘adah, yang berarti “tradisi”, “kebiasaan”. Sebab, “masyarakat menjadikan hari itu sebagai tradisi”.
  • Sumiya al-‘id ‘idan liannahu ya’udu kulla sanatin bifarahin mujaddadin. Hari raya disebut al-‘idsebab ia selalu kembali setiap tahun dengan membawa kebahagiaan baru.

Inti yang bisa kita pahami dari poin-poin di atas adalah al-‘id secara umum artinya “sebuah momentum yang datang berulang atau selalu kembali”. Entah itu kebahagiaan, entah itu kesedihan. Apakah itu anugerah, apakah itu musibah.

Idul Fitri—termasuk Idul Adha, Hari Natal, dan hari raya-hari raya lain—disebut hari raya (al-‘id) sebab ia menjadi tradisi tahunan yang membawa kebahagiaan dan kegembiraan. Menjadi momentum berkumpul bersama keluarga dan bertemu saudara dalam liputan kebahagiaan dan kegembiraan.

Sebagai hari kebahagiaan dan kegembiraan, ia yang pantas disyukuri dan dirayakan.

Pada suatu hari lebaran (entah Idul Fitri atau Idul Adha), Aisyah mendendangkan lagu-lagu atau memainkan tetabuhan bersama dua perempuan kaum Anshar, sementara sang Rasulullah tampak terbaring dengan wajah tertutup kain. Abu Bakar kemudian datang. Ia rupanya tak berkenan Aisyah melakukan itu. Apa lagi di rumah Rasulullah.

“Bunyi-bunyian setan di rumah Rasulullah?!” kata Abu Bakar, dua kali. Mungkin, Abu Bakar berpikir Rasulullah sedang tidur sehingga yang Aisyah lakukan bersama dua temannya itu bisa mengganggu tidur Rasulullah—selain Abu Bakar mungkin memandang bernyanyi-nyanyi dan bermain tetabuhan adalah hal terlarang. Namun, tiba-tiba …

“Biarkan mereka, Abu Bakar,” kata Rasulullah yang ternyata tidak sedang tidur—hanya tidur-tiduran—setelah bangkit sambil menyingkapkan kain yang menutup wajahnya.

“Setiap kaum memiliki hari raya. Dan saat ini adalah hari raya kita.”

Selamat meramaikan lebaran. Selamat bergembira bersama keluarga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s