Dunia Ibarat Perempuan atau Ibarat Cermin?


Ada ungkapan Arab yang jika ditulis teks Arabnya begini:

الدنيا كالمراة: ابتسم لها، تبتسم لك

Kata kedua ungkapan itu bisa dibaca al-mar’ah (ka al-mar’ah), bisa juga al-mir’ah (ka al-mir’ah).

Jika dibaca al-mar’ah (artinya “perempuan”), alif di kata itu diberi tanda baca begini: المرأة. Maka, arti pepatah itu: Dunia ibarat perempuan; tersenyumlah kepadanya, ia akan tersenyum kepadamu.

Jika dibaca al-mir’ah (artinya “cermin”), alif di kata itu diberi tanda baca begini: المرآة. Hamzah di situ dibaca panjang (dalam ilmu tajwid disebut mad badal, hamzah dibaca panjang mad thabi’i). Maka, arti pepatah itu: Dunia ibarat cermin; tersenyumlah kepadanya, ia akan tersenyum kepadamu.

Dari segi tata bahasa, مراة bisa dibaca mar’ah atau mir’ah, tergantung atas tanda baca di huruf alif. Juga, tergantung konteks kalimat. Dari sisi konteks, tidak masalah kata itu dibaca mar’ah atau mir’ah. Maka, diterjemahkan “Dunia ibarat perempuan; tersenyumlah kepadanya, ia akan tersenyum kepadamu” tidak masalah. Pun tidak masalah jika dialihbahasakan “Dunia ibarat cermin; tersenyumlah kepadanya, ia akan tersenyum kepadamu.”

Namun, mana yang tepat segi logika makna bahasa?

Mar’ah atau mir’ah?

“Dunia ibarat perempuan; tersenyumlah kepadanya, ia akan tersenyum kepadamu” atau “Dunia ibarat cermin; tersenyumlah kepadanya, ia akan tersenyum kepadamu”?

Pepatah di atas merupakan kiasan—kira-kira—bahwa dalam hidup ini, kita akan mendapatkan balasan atas kelakuan kita, baik atau buruk; bahwa sikap baik akan berbalas perlakukan baik; bahwa sikap buruk akan berbalas perlakuan buruk;  bahwa berpikir positif tentang hidup akan mendatangkan hal-hal positif; bahwa berpikir negatif tentang hidup akan mendatangkan hal-hak negatif; bahwa tak berbuat apa-apa dalam hidup tentu tidak akan menghasilkan apa-apa. Intinya, makna pepatah tentang hubungan timbal-balik yang pasti.

Maka, mana yang pasti akan membalas senyuman jika Anda tersenyum? Mana yang pasti akan menampilkan ekspresi senyum jika Anda tersenyum? Perempuan atau cermin?

Saya kira, jelas: tidak semua perempuan akan membalas tersenyum jika Anda memberinya senyuman. Bisa jadi seorang perempuan akan tersenyum jika Anda tersenyum kepadanya. Bisa jadi pula ia bingung atau menganggap aneh jika Anda tiba-tiba tersenyum kepadanya.

Jadi, ungkapan “Dunia ibarat perempuan; tersenyumlah kepadanya, ia akan tersenyum kepadamu” tidak bersifat jami’ mani’. Tidak menghimpun kebenaran yang menyeluruh. Kebenaran ungkapan tersebut hanya “bisa, ya” dan “bisa, tidak”. Masih ada celah salah secara logika.

Dan, saya kira, jelas pula: cermin pasti akan menampilkan ekspresi senyuman Anda jika Anda tersenyum di hadapannya, pasti memantulkan ekspresi kemarahan Anda jika Anda marah di depannya. Pasti. Begitu juga hidup. Begitu pula dunia.

Dunia ibarat cermin; tersenyumlah kepadanya, ia akan tersenyum kepadamu.

الدنيا كالمرآة: ابتسم لها، تبتسم لك

Al-dunya ka al-mir’ah: ibtasim laha, tabtasim laka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s