Akidah dan Sunnatullah


Terkait musibah di Mina, sudah semestinya kita berempati, turut berbelasungkawa. Kita berharap yang terbaik untuk para korban di sisi Allah. Mereka tamu Allah yang Allah minta untuk tak pulang.

Dan semoga tak ada analisis jahiliah dan pernyataan syirik terkait musibah Mina ini, sebagaimana pada peristiwa crane ambruk yang memakan korban tak sedikit. Kita ingat, ada yang mengaitkan musibah crane ambruk itu dengan kehadiran Presiden Joko Widodo. Bahwa peristiwa crane ambruk dan kehadiran Jokowi bukanlah kebetulan. Sampai seorang ustaz perlu memberikan pembenaran teologis atas asumsi jahiliah itu. (Tak habis pikir ada yang berpikir demikian. Karena geretan, saya pun melakukan kekeliruan berpikir yang sama dengan menceletuk: Kenapa Anda tak memilih berpikir bahwa peristiwa crane ambruk itu bersamaan dengan masa aksi Arab Saudi menyerang Yaman?!).

Nabi Muhammad sudah mengentaskan umat dari kejahiliahan; mari kita bersyukur dan berterima kasih kepadanya dengan tak kembali berpikir jahiliah seperti itu.

Lalu, bagaimana sebaiknya kita melihat musibah crane ambruk, peristiwa Mina, dan juga musibah secara keseluruhan?

Jika mau melihat dari sudut pandang akidah Islam, ayat Alquran ini bisa jadi pedoman:

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ

Katakanlah, “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudaratan, kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui hal gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan” (Al-A’raf: 188).

Ayat di atas memuat pokok ushuluddin dan kaidah akidah bahwa hanya Allah satu-satunya sumber kuasa. Sesuatu bisa terjadi atau tidak terjadi hanya jika Allah menghendaki. Anugerah atau musibah, karunia atau malapetaka, melakukan kebaikan atau menghindari keburukan … terjadi hanya jika Allah menghendaki.

Ayat itu menafikan kesyirikan.

Sebab itu, kita kerap berucap “la haula wala quwata illa billah” saat kita melihat hal besar yang memperlihatkan betapa kita ini kecil. “La haula wala quwwata illa billah” artinya “tiada daya untuk melakukan kebaikan dan tiada daya untuk menjauhi keburukan kecuali oleh kehendak Allah”.

Itulah prinsip akidah.

Namun, setiap anugerah atau musibah, setiap karunia atau malapetaka, setiap kemampuan melakukan kebaikan atau kemampuan menghindari keburukan … setiap takdir Allah … hampir selalu bisa direnungkan sisi sunnatullahnya. Bisa dikaji penyebab-penyebabnya. Dan setiap sunnatullah selalu rasional. Selalu bisa dipikirkan. Bisa dijangkau oleh pikiran.

Kita meyakini musibah crane ambruk dan peristiwa Mina terjadi karena kehendak Allah. Takdir Allah. Tapi, dari sisi sunnatullah, peristiwa itu bisa ditelaah masalahnya. Kenapa bisa terjadi dan bagaimana bisa terjadi. Tentu, pengkajian itu dilakukan oleh pihak berwenang dan profesional. Sehingga faktor musibah itu bisa diketahui dan bisa menjadi pelajaran dan perbaikan.

Maka, setiap orang urun pikir harus sesuai kapasitasnya. Jika mau urun pikir dari sisi akidah, gunakan sumber-sumber yang sah. Jangan asal comot pembenaran teologis untuk dipaksa menopang pendapat yang tak logis. Jika mau urun pikir dari sisi sunnatullah, gunakan otak Anda untuk menghasilkan pemikiran rasional. Jangan asal menyampaikan pikiran klenik yang membuat Anda jatuh ke lubang syirik.

Dan setiap orang urun pikir jangan sesuai kadar kebenciannya. Hanya karena dulu jagoan Anda kalah lalu berpikir bahwa apa pun yang dilakukan Jokowi adalah sumber salah. Lalu, Anda terjerumus pada pola pikir jahiliah.

Baiklah! Mari berpikir … Secara akidah, crane ambruk adalah takdir Allah. Dan secara sunnatullah—sunnatullah yang Anda anggap masuk akal, Jokowi adalah faktor kebetulan penyebab crane ambruk. Karena setiap sunnatullah itu rasional, coba jelaskan rasionalisasi bagaimana Jokowi bisa menyebabkan crane ambruk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s