Menjadi Santri Pesantren Google dan Pesantren Media Sosial


Uli al-Abshar Abdullah (Jika Anda kurang akrab dengan nama itu: Ulil Abshar-Abdalla) menjadikan FP-nya sebagai “pesantren virtual”. Di pesantrennya itu dia mengaji, mengulas kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah. Kitab itu memuat 264 hikmah. Satu hikmah untuk tiap malam. Jadi akan butuh 264 hari untuk mengulas kitab itu. Kita doakan semoga KH. Ulil Abshar Abdalla bisa beristikamah dengan pengajian dan dengan pesantrennya itu. Sebab, sejauh ini ulasannya bagus. Banyak “santri virtual” yang suka, tampaknya. Baik yang terang-terangan, maupun yang mengagumi secara sembunyi-sembunyi. Bisa dinikmati banyak orang, agaknya. Menarik sekali jika suatu saat diterbitkan.

Nah! Jadi, siapa yang dulu menyindir mereka yang belajar Islam dari internet dengan menyebut mereka “santri Google”—saat  gerakan Ayo Mondok ramai disuarakan? Siapa yang dulu suka nyinyir perihal itu?

Sebetulnya, apa, sih, yang salah menjadi santri di Ma’had al-Ghoghliyah atau Ma’had al-Madiyah al-Shosiyaliyah? Apa salahnya tahu Islam dari Pesantren Google atau Pesantren Media Sosial? Apa masalahnya, sehingga para santri pesantren internet itu pantas disindir dan dicibir?

Kemon! Ini era internet, Bung! Ilmu tak hanya terbatas di ruang kelas dan terbelenggu di lembaran-lebaran buku. Ilmu juga berkelana di dunia maya.

Jika saya perhatikan, sebenarnya yang disindir bukanlah tempat mereka tahu/belajar Islam, yaitu internet. Yang disindir menjurus olok-olok adalah sikap sebagian orang yang begitu gagah menyatakan orang lain salah, sesat, kafir, bid’ah, dan tudingan negatif lain … sikap bergagah-gagahan yang mungkin untuk menyamarkan pengetahuan dangkal mereka, pengetahuan yang sebenarnya hanyalah kepingan-kepingan tak utuh yang mereka pungut begitu saja di hutan belantara internet. Entengnya, sindiran itu seolah ingin bilang: tahu dari copy-paste saja gayanya sudah sok parlente!

Jadi, sindiran itu sebenarnya bukan soal dari mana sebuah ilmu diperoleh—tak masalah ilmu diperoleh dari pesantren Google atau pesantren media sosial—melainkan soal sebuah sikap dan perilaku. Sikap dan perilaku yang harus dihindari tak hanya oleh santri Google dan santri media sosial, sebenarnya, tapi juga santri pesantren betulan.

:D

Apa beda antara menjadi santri di pesantren betulan dan menjadi santri di pesantren virtual—pesantren Google dan pesantren media sosial?

Santri pesantren betulan tahu ini: untuk masuk ke pesantren, Anda tidak harus memiliki ilmu terlebih dahulu. Justru Anda ke pesantren untuk mendapatkan ilmu. Kekosongan ilmu Anda diisi di pesantren betulan itu. Di pesantren betulan, ada guru yang memberi tahu Anda jika Anda tidak tahu, yang mengarahkan Anda jika Anda tersesat, yang menuntun Anda jika Anda tak bisa jalan sendiri. Di pesantren betulan, guru Anda adalah guru secara nyata, bukan setan yang menyesatkan.

Sedangkan di pesantren Google … Untuk menjadi santri pesantren Google atau pesantren media sosial, Anda harus punya ilmu terlebih dahulu. Anda tidak boleh bodoh di sini. Sebab, di pesantren virtual itu tak ada guru yang memberi tahu, tak ada guru yang membimbing, tak ada guru yang menuntun. Guru di pesantren virtual adalah ilmu Anda sendiri.

Memang banyak ilmu di internet, tapi untuk mengambil ilmu itu Anda juga mesti punya ilmu. Pesantren virtual itu hutan belantara yang menyediakan banyak tumbuhan. Kalau tidak punya ilmu dan tidak tahu jenis tumbuhan, bisa jadi tumbuhan yang Anda ambil dan Anda makan adalah tumbuhan beracun yang mematikan.

Beberapa waktu lalu, FP Warung Nalar mengunggah postingan perihal “Wahabi Nusantara” (memang yang ada cuma “Islam Nusantara”?!). Setelah terlibat saling lempar komentar, salah seorang menulis, seraya terlebih dahulu seakan ingin mengajari sejarah, bahwa dalam banyak buku-bukunya, Imam Syafii banyak mengambil ilmu dari Muhammad ibn Abd al-Wahhab.

Saya bengong!

Imam Syafii itu pendiri Mazhab Syafii yang hidup pada abad ke-8 Masehi. Sementara, Muhammad ibn Abd al-Wahhab, pendiri gerakan Wahabi itu, hidup pada abad ke-18 Masehi. Imam Syafii adalah generasi salaf. Ibn Abd al-Wahhab adalah generasi khalaf. Bagaimana bisa orang yang hidup pada abad ke-8 mengambil ilmu, belajar dari orang yang hidup pada abad ke-18?!

Setelah ditanggapi demikian, komentar itu akhirnya dihapus oleh yang bersangkutan, sebelum sempat di-printscreen-kan.

Setelah itu, kesadaran saya seakan ditegaskan bahwa betapa besar bahaya mencari ilmu di internet jika tanpa ilmu. Bisa membuat Anda sesat. Jika Anda sesat sendirian, sih, mungkin masalahnya tak terlalu besar. Yang jadi masalah besar adalah jika membuat Anda sesat dan menyesatkan. Sesat sendiri dan menyesatkan orang lain. Sendirinya sedang tersesat, tapi mengajak orang lain tersesat atau menyesat-sesatkan orang lain.

Maka, tepatlah apa yang dikatakan Syekh al-Hakim al-Inthirnithi, seorang bijak bestari dari negeri internet: “Jangan masuk ke internet dengan otak kosong agar Anda tak mudah dijejali berita bohong. Jangan masuk ke internet tanpa nalar agar tak mudah dijejali hal-hal tak benar.” Atau, Anda akan menjadi penyebar kebohongan dan ketidakbenaran.

One thought on “Menjadi Santri Pesantren Google dan Pesantren Media Sosial

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s