Kirim Pahala untuk Orang yang Meninggal Itu Sampai dan Tidak Sampai


كتاب الروح

Jumat. Dan saya selalu teringat kampung. Di mushala di kampung saya, setiap selesai azan shalat Maghrib malam Jumat, para jamaah membacakan pujian-pujian hingga imam shalat datang, lalu ikamah dikumandangkan. Begini puji-pujiannya:

malem jumah ahli kubur tilik umah
nyuwun pandunga ayat quran sa’ kalimah

anak-putu ora pada ngaji
ngelus dada mbrebes mili

balik ning kuburan
awan bengi tangis-tangisan

Puji-pujian yang bagus dan tampak genius. Selain memperhatikan rima, suasana dramatis dalam pujian-pujian itu begitu terasa. Barangkali Anda bukan orang Jawa: puji-pujian itu berkisah tentang orang yang telah meninggal dan menyambangi secara gaib anak-cucunya yang masih hidup, sekadar berharap dibacakan Alquran sebagai doa. Ternyata, tidak! Mereka tidak ada yang mengaji, tidak ada yang membacakan doa. Betapa sedih si ahli kubur itu. Ia hanya bisa mengelus dada seraya menitikkan air mata. Ia kembali ke kuburan dengan membawa kesedihan. Menangis terus-terusan, siang dan malam.

Di kota ini, pujian-pujian sebelum ikamah menggunakan bahasa Arab. Shalawatan, biasanya. Tidak ada yang menggunakan bahasa khas Nusantara sebagaimana di desa-desa. Tapi, la ba’sa. No problem. Rapopo. Bahasa hanya media.

Puji-pujian itu selalu teringat tiap kali datang malam Jumat.

Saat Maghrib malam Jumat tiba, saya masih di tempat kerja. Setelah sampai di rumah, yang tersisa dari diri hanya lelah. Sebab itu, pembacaan tahlil kerap saya lakukan saat di kendaraan dalam perjalanan pulang. Membacakan al-Fatihah dan kalimat tayibah lain untuk keluarga yang masih ada dan yang telah tiada, juga untuk para guru yang masih ada dan yang telah tiada, dan lain-lain—sebagaimana yang sering dibaca di permulaan tahlil.

Omong-omong, apakah kiriman doa, ayat Alquran, kalimat tayibah lain untuk kebaikan orang yang meninggal bisa sampai kepada mereka? Apakah bermanfaat untuk mereka?

Jika Anda menulis perihal perkara itu dari ide sendiri, mencari dalil-dalil sendiri, mencari sendiri pendapat para ulama terkait tema, Anda ibarat menggarami lautan dan meniupi topan. Sebab, pembahasan tema itu sudah dilakukan secara komprehensif hampir tujuh abad lalu oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam karya legendarisnya, al-Ruh. Lengkap. Lebih dari cukup untuk menjadi pegangan baik bagi orang yang setuju bahwa doa, ayat Alquran, dan kalimat tayibah bisa bermanfaat untuk orang yang meninggal, maupun bagi orang yang tidak setuju.

Sebab itu pula, tulisan ini hanya ingin menyampaikan kembali apa yang ditulis Ibn Qayyim, terutama perihal kelompok yang “ya” dan yang “tidak” perihal doa, ayat Alquran, kalimat tayibah lain untuk orang yang meninggal—sebagaimana yang ada di cetakan-layar (print screen) dari kitab al-Ruh versi pdf.

(PENTING: apakah Anda juga memiliki kitab al-Ruh, baik yang versi bahasa Arab maupun terjemahan? Jika kitab al-Ruh yang Anda miliki tidak memuat tema yang kita bicarakan ini, kemungkinan al-Ruh Anda adalah versi yang telah digunting—lebih dari sekadar disunting—untuk disesuaikan dengan ideologi tertentu).

Dalam cetakan-layar itu, Ibnu Qayyim mengajukan pertanyaan: apakah upaya dari orang yang masih hidup bisa bermanfaat bagi ruh orang yang meninggal?

Jawabannya: Ya! Upaya dari orang yang masih hidup bisa bermanfaat bagi ruh orang yang meninggal.

Ada dua hal yang disepakati oleh ahli fikih, ahli hadis, dan ahli tafsir kalangan Ahlussunnah perihal sesuatu yang bermanfaat bagi orang yang telah meninggal.

Pertama, amalan dan karya yang dilakukan sendiri saat seseorang masih ada dan tetap lestari ketika ia telah tiada. Pahala amalan dan karya itu terus mengalir kepada pembuatnya meski ia telah tiada.

Kedua, doa, permohonan ampunan, sedekah, dan haji-mewakili-orang-yang-sekarat. Disepakati, pahala semua hal itu sampai. Yang masih diperdebatkan adalah: yang sampai kepada orang yang telah meninggal itu pahala pemberian kebutuhan (tsawab al-infaq) atau pahala amalan (tsawab al-amal) itu sendiri?

Menurut kalangan jumhur ulama, yang sampai untuk orang yang sedang sekarat adalah pahala amalan (tsawab al-amal) itu sendiri. Sedangkan menurut sebagian ulama Mazhab Hanafi, yang sampai untuk orang yang sedang sekarat adalah pahala pemberian kebutuhan (tsawab al-infaq).

(Saya: istilah tsawab al-amal itu bisa kita pahami bahwa pahala amalan yang ditujukan untuk orang yang meninggal itu benar-benar bisa sampai. Sementara, pemahaman tsawab al-infaq ini agak rumit. Jika Anda memiliki pemahaman yang mencerahkan, silakan sampaikan. Teks aslinya bisa Anda baca di print screen).

Intinya, benang merah di hal pertama dan kedua di atas adalah jika seseorang meninggal, ia akan mendapatkan pahala untuk warisan kebaikan yang bermanfaat untuk umat, juga bisa mendapatkan kiriman pahala dari orang yang masih hidup. Orang yang telah meninggal akan mendapatkan pahala atas karyanya sendiri dan bisa mendapatkan pahala kiriman orang lain.

Poin pertama dan kedua disepakati oleh mayoritas kalangan ahli fikih, ahli hadis, dan ahli tafsir kalangan Ahlussunnah.

Tapi, dan ini yang menarik, ternyata, pendapat yang masyhur di Mazhab Imam Syafii dan Mazhab Imam Malik (al-masyhur min madzhab al-syafii  wa malik) menyatakan bahwa kiriman pahala doa dan kalimat tayibah untuk orang yang meninggal tidak bisa sampai.

Perlu diketahui, istilah al-masyhur min madzhab al-syafii  wa malik, masyhur di kalangan Mazhab Imam Syafii dan Mazhab Imam Malik, memiliki arti yang terbuka. Artinya, pendapat yang masyhur, yang populer, di kalangan Mazhab Syafii atau Mazhab Maliki, tidak berarti bahwa Imam Syafii atau Imam Malik sendiri berpendapat demikian. Ulama yang secara metodologi fikih mengikuti Imam Syafii atau Imam Malik bisa saja berbeda pendapat dengan Imam Syafii atau Imam Malik sendiri.

Dalam ushul fikih, Imam Syafii dan Imam Malik (juga Imam Hanafi dan Imam Ahmad ibn Hanbal) disebut mujtahid mustaqill, yaitu orang yang merintis mazhab dengan kaidah atau metodologi rumusan sendiri. Orisinal. Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Ahmad berhasil merumuskan metodologi sendiri yang berbeda satu sama lain. Sebab itulah disebut Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafii, dan Mazhab Ahmad.

Di bawah mujtahid mustaqill adalah mujtahid mazhab, yaitu—secara sederhana—ulama yang mampu berijtihad perihal suatu persoalan, namun metodologi ijtihad yang ia gunakan merujuk pada metodologi mujtahid mustaqill. Ia tidak menciptakan metodologi sendiri. Sebab itu, jika ada ulama klasik di belakang namanya tersemat “al-Hanafi” atau “al-Maliki” atau “al-Syafii” atau “al-Hanbali”, berarti, secara metodologi fikih, ia mengikuti metodologi salah satu mazhab yang tersebut itu. Ia mujtahid mazhab.

Nah, keberadaan mujtahid mazhab inilah yang memungkinkan adanya keragaman pendapat dalam satu mazhab. Satu persoalan hukum dalam satu mazhab bisa memunculkan beragam pendapat hukum. Bahkan, secara teoretis, mujtahid mazhab, berkat kemampuannya berijtihad, bisa berbeda pendapat dengan pendiri mazhab itu sendiri. Dalam satu mazhab, yang seragam adalah metodologi, bukan keputusan-keputusan hukum dan pendapat-pendapat. Keputusan hukum dan pendapat mengenai satu persoalan dalam satu mazhab bisa beragam.

Artinya, dalam konteks perihal kiriman pahala ini, jika yang masyhur di Mazhab Imam Syafii dan Mazhab Imam Malik adalah bahwa kiriman pahala doa dan kalimat tayibah untuk orang yang meninggal tidak bisa sampai, berarti ada kemungkinan pendapat yang tidak masyhur dalam Mazhab Imam Syafii dan Mazhab Imam Malik yang mengatakan bahwa kiriman pahala doa dan kalimat tayibah untuk orang yang meninggal bisa sampai.

Jadi, perihal kiriman pahala ini, wajar saja jika umat Islam Indonesia yang mayoritas mengikuti Mazhab Syafii bisa mengikuti pendapat yang berbeda dengan pendapat yang masyhur dalam Mazhab Syafii sendiri. Asyik, bukan?!

Kesimpulannya, ibarat pemilihan umum, perolehan suara untuk “kiriman pahala BISA sampai” dan “Kiriman pahala TIDAK BISA sampai” ini adalah 3 berbanding 2.

Perinciannya: BISA didukung oleh jumhur, mayoritas ulama. Mendapatkan 2 suara. Mendapatkan tambahan 1 suara dari pendapat yang tidak masyhur dalam Mazhab Maliki dan Mazhab Syafii bahwa kiriman pahala bisa sampai. Jadi, total 3 suara. Sementara, TIDAK BISA didukung oleh pendapat masyhur dalam Mazhab Syafii dan Mazhab Maliki. Mendapatkan 1 suara. TIDAK BISA mendapat tambahan satu suara lagi dari kelompok ahli kalam yang mengatakan bahwa kiriman apa pun tidak akan pernah sampai kepada orang yang meninggal. Jadi, total 2 suara.

:D

(Tulisan ini sengaja hanya menampilkan dua kelompok pendapat dari kitab al-Ruh tanpa memaparkan argumentasi masing-masing. Selain konteks tulisan ini bukan untuk unjuk debat, melainkan untuk menunjukkan adanya perbedaan pendapat, sungguh akan amat panjang jika argumentasi masing-masing ikut disertakan di sini. Mungkin suatu saat bisa dibuat tulisan sendiri. Jika saat itu tiba, pintu debat akan terbuka).

Amma ba’du.

Perihal kiriman pahala untuk orang meninggal ini, semua pihak, baik yang menganggap kiriman itu sampai maupun pihak yang menganggap kiriman itu tidak sampai mestinya merasa lega. Semua mesti merasa lega dan tak perlu keras kepala. Yang menganggap kiriman pahala tidak akan sampai mendapat dukungan dari Mazhab Syafii, mazhab paling banyak diikuti di Indonesia. Yang menganggap kiriman pahala akan sampai mendapat sokongan dari jumhur, dari mayoritas.

Wa akhiran.

Sebab itu, saya merasa rumusan Ahlusunnah Waljamaah (Aswaja) ala Nahdlatul Ulama perihal fikih itu begitu genius dan berakhlakul karimah. Dalam fikih, Nahdlatul Ulama mengikuti salah satu mazhab empat. Silakan pilih: Mazhab Imam Hanafi, Mazhab Imam Malik, Mazhab Imam Syafii, dan Mazhab Imam Ahmad. Rumusan itu memungkinkan seorang muslim, khususnya kaum Nahdliyyin, berislam secara luwes, tidak kaku. Memungkinkan keragaman pendapat dan keragaman pemikiran—sebuah fitrah—bisa diterima tanpa harus saling cela, bisa disikapi secara sehat tanpa saling tunjuk sesat, bisa disambut ramah tanpa saling tuduh bid’ah, dan bisa diatur tanpa saling tuding kufur.

Tidak mudah mengatakan bahwa kiriman al-Fatihah untuk orang yang meninggal itu tidak ada dalilnya sehingga pantas disebut bid’ah—padahal kenyataannya karena ia tidak tahu dalilnya. (Saya teringat ucapakan Kiai Ali Mustafa Yaqub saat pengajian subuh. Kira-kira begini: “Seseorang kadang menilai sesuatu sebagai bid’ah hanya karena ia tidak tahu dalilnya.” Tidak tahu bagaimana sistematika berdalil).

Dan tidak mudah pula mengajak kelahi orang yang mengatakan kiriman al-Fatihah itu tidak ada dalilnya. Sebab, ada pendapat yang mengatakan demikian.

Tak perlu mengajak kelahi orang yang berbeda pendapat. Yang perlu diajak kelahi adalah orang yang gampang menilai sesat dan bid’ah hanya karena berbeda pendapat. Tuding-menunding sesat dan bid’ah sangat tidak sehat untuk pikiran. Bikin pikiran tumpul. Kelahi dengan argumentasi, tentu saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s