Al-Hikam Ali ibn Abi Thalib


Pengantar: tulisan ini adalah kata pengantar untuk buku yang saya susun dan saya terjemahkan. Terbit Mei, oleh Penerbit Serambi.

Al-Hikam Ali ibn Abi Thalib

Khalifah Keempat atau Terakhir Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dijuluki sayyid al-bulagha’ wa al-mutakallimin atau kira-kira artinya penghulu orang-orang yang indah dan fasih dalam bertutur kata. Kata-kata Sahabat Ali adalah kombinasi antara kelihaian berbahasa dan ketepatan makna. Sebab itulah tuturan-tuturannya abadi. Setelah wafat, pernyataan-pernyataannya banyak ternukil secara terserak di kitab-kitab. Baru pada abad ke-10 atau sekitar tiga abad setelah ia mangkat, kata-katanya dikodifikasikan secara sistematis dalam satu kitab khusus berjudul Nahj al-Balagah yang disusun oleh al-Syarif al-Radhi. Karya fenomenal yang menjadi sumbangan berharga bagi khazanah keislaman ini memuat ceramah-ceramah terpilih Sahabat Ali, surat-suratnya, dan hikmah-hikmahnya. Saking memikatnya, sekitar lima puluh kitab syarah mengulas kandungan Nahj al-Balaghah. Yang paling populer adalah Syarh Nahj al-Balaghah, bertebal sepuluh jilid karya ulama abad ke-13 Masehi, Ibn Abi al-Hadid. Di kitab syarah ini, Ibn Abi al-Hadid menambahkan hampir seribu hikmah yang dinisbahkan kepada Ali ibn Abi Thalib, melengkapi hikmah-hikmah dalam Nahj al-Balaghah al-Syarif al-Radhi yang hanya sekitar 480 butir.

Dari kitab Syarh Ibn Abi al-Hadid ini tahulah saya peribahasa yang barangkali cukup akrab di telinga Anda: makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan—kali pertama saya mendengarnya sekitar dua puluh tahun tahu, saat masih duduk di bangku SMP—ternyata bersumber dari Sahabat Ali (atau dinisbahkan kepadanya). Secara autentik, peribahasa tersebut telah tercatat lebih dari 750 tahun di Syarh Ibn Abi al-Hadid itu:

a-jangan mencari hidup

Buku Ini

Buku ini menghimpun 154 hikmah yang disarikan dari sekitar 1380 hikmah dalam Nahj al-Balaghah dan Syarah Nahj al-Balaghah dengan tambahan 6 hikmah dari buku Hikam al-Imam ‘Ali ibn Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu (disusun oleh Muhammad Ridha). Secara keseluruhan, buku ini memuat 160 butir hikmah terpilih Ali ibn Abi Thalib. Tak ada kriteria khusus dalam pemilihan hikmah-hikmah itu. Dalam prosesnya, yang dilakukan hanyalah menelaah hikmah demi hikmah lalu mengikuti kata hati bahwa hikmah ini bagus, hikmah ini mengesankan, hikmah ini begitu mengena, hikmah ini menggugah, hikmah ini menarik, hikmah ini menggelitik ….

Namun, secara umum, hikmah-hikmah tersebut memuat ajakan untuk mendewasakan sikap kita kepada Tuhan, ajakan untuk menjalankan agama secara lebih substansial sehingga tak hanya bermanfaat secara individual tetapi juga berpengaruh secara sosial. Muatan lainnya adalah tentang akhlak mulia, seperti sikap zuhud, sabar, syukur, rendah hati, dermawan, menjaga harga diri, dan sebagainya. Juga tentang tips menjalani kehidupan, menjalin persahabatan, bagaimana mencari kawan serta memperlakukan kawan, dan sebagainya. Yang juga banyak disinggung adalah tentang orang berilmu dan orang bodoh, orang dermawan dan orang pelit, orang mulia dan orang celaka.

Di antara hikmah-hikmah bernas semacam itu, ada juga hikmah-hikmah yang menyiratkan kejenakaan Sahabat Ali ini. Kita lihat bagaimana ia mendefinisikan kesedihan dan kemarahan:

b-kesedihan dan kemarahan

Definisi yang jenaka nan satiris. Menyindir mental “birokrat” dan sikap hierarkis dalam diri kita: kita bisa berbuat apa saja atas sikap tak menyenangkan seorang “bawahan”; sementara kita tak bisa berbuat apa-apa atas sikap tak mengenakkan seorang “atasan”. “Atasan” dan “bawahan” itu tak hanya soal jabatan, tapi juga soal status sosial, kekuatan fisik … hal-hal yang membuat kita merasa memiliki superioritas atau sebaliknya, inferioritas.

Perhatikan juga hikmah ini:

c-wanita ibarat

Hikmah ini tak ada di Nahj al-Balaghah, tapi di Syarah Nahj al-Balaghah. Muhammad Ridha menukil hikmah ini di Hikam al-Imam ‘Ali ibn Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu seraya mengatakan bahwa dia meragukan pernyataan ini dari Ali ibn Abi Thalib. Keraguan yang bisa dimaklumi. Pernyataan itu terkesan merendahkan perempuan karena menyamakan perempuan dengan alas kaki yang takdirnya di bawah dan untuk diinjak.

Namun, kita bisa memandang hikmah itu dari sudut berbeda. Kita bisa memahaminya sebagai pernyataan satiris untuk para suami yang tak bijak memperlakukan istri. Sindiran untuk kaum lelaki yang menjalin hubungan dengan perempuannya dalam ikatan pengekangan, bukan ikatan pengertian. Dari sudut ini, takkan tampak kesan merendahkan perempuan.

Selain itu, ada hikmah-hikmah yang diperdebatkan siapa penutur sebenarnya.

d-jika datang

Di kitab al-Mu’jam al-Ausath karya Imam al-Thabrani (w. 360 H.) disebutkan pernyataan itu merupakan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Aisyah.

Begitu juga dengan yang ini:

e-cintailah kekasihmu

Dalam Sunan al-Tirmidzi karya Imam Tirmizi disebutkan bahwa pernyataan tersebut adalah kata-kata Sahabat Ali, bukan hadis Nabi (dalam ilmu hadis disebut mauquf atau pernyataan yang disandarkan kepada sahabat). Sementara, dalam al-Mu’jam al-Kabir dan al-Mu’jam al-Ausath (keduanya karya Imam al-Thabrani) disebutkan bahwa kata-kata tersebut adalah hadis Nabi. Marfu’ atau disandarkan kepada Nabi Muhammad.

Sedangkan untuk hikmah di bawah ini, jika kita “konfirmasikan” kepada internet, tak sedikit yang menisbahkannya kepada Plato:

f-jangan mengejar cepat

Barangkali bukan di sini tempat untuk menganalisis dan menentukan siapa sesungguhnya pengucap kata-kata di atas. Yang bisa dikatakan di sini adalah bahwa agaknya Ali ibn Abi Thalib telah identik dengan kata-kata yang indah secara bahasa dan tepat secara makna. Namanya masuk dalam perdebatan siapa pemilik autentik sebuah kata-kata inspirasional yang patut dikenang.

Setelah tuntas membaca buku ini barangkali Anda dapat mengungkapkan informasi-informasi lain yang Anda ketahui seputar butir-butir hikmah buku ini. Dengan senang hati kami akan menerima jika Anda mau berbagi.

* * *

Hikmah-hikmah dalam karya ini disajikan secara “mentah”. Hanya bersanding dengan terjemah tanpa dibumbui dengan syarah. Maka, akan banyak ruang kosong di setiap halaman. Menjadi simbol kebebasan Anda untuk memahami lebih lanjut setiap hikmah sesuai sudut pandang pribadi Anda. Ruang kosong itu juga bisa digunakan secara kongkret: ruang luang yang bisa Anda tulisi catatan dan pemahaman (dukungan atau sangkalan) Anda atas setiap hikmah.

Penyandingan antara hikmah bahasa asli dan bahasa sasaran (terjemahan) di buku ini memungkinkan Anda mudah memastikan apakah terjemahannya akurat atau tidak, tepat atau tidak. Juga apakah penempatan harakat di hikmah berbahasa Arab telah sesuai kaidah atau tidak. Jika Anda menemukan penerjemahan dan penulisan yang tidak akurat dan tidak tepat, dengan rendah hati kami terbuka menerima masukan demi perbaikan. Anda bisa menyampaikannya lewat saluran yang tersedia di profil penyusun-cum-penerjemah di halaman akhir buku ini.

Terakhir, semoga buku ini bermanfaat. Semoga tuturan-tuturan dalam buku ini mampu menyegarkan hati, sebagaimana disebutkan salah satu hikmah:

g-sebagaimana tubuh

Salam hormat,

Juman Rofarif

One thought on “Al-Hikam Ali ibn Abi Thalib

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s