Nabi dan Seorang Badawi


Suatu hari, seorang a’rabiy berkemih di bagian masjid. Para sahabat yang saat itu sedang di masjid berniat menghentikan aksi si a’rabiy itu. Tapi Nabi melarang. “Jangan disela,” kata Nabi. “Biarkan saja.” Mereka pun membiarkan a’rabiy membuang seni sampai selesai.

Seusai a’rabiy itu menuntaskan hajat, Nabi memanggilnya dan menasihatinya, “Masjid tidak layak dijadikan tempat buang air kecil dan kotoran-kotoran. Masjid hanya pantas untuk berzikir, mengerjakan shalat, dan membaca Al-Quran.” Nabi kemudian menyuruh seseorang untuk menyiram air seni itu dengan seember air. “Kalian diutus untuk mempermudah, bukan mempersulit,” kata Nabi kepada para sahabat.

Hadis di atas menjadi dalil keharusan bersikap lembut, baik, dan tidak semena-mena dalam “mencegah kemungkaran”. Karena itu, Imam Muslim menempatkan hadis itu di Bab al-Rifq fi al-Amr Kullih, Bab al-Adab (Bersikap Lembut dalam Segala Hal—subbab dari bab Etika).

Nabi memahami para sahabat yang hendak melarang a’rabiy kencing—semangat untuk nahyu al-munkar, mencegah kemungkaran. Tapi, Nabi melihat ada kemudaratan yang lebih besar jika para sahabat melakukan itu ketimbang kemudaratan aksi buang hajat si badawi.

Jika a’rabiy itu dicegah berkemih (atau disela saat berkemih), Nabi khawatir hal itu akan berisiko bagi si a’rabiy. Nabi memikirkan bahaya menahan pipis (atau menghentikan pipis secara tiba-tiba). Atau, jika si a’rabiy dicegah di tengah buang hajatnya, ia bisa kaget dan salah tingkah sehingga air kencingnya menciprat ke mana-mana. Najisnya menyebar ke mana-mana. Nabi menghindari itu agar air seni si a’rabiy terkumpul di satu tempat sehingga lebih mudah disucikan.

Selain itu, dasar sikap lembut Nabi tersebut adalah karena yang kencing sembarangan itu a’rabiy, seorang badawi. A’rabiy atau badawi adalah orang Arab yang hidup terpencil di gurun, jauh dari peradaban kota. Kaum ini hidup nomaden, berpindah-pindah sambil membawa ternak-ternak mereka untuk mencari daerah yang memiliki sumber air dan banyak rumput. Keadaan semacam itu menyulitkan mereka mendapatkan ajaran dan nilai-nilai Islam secara baik. Mereka menerima ajaran Islam secukupnya. Tabiat mereka urakan dan blakblakan. Sebab itulah Nabi selalu memaklumi kelakuan orang a’rabiy.

Suatu ketika si badawi mengerjakan shalat di masjid dan Nabi sedang di masjid itu. Setelah selesai, badawi  itu berdoa, “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad. Jangan kaurahmati orang-orang selain kami.” Kita bayangkan Nabi senyum-senyum sendiri mendengar doa itu. “Kau mempersempit sesuatu yang sudah diluaskan Allah,” kata Nabi kepada si badawi, kemudian.

Nah, yang “kurang ajar”, konon, si badawi tersebut pernah mengatakan—saya benar-benar tertawa saat membaca ini—,”Jika Muhammad mati, saya sungguh akan menikahi Aisyah.” Si badawi ini mungkin tidak tahu bahwa Allah menyebut setiap istri Nabi sebagai ummul mukminin, ibu orang-orang mukmin (wa azwajuhu ummahatuhum; istri-istri Nabi adalah ibu bagi orang-orang beriman [al-Ahzab: 6]). Sebab itu, setiap janda Nabi tidak boleh dinikahi oleh siapa pun. Keharaman menikahi ummul mukminin seperti keharaman seseorang menikahi ibunya sendiri.

Siapa nama si badawi kocak ini? Ada yang menyebut, namanya Dzu al-Khuwaishirah Hurqush ibn Zuhair al-Yamami. Ada yang mengatakan, namanya Uyainah ibn Hushain. Ada juga yang mengatakan, namanya al-Aqra’ ibn Habis.

Konon, dari benih badawi urakan inilah tumbuh orang-orang Khawarij.

Akar-akar Khawarij muncul pada masa Khalifah Ketiga Utsman ibn Affan dan menjulang pada masa Khalifah Keempat Ali ibn Abi Thalib, terutama setelah tahkim atau perundingan dalam Perang Siffin antara pihak Ali ibn Abi Thalib dan pihak lawan, Muawiyah ibn Abi Sufyan. Pada mulanya, kelompok Khawarij berada di barisan Ali, namun kecewa karena sang Khalifah menerima perundingan itu. Mereka menyempal dan tak hanya berbalik melawan Ali, tapi juga berniat membunuh pihak-pihak yang menyetujui perundingan, termasuk Muawiyah. Mereka menganggap, setiap orang yang meyetujui tahkim adalah kafir, karenanya wajib dibunuh.

Mudah mengafirkan, bertindak radikal, bahkan tega membunuh yang dianggap bertentangan dengan mereka adalah ciri menonjol kelompok Khawarij dalam sejarah. Jika ada kelompok yang memiliki pandangan demikian di mana pun di dunia ini, kerasukan doktrin kekerasan semacam itu, barangkali kita bisa menyebutnya titisan Khawarij. Khawarij modern.

One thought on “Nabi dan Seorang Badawi

  1. Mas Arif betul, interaksi Nabi dan para Sahabat dengan orang-orang badui ini kadang mengundang tawa. Saya pernah membaca sebuah hadis di Riyadush Sholihinkira-kira begini (dalam hadis itu story teller-nya adalah Umar):

    Suatu hari, Nabi, Abu Bakar, Umar dan satu orang a’rabi berkunjung ke rumah Zaid bin Tsabit. Mereka duduk melingkar. Umar di hadapan Nabi, Abu Bakar di samping kiri beliau, dan si a’rabi di samping kanan Nabi. Zaid menyuguhkan mereka semangkuk minuman (tak perlu diceritakan, zaid tergolong orang miskin di Madinah).

    Demi kebersamaan, Nabi mengajak mereka meminumnya bersama-sama semangkuk, berganti-gantian. Jadi Nabi minum sedikit duluan, lalu diganti oleh yang lain. Pada saat Nabi selesai meminumnya, Umar berharap semoga mangkuk itu dikasih kepada Abu Bakar, dan bukannya kepada si a’rabi itu. Alasannya sederhana: karena Umar enggan meminum sisa seorang a’rabi. Tapi apa daya, setelah Nabi meneguk sedikit minuman dari mangkuk itu, beliau langsung menyerahkannya kepada si a’rabi. Jadi terpaksa Umar meminum minuman sisa si a’rabi. :mrgreen: :mrgreen: :mrgreen:

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s