Wirid Pelancar Bayar Kredit


Pada masa permulaan Islam ketika perbudakan masih eksis, dikenal istilah mukatab, yaitu budak yang bisa bebas, menjadi manusia merdeka, dengan membayar kepada majikan sejumlah harga yang disepakati kedua pihak.

Suatu saat, seorang mukatab mendatangi sahabat Ali ibn Abi Thalib. Ia hendak minta tolong, barangkali sahabat Ali bisa membantunya membayar kitabah atau sejumlah uang tertentu sebagai syarat kebebasan. Namun, sahabat Ali kebetulan sedang bokek.

Tapi, “Kau mau kuberi wirid yang kuterima dari Rasulullah?” tanya sahabat Ali. “Dengan wirid itu, Tuhan akan membantumu melunasi utangmu meski besarnya segunung.” Budak itu mengangguk.

“Baca doa ini …”

doa ya ghaniyyu gambar1Ya Allah, cukupkan aku dengan sesuatu yang halal dan hindarkan dari yang haram; cukupkan aku dengan kebaikan-Mu ketimbang dengan selainmu.

Kita bisa jumpai riwayat ini di kitab Sunan al-Tirmizi dan Musnad Ahmad (ibn Hanbal). Ini adalah versi “orisinal”, versi seperti yang disampaikan Rasulullah (ma’tsur). Maksudnya, kita mungkin jarang mendengar doa itu. Yang barangkali sering kita dengar adalah versi “sadurannya” ini:

doa ya ghaniyyu gambar2

Wahai Tuhan … Wahai Yang Maha Terpuji … Wahai Maha Pencipta-Tanpa-Pola … Wahai Yang Mengembalikan Hidup ke Mati dan Mati ke Hidup …  Wahai Yang Penuh kasih … Wahai Yang Penuh Cinta … Cukupkan aku dengan sesuatu yang halal dan hindarkan dari yang haram; cukupkan aku dengan ketaatan kepada-Mu dan jauhkan aku dari maksiat kepada-Mu; cukupkan aku dengan kebaikan-Mu ketimbang denganselain-Mu.

Apakah versi saduran ini juga bisa disebut ma’tsur? Ya! Ma’tsur ma’nan. Ma’tsur maknawi. Secara substansi, doa itu adalah ajaran Rasulullah.

Kita bisa mewiridkan doa itu untuk konteks kita masing-masing. Ketika sedang berutang, melunasi cicilan rumah, mobil, motor, menabung untuk menikah, atau mengharap suatu kebutuhan. Sebagai individu, untuk kepentingan pribadi; sebagai kepala rumah tangga, untuk kepentingan rumah tangga; sebagai pimpinan perusahaan, untuk kepentingan perusahaan, bahkan mungkin presiden perlu mewiridkan doa itu untuk kepentingan negara. Agar utang-utang negara bisa dilunasi dan tak lagi dililit utang. Ini serius.

Saya baru tahu, ternyata doa tersebut merupakan wirid favorit Imam al-Ghazali. Di pengantar kitab Jawahir al-Quran karya sang Imam, editor kitab itu menulis, Imam al-Ghazali pernah mengatakan bahwa siapa yang membaca doa itu seusai melaksanakan shalat Jumat—dan melakukannya secara rutin—Tuhan akan mencukupi kebutuhannya dan memberinya rezeki secara tak terduga.

Tahulah saya kenapa imam shalat Jumat di masjid dekat kantor di bilangan Kemang Timur selalu membaca permohonan (versi “saduran”) di atas pada sesi doa—mungkin juga di masjid lain tempat Anda menjalankan ibadah mingguan itu.

Doa dan wirid adalah pendukung dari sisi spiritual untuk usaha kita menjalani dan menyelesaikan permasalahan hidup—selain sisi rasional, tindakan nyata. Juga penopang dari sisi psikologis. Sebab, keberhasilan dan kegagalan dalam hidup kerap berdampak pada aspek psikologis. Doa atau wirid adalah sebuah pengakuan di awal bahwa Tuhan Mahakuasa; berkuasa mewujudkan keinginan Anda dan berkuasa pula tak mewujudkan keinginan Anda—orang bijak mengatakan, Tuhan memberi apa yang baik untuk Anda, bukan apa yang baik menurut Anda. Pengakuan semacam inilah yang menjadikan spiritual dan psikologis kita stabil, apa pun  yang terjadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s