Para Sufi Mengendalikan Emosi


Barangkali, karena menyaksikan perlakuan orang-orang musyrik yang dianggap sudah keterlaluan, para sahabat meminta Rasulullah berdoa agar mereka diazab saja.

“Aku diutus sebagai rahmat, bukan sebagai azab,” jawab Rasulullah (HR. Muslim).

Ibrahim ibn Adham pernah ditanya perihal yang paling membahagiakannya.

“Ada dua,” jawab sang sufi. “Pertama, saat suatu ketika aku sedang duduk-duduk, seseorang mendekatiku lalu tiba-tiba mengencingiku. Kedua, saat suatu ketika—sama—aku sedang duduk-duduk, seseorang menghampiriku kemudian tiba-tiba menamparku.”

Namun, Ibrahim ibn Adham bergeming. Ia justru sangat bahagia: mampu menahan dan mengendalikan emosi atas perlakuan yang begitu merendahkan dan menghinakan.

Seorang sufi sedang berwudu. Ia tertegun saat seusai bersuci tahu mushaf Al-Quran miliknya raib. Diketahui, seorang perempuan mengambilnya. Si sufi segera mengejar perempuan tersebut.

“Tenang saja, Ukhti,” kata sang sufi yang melihat perempuan itu terkejut dan salah tingkah. “Aku Ma’ruf al-Karkhi.”

“Maafkan aku, Tuan,” kata si perempuan dengan tertunduk.

“Tidak apa-apa. Kau punya anak yang bisa membaca?”

“Tidak.”

“Atau suami?”

“Tidak juga.”

Ma’ruf al-Karkhi terdiam sebentar, lalu berkata, “Kalau begitu, tolong kembalikan mushaf itu.” Sebagai gantinya, ia memberikan yang dibutuhkan perempuan tersebut.

Cerita-cerita di atas bisa kita temukan di bab al-khulq (akhlak) di kitab al-Risalah al-Qusyairiyyah fi ‘Ilm al-Tasawwuf karya Imam al-Qusyairi.

Tasawuf adalah akhlak: berperilaku mulia kepada Tuhan dan juga kepada segenap ciptaan; taat dan bersikap baik kepada sang Khalik lalu memanifestasikan ketaatan itu dengan memperlakukan secara baik setiap makhluk. Dan derajat akhlak seseorang dapat diukur dari tingkat kemampuannya mengendalikan emosi. Sebab itu, tidak istimewa bila seseorang berakhlak mulia dan bersikap baik saat suasana jiwa baik-baik saja, ketika keadaan mendukung semua itu.

Karenanya, Imam al-Qusyairi menempatkan al-Khulq di makam atau tingkatan cukup tinggi—33 dari 49—di antara makam-makam (maqamat) yang mesti dilewati oleh seorang salik dalam menempuh jalan panjang spiritual.

Ali ibn Abi Thalib memiliki budak laki-laki yang beranjak dewasa. Suatu hari, Ali memanggil budak itu, namun tak ditanggapi. Dua kali, tiga kali, si budak diam saja. Ali kemudian beranjak menghampiri tempat si budak dan melihat si budak ternyata sedang enak-enakan berbaring.

“Kau tak mendengar panggilanku?” tanya Ali.

“Aku mendengar,” jawab si budak.

“Lalu kenapa kau tak segera datang?”

“Aku tahu engkau tidak akan menghukumku meski aku malas-malasan menanggapi panggilanmu.”

Ali terdiam sebentar.

“Baik, baik,” kata Ali. “Kau bebas. Kau manusia merdeka sekarang.”

One thought on “Para Sufi Mengendalikan Emosi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s