Amsal-Amsal Rumi


Akulah laron. Rayap yang berubah bersayap karena merindukan cahaya, berhasrat terbang sekadar untuk musnah dan fana bersamanya.

Atau barangkali Anda pernah mendengar makna serupa namun dalam ungkapan berbeda. Tentang laron dan cahaya. Gairah untuk menyatu bersama kekasih. Rindu untuk melebur bersamanya. Hasrat kuat yang tak kuasa dielakkan meski tahu itu akan menyakitkan.

Entah kapan saya pernah mendengar amsal semacam itu, siapa yang menggubahnya, dan dalam konteks apa, sampai kemudian saya menyupervisi penerjemahan Fihi Ma Fihi karya Jalaluddin Rumi dari versi bahasa Arab.

Dalam Fihi Ma Fihi, Maulana mengatakan, akal adalah entitas yang senantiasa bergerak, tak pernah diam, siang dan malam, untuk berpikir keras dan bersungguh-sungguh memahami Tuhan secara menyeluruh—meski Tuhan takkan pernah bisa dipahami secara demikian. Akal adalah laron dan Sang Kekasih adalah api lilin. Laron akan terbakar dan mati jika mendekatkan dirinya ke api lilin. Karakter laron adalah meski ia akan terbakar dan menanggung deritanya, ia tak bisa menjauhkan diri dari api lilin.

Jika ada spesies sejenis laron yang tak bisa menjauhkan diri dari api lilin dan ia meleburkan dirinya ke lilin itu, saat itulah ia menjadi lilin. Jika  laron mendekatkan dirinya ke lilin dan tak terbakar, ia takkan menjadi lilin.

Begitulah … Yang merasa nyaman jauh dari Tuhan dan tak mau bersungguh-sungguh untuk ke hadirat-Nya, ia bukan manusia. Saat ia memahami Tuhan, yang ia pahami bukanlah Tuhan yang sesungguhnya. Begitulah … Manusia sejati adalah yang tak berhenti berpikir. Senantiasa mengelilingi cahaya keagungan Tuhan. Terus-menerus, tak pernah diam.

Dan Tuhan adalah Ia yang membakar manusia, membuatnya tiada. Ia takkan pernah dijangkau akal.

Memang, yang cemerlang dari Rumi adalah ia andal membuat amsal-amsal genial. Ia menjelaskan tema mendalam dengan perumpamaan yang menjadikan seorang awam pun paham.

Seperti yang Maulana paparkan di bab lain: ruh manusia mampu menyingkap segala yang gaib seperti air bening yang menampakkan segala sesuatu di dasarnya—batu, lumpur, dan lain-lain—dan mencerminkan segala hal di atasnya. Ini sesuatu yang alami. Tak membutuhkan terapi atau pengajaran. Saat air itu tercampur debu atau warna-warna lain maka sifat khas tersebut akan hilang dan terlupakan.

Maka, Tuhan mengutus para nabi dan para wali: ibarat lautan luas dan jernih yang membersihkan air-air yang mengalir menujunya dengan segala kekotoran dan warna-warninya.

Amsal lain dari Rumi adalah refleksi kisah Musa yang berhasrat melihat Tuhan secara kasatmata, dan Tuhan membalas bahwa ia takkan mampu melihat-Nya.

Kaulihat matahari yang sangat jauh itu, kata Rumi. Kita berjalan di bawah pancaran terang sinarnya. Karenanya kita melihat dan mampu membedakan yang baik dan yang buruk. Kita memesamkan tubuh dengan kehangatan sinarnya. Pohon-pohon dan kebun-kebun berbuah. Buah-buahan yang mulanya hijau, asam, dan pahit menjadi matang dan manis. Matahari menebar begitu banyak manfaat. Andai jaraknya didekatkan, ia takkan memberi manfaat apa pun. Justru alam dan seluruh makhuk akan terbakar, binasa tak tersisa apa-apa.

Jika keindahan Tuhan ditampakkan tanpa hijab, kita takkan sanggup menanggung pesonanya, tak bisa menikmati daya pikatnya. Sebab hijab itulah kita mendapatkan kebaikan dan manfaat. Tuhan menciptakan hijab-hijab yang meyelubungi diri-Nya untuk tujuan baik.

Saat Tuhan menampakkan diri dengan selubung kepada gunung, gunung itu berubah dipenuhi pepohonan, bunga-bunga, dan hijauan-hijauan. Saat Ia menampakan diri tanpa selubung, gunung itu hancur lebur. Ketika Tuhannya menampakkan diri kepada gunung, gunung itu hancur berkeping-keping (Al-A’raf: 143).

Masih banyak amsal-amsal lain dalam mahakarya ini.

Inilah karya yang mendedahkan sosok Rumi dalam narasi, bukan Rumi yang membungkus diri dalam puisi. Darinya, saya tahu Maulana Rumi ini ternyata punya selera guyon juga. Paling tidak, ada ketawa-ketiwi dalam kajiannya bersama para muridnya.

“Ada orang yang sangat kurus, lemah, dan jelek seperti burung emprit,” kisah Rumi. “Sangat jelek. Saking jeleknya, orang lain yang juga jelek pun akan memandangnya jelek, lalu bersyukur kepada Tuhan, meski sebelumnya ia mengeluhkan rupanya yang jelek.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s