Banjir dalam Berbagai Sudut Pandang


Di Twitter, aktivis penganjur dinar-dirham bilang, banjir di Jakarta ini sebab benih yang bertahun-tahun ditanam. Benih itu namanya riba. Bagi aktivis amar makruf nahyi mungkar, banjir dan musibah lain bisa jadi karena maksiat yang merebak.

Bisa jadi, menurut aktivis khilafah, musibah-musibah di sini terjadi karena sistem haram demokrasi, sebab khilafah yang tak ditegakkan. Sementara, politikus barangkali akan bilang, banjir itu sebab yang jadi gubernur bukan dari partainya.

Bagi aktivis lingkungan, banjir ini barangkali karena sampah. Dan bagi ahli tata ruang, barangkali karena tata ruang kota yang amburadul.

Saat saya bilang bahwa analisis orang-orang pada masalah yang sama akan berbeda-beda hasilnya sesuai dengan aktivisme dan konsentrasi yang digeluti masing-masing, seseorang me-reply dengan sarkastis, “Kata tukang bakso, banjir ini sebab harga daging naik.” Yang lain menulis, “Kata tukang aer sih sebab aer luber.”

Ya, sesuai dengan aktivisme dan konsentrasi masing-masing, orang-orang menafsirkan masalah yang sama—dengan hasil tafsiran berbeda-beda—untuk menguatkan keyakinan kebenaran ideologi dan pemikiran yang mereka junjung dan mereka perjuangkan. Ada yang masuk akal, ada yang dangkal, ada pula yang janggal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s