Saudara-Saudara Kita


Waktu itu, di Shiffin, dua pasukan Islam berhadap-hadapan. Bersiap saling serang.  Di kedua pasukan itu ada sahabat-sahabat Nabi. Di satu pihak ada Ali ibn Abi Thalib, putra-putranya, dan para pendukungnya. Bergabung di dalamnya Ammar ibn Yassir, generasi perintis dalam sejarah perjuangan Islam.

Di pihak lain ada Amr ibn Ash dan putranya, Abdullah ibn Amr, yang terkenal banyak menuliskan hadis Nabi. Di tampuk kepemimpinan ada Mu’awiyah ibn Abi Sufyan, yang menurut kabar termasuk salah seorang penulis wahyu.

Seorang pengikut Ali kebingungan. Ia tidak tahu bagaimana harus menyebut orang-orang Islam di seberang sana.

“Apakah mereka orang-orang kafir?” tanyanya kepada Ali.

“Tidak,” jawab Ali. “Kami dan mereka dahulu bersama-sama memerangi orang-orang kafir.”

“Kalau begitu mereka orang-orang munafik.”

“Tidak juga. Orang munafik sedikit sekali berzikir.”

Ali hendak mengatakan bahwa mereka orang Islam juga. Mereka mengerjakan salat, berzikir, berdoa, dan lain-lain.

“Lalu, bagaimana kita menyebut mereka?” orang itu bertanya lagi.

“Mereka saudara-saudara kita yang berbeda paham dengan kita,” ujar Ali, salah seorang Khalifah Rasyidin yang dikenal kefasihan bicaranya dan ketinggian ilmunya itu. Ucapannya menghilangkan kebingungan dan menghentikan fanatisme pengikutnya.

Saya merasa perlu menyalin tulisan dari Reformasi Sufistik karya Jalaluddin Rakhmat—buku yang ditulis lima belas tahun lalu itu—saat ini ketika kita melihat sebagian umat muslim menjadi pengungsi di negeri sendiri oleh ulah sebagian umat muslim lain; kala orang yang dianggap tokoh dan ulama mendukung hal itu; saat pemimpin partai ikut menyudutkan mereka demi meraih simpati dan demi kepentingan partainya. Saat saudara-saudara seiman itu barangkali dianggap telah di luar Islam hanya karena perbedaan paham dan aliran.

Kala kita memerlukan pemimpin Islam yang dengan lapang dada menyebut orang-orang Islam yang berbeda paham dan aliran, “Mereka saudara-saudara kita yang berbeda paham dengan kita.” Dalam kalimat itu tergambar kebenaran, kecintaan, dan persaudaraan. Bukankah ketiganya tonggak-tonggak utama ajaran Islam?!

2 thoughts on “Saudara-Saudara Kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s