Perselingkuhan Ideologi dan Kekuasaan


Pagi itu, seusai prosesi shalat Idul Adha, Khalid al-Qasri mengeksekusi Ja’ad atas perintah Khalifah Hisyam ibn Abdu Malik (Dinasti Bani Umayah). Sebelumnya, di akhir khutbah Id, Gubernur Mesir itu menyatakan, “Sembelihlah hewan-hewan kurban. Semoga Allah menerima kurban kalian. Sementara, aku akan menyembelih Ja’ad ibn Dirham.”

Ja’ad ibn Dirham dibunuh sebab memunculkan pemikiran baru. Ia dianggap membuat bidah. Ia berpendapat Al-Quran adalah makhluk; Al-Quran adalah jadid, muncul dari ketiadaan.  Baginya, jika Al-Quran bukan makhluk, jika kalam Allah itu qadim, ada tanpa mula, tak muncul dari ketiadaan, itu sama dengan Allah sendiri—saat diyakini bahwa tidak ada yang seperti Allah. Tanzih: saat Tuhan mesti disucikan dari keserupaan dengan makhluk dan sifat manusia.

Bagi Ja’ad, selain Allah adalah makhluk, semua yang ada selain Allah adalah ciptaan Allah, termasuk kalam Allah, Al-Quran.

Namun, eksekusi hanya membunuh tubuh. Sepuluh tahun kemudian, pada masa-masa akhir Dinasti Umayah, muncul Jahm ibn Shafwan yang menguatkan pemikiran kemakhlukan Al-Quran, meski akhirnya murid Ja’ad ibn Dirham itu juga dipenggal.

Ja’ad ibn Dirham dan Jahm ibn Shafwan adalah korban pertama dan kedua dari apa yang dicatat sejarah sebagai fitnah, ujian, bencana kemakhlukan Al-Quran.

Dinasti berganti, khalifah datang dan pergi, tapi pemikiran tak mati. Bahkan, pendapat kemakhlukan Al-Quran semakin menancapkan pengaruhnya di lingkaran kekuasaan. Tersebutlah sosok bernama Basyar ibn Ghayyats yang berhasil meyakinkan Khalifah al-Ma’mun (Dinasti Abasiyyah) dengan pemikiran kemakhlukan Al-Quran.

Pada mulanya al-Ma’mun tidak memaksakan masyarakat untuk mengikuti pendapat kemakhlukan Al-Quran sampai kemudian orang-orang di sekelilingnya berhasil meyakinkannya dan membujuknya agar pendapat itu diresmikan pemerintah. Hal pertama yang dilakukan adalah menyampaikan pendapat itu kepada para gubernur, lalu para gubernur mensosialisasikannya kepada para tokoh dan para ulama: hakim, ahli hadis, ahli fikih. Namun, pada akhirnya bukan saja sosialisasi, melainkan juga pemaksaan disertai intimidasi.

Dan keadaan pun berbalik. Sebuah pendapat yang dulu dijadikan alasan untuk menindas pengikutnya kini menjadi alasan untuk menganiaya yang tak mau mengikutinya.

Para ahli hadis dan ahli fikih didatangi utusan al-Ma’mun untuk dimintai tanggapan. Cukup bagi mereka mengatakan “ya” dan tanpa mendebat bahwa Al-Quran adalah makhluk, mereka selamat. Mereka mengatakan “ya”, lalu nama dan pernyataan mereka dicatat untuk dilaporkan kepada Khalifah. Khalifah cukup senang dengan itu dan barangkali ia tidak mau tahu lebih lanjut jika mereka mengakui pendapat itu hanya di mulut saja, terpaksa demi menghindari penjara dan siksa.

Di Baghdad, empat orang secara terang-terangan menolak pendapat kemakhlukan Al-Quran, lalu ditangkap: al-Hasan ibn Hammadah, Ubaidillah ibn ‘Amr al-Qawariri, Muhammad ibn Nuh, dan terakhir adalah Ahmad ibn Hanbal, salah seorang pendiri mazhab fikih (Mazhab Hanbali). Mereka diikat di tiang besi. Keesokan harinya, mereka disiksa. Al-Hasan ibn Hammadah tak kuat menanggung siksaan dan terpaksa mengakui Al-Quran adalah makhluk. Ia pun dibebaskan. Tiga orang bertahan hari itu. Hari berikutnya giliran al-Qawariri yang tak kuat didera. Ia menyerah, kemudian dibebaskan.

Ahmad ibn Hanbal dan Muhammad ibn Nuh bertahan. Dikurung berhari-hari dalam keadaan dibelenggu, sampai Khalifah al-Ma’mun memerintahkan agar mereka dihadapkan kepadanya. Namun, mereka masih dalam perjalanan saat dikabarkan ternyata al-Ma’mun telah meninggal dunia.

Sebelum meninggal, al-Ma’mun berwasiat kepada al-Mu’tashim, sang adik sekaligus penerus kekhalifahan, agar ia memegang teguh pendapat itu. Dan keadaan semakin buruk bagi Imam Ahmad.

Al-Mu’tashim mendatangkan para ahli untuk mendebat argumentasi Imam Ahmad dan melemahkan keyakinannya, namun tak berhasil.

“Amirul Mukminin, bunuh saja dia!” Orang-orang semakin kesal. “Kami siap menanggung dosa!”

Hari itu, al-Mu’tashim hanya menampar Imam Ahmad hingga Imam Ahmad tak sadarkan diri.

Pada hari berikutnya, Imam Ahmad dibawa ke sebuah ruangan. Para pegawai kerajaan berkumpul di sana.

“Celaka, kau, Ahmad! Ikutilah pendapatku.” Al-Mu’tashim mungkin tahu, apa pun yang ia katakan takkan mengubah pendirian Imam Ahmad. Sepertinya ia hanya ingin memastikan Imam Ahmad benar-benar menolak pendapat kemakhlukan Al-Quran sehingga ia bisa segera disiksa.

Beberapa algojo bersiap. “Cambuk yang kuat!” teriak al-Mu’tashim kepada salah seorang algojo. “Jika tidak, Tuhan akan memotong tanganmu.”

Setelah sembilan belas cambukan mendera tubuh Imam Ahmad, al-Mu’tashim mendekatinya dan berkata, “Apa yang sebenarnya membuatmu rela dibunuh?”

Beberapa orang berteriak agar Imam Ahmad segera dieksekusi saja.

“Celaka, kau, Ahmad! Katakan kepadaku apa pendapatmu tentang Al-Quran?”

“Amirul Mukminin, beri aku dalil satu saja, dari Al-Quran atau hadis, sehingga aku dapat mempercayai pendapatmu.”

Bukan jawaban yang diinginkan al-Mu’tashim. Para algojo bergantian mencambuki Imam Ahmad.

“Cambuk kuat-kuat! Jika tidak, Tuhan akan memotong tangan kalian!”

Imam Ahmad kembali pingsan.

Sementara itu, berita penyiksaan Imam Ahmad telah menyebar dan itu menuai simpati masyarakat. Puncaknya, mereka berunjuk rasa menuntut pembebasan Imam Ahmad. Rusuh. Khawatir kerusuhan itu membesar dan meluas, Imam Ahmad dibebaskan dengan tubuh penuh luka—setelah kurang-lebih dua setengah tahun ditahan, disiksa.

Khalifah berikutnya, al-Watsiq, mewarisi paham kemakhlukan Al-Quran—selain mewarisi pergolakan dan pemberontakan kepada pemerintah  yang muncul sejak masa ayahnya, al-Mu’tashim. Atas pertimbangan itu, al-Watsiq berpikir terlalu berisiko jika harus menangkap [lagi] Imam Ahmad untuk kasus yang sama. Ia hanya mencekal Imam Ahmad agar tidak mengajar hadis. Imam Ahmad lalu memilih hidup bersembunyi dari satu tempat ke tempat lain.

Pada masa al-Watsiq inilah muncul seorang ulama-pemberontak bernama Ahmad ibn Nashar al-Khuza’i. Ia mengorganisasi pemberontakan di berbagai wilayah. Cukup menggoyang pemerintahan. Hanya saja, sebuah kesalahan mengakibatkan al-Khuza’i berhasil dilumpuhkan. Ia ditangkap. Al-Watsiq mengadilinya sendiri.

“Aku tidak ingin menanyakan pemberontakan yang kaudalangi,” kata al-Watsiq. “Aku hanya ingin tahu pendapatmu tentang Al-Quran.”

Al-Khuza’i menjawab Al-Quran adalah kalam Allah dan ia bukan makhluk. Bukan jawaban yang diharapkan. Al-Watsiq kemudian memenggal al-Khuza’i.

Al-Watsiq khalifah terakhir yang menjadikan Al-Quran adalah makhluk sebagai pendapat resmi negara. Khalifah berikutnya, al-Mutawakkil (saudara al-Watsiq), mengakhiri perdebatan kemakhlukan Al-Quran yang  telah berlangsung bertahun-tahun dan memakan banyak korban nyawa itu. Ia ingin menghapus fitnah, musibah itu. Ia membuat aturan resmi: Tak seorang pun boleh membicarakan status Al-Quran. Mayoritas senang dengan kepemimpinannya. Para ulama yang pada era-era sebelumnya hidup dalam tekanan, kini bebas mengajar. Al-Mutawakkil dianggap khalifah reformis. Ia khalifah terbesar Dinasti Abasiyah.

Tapi, al-Mutawakil bukan tanpa cela. Ia tak menyukai kalangan Ahlul Bait. Bersikap sangat keras terhadap keturunan dan pengikut sahabat Ali. Ia membongkar bangunan makam Husain, putra Ali ibn Abi Thalib, agar tak ada seorang pun menziarahinya.

Suatu saat, tersiar kabar bahwa Imam Ahmad menyembunyikan seorang Ahlul Bait. Al-Mutawakil segera memerintahkan petugas keamanan mengepung rumah Imam Ahmad dan menangkap Ahlul Bait tersebut. Meski akhirnya dipastikan kabar itu tak terbukti dan diketahui hanya konspirasi kalangan yang sakit hati kepada Imam Ahmad, ingin membalas dendam dengan menjatuhkannya di hadapan khalifah.

Saya sadur kisah dua belas abad yang lalu di atas dari buku Biografi Imam Ahmad karya Dr. Tariq Suwaidan (Zaman, 2012)—dengan tambahan dari berbagai sumber—sekadar untuk mengikat ingatan dan menegaskan bahwa masa lalu selalu aktual, sejarah senantiasa berulang dengan cerita berbeda: saat perbedaan aliran harus diakhiri dengan pengusiran, ketika perbedaan pandangan mesti disudahi dengan eksekusi, saat ada golongan yang puas ketika yang di luar golongannya ditindas, dan kala kekuasaan dimanfaatkan dan mendukung semua itu.

Lalu, kita (jika Anda berkenan saya wakili) sadar, masa lalu sudah jauh meninggalkan kita dan kita mewarisi kebodohannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s